Mendengar tanpa Melihat, Percayakah?

 














Malam ini aku punya satu kisah menarik. Kalian bebas untuk tidak mempercayai ceritaku ini begitu saja. Walau demikian, ada baiknya jangan langsung menghina. Tetap respek. Barangkali kita kelak malah mempercayai kisah yang awalnya kita skeptis akan kebenarannya. Bagaimanapun ada Tuhan (atau satu kekuatan misterius) yang mampu membolak-balikan hati setiap manusia. 

Kita mulai saja, yah. Kisahku ini bersumber dari sebuah sudut antah berantah di dunia maya. Ada seorang netizen  (yang kita sebut saja AP) yang membagikan pengalamannya yang mungkin tak semua orang bakal langsung percaya. AP mengaku bahwa dirinya pernah bertemu dengan perempuan yang menurut taksirannya berusia sekitar 25 tahun. Muka si perempuan persis dengan Bung Karno. Cukup berwibawa juga. Menurut pengakuan masyarakat sekitar di Tampaksiring, Bali, perempuan itu merupakan anak Bung Karno dari seorang perempuan Bali yang Bung Karno temui saat berkunjung di Bali sekitar tahun 1950-an. Sayangnya AP tak bisa memotret perempuan tersebut. Di tahun 1981, fotografi itu merupakan hobi mewah. Telepon genggam juga merupakan barang tersier. 

Kalau aku menceritakan seperti itu, apa tanggapan kalian? Kisah itu aku tulis ulang dari komentar seorang netizen di Youtube. Aku sengaja tidak mencantumkan screenshoot karena sudah aku tulis ulang. Tapi, percayalah, aku tidak berbohong. Aku pun tak seratus persen percaya dengan cerita AP tersebut. 

Aku maklum saja. Jaman makin lama makin canggih. Ada sebuah teknologi yang bernama ponsel berkamera. Sepertinya hampir setiap orang memiliki smartphone. Anak kecil saja sudah bermain social media. Apalagi muncul satu tren baru: ghibah. Apa itu ghibah? Itu sama saja dengan menggosip. Suatu tren yang mengarah ke fitnah sebetulnya. Karena itulah, aku bisa memaklumi kenapa kalian bisa meragukan kisah yang kutulis barusan. 

Ah, iya, aku hampir lupa dengan anekdot "No pict is hoax". Padahal belum tentu segala peristiwa harus memiliki bukti foto. Kalau misalnya aku bilang kotoranku mendadak mengeluarkan emas, pasti tak percaya. Padahal buang hajat adalah salah satu dari sekian peristiwa yang sebetulnya gadget harus disingkirkan terlebih dahulu (dengan alasan ponsel bisa kemasukan air). Tak lupa, saat beribadah, sebetulnya kita harus mengharamkan penggunaan ponsel. Sampai di sini, aku merasa kita sudah mendewakan teknologi hingga kita merasa bisa menemukan kebenaran di balik kecanggihan teknologi. 

Memang susah hidup di jaman sekarang. Untuk mempercayai sebuah kisah saja, pertimbangannya itu banyak sekali. Salah mempercayai, kita bisa menjadi korban fitnah atau korban hoax. Bisa juga cerita yang sampai ke pikiran kita itu sengaja dibuat-buat untuk menutupi cerita yang sebenarnya. Intinya, memang tidak mudah untuk mendengarkan tanpa melihat.

Kita bahkan terlalu sering menjadi korban sebuah cerita yang sebetulnya merugikan seseorang. Banyak, kan, yang seperti itu. Karena mendengarkan sesuatu yang sebetulnya belum tentu benar, kita ikut-ikutan menghakimi seseorang begini-lah, begitu-lah. Karena yang seperti itulah, tak sedikit orang mendapatkan stigma negatif atau jahat. Padahal bisa saja orang itu tidak sejahat yang kita kira. 

Kadang aku suka bingung kenapa fenomena itu bisa terjadi. Benarkah karena teknologi? Padahal kebiasaan menggosip sudah eksis sejak awal penciptaan. Sejak Kaisar Nero membakar Roma, manusia sudah hobi berghibah. Tapi kenapa bisa terjadi hal-hal yang kusebutkan barusan--sehingga membuat kita harus berhati-hati dalam mempercayai? Apakah ada yang tahu kenapa? Simpan saja jawabannya. Sebab aku tak membutuhkan jawaban kalian sebenarnya. 

Well, anggap saja ini sebuah kesimpulan. Aku sudahi saja tulisan aku ini. Yang bisa kusimpulkan, untuk mendengarkan tanpa melihat, butuh keberanian luar biasa. Believing is seeing--is such very risky. Dan, ada banyak cerita seperti itu yang aku alami beberapa tahun terakhir ini. Kalau tak ada bukti foto, aku yakin kalian pasti tak seratus persen percaya. 

Thank to Kristoforus Bramandias dan beberapa teman, yang sudah mengajarkan aku untuk berani mempercayai walau tanpa bukti foto. Mendengarkan tanpa melihat itu memang sulit. Sangat beresiko. Namun, kadang kita pasti akan menemukan saat di mana kita harus bisa mempercayai tanpa melihat. Itulah yang beberapa kali aku alami. Coba mempercayai dulu dengan beberapa alasan. 

Sebagai penutup, aku mau membagikan pengalaman aku saat diriku masih berusia di bawah enam tahun. Ada anekdot yang tengah viral, yang berbunyi "Aku tidak ingat kalau aku pernah dilahirkan. Yang aku ingat, aku tiba-tiba nge-spawn di dapur di umur tiga atau empat". Ah, aku pun sama. 

Kalau coba mengingat-ingat lagi, pengalaman masa balita yang bisa kuingat itu saat Mendiang Mami tengah mengandung adik aku. Aku ingat pernah menemani Mendiang untuk check-up ke Rumah Sakit Harapan Kita yang berlokasi di kawasan Jakarta Barat. Atau, saat aku berada di mobil Volkswagen Combi milik Om De. Aku tengah dalam perjalanan menuju TK Strada Dewi Sartika. Aku, Om De, dan beberapa anak tengah asyik menebak-nebak bentuk awan di langit. Atau, saat beberapa kakak kelas menawarkan nama untuk adik aku yang akan lahir. Rasa-rasanya seperti baru kemarin saja kejadian-kejadian tersebut. 

Oh iya, kalau aku menceritakan pengalaman aku saat masih balita seperti yang berada di paragraf sebelumnya, percayakah kalian? Aku sendiri juga bingung kenapa aku bisa mengingat dengan jelas satu persatu segala kenangan aku saat aku masih balita. Aku bahkan ingat aku pernah naksir teman sekelas saat masih TK dulu. Aku ingat punya teman bernama Antonius, dan bersama-sama dia, aku hobi membicarakan satu telenovela. 

Anyway, kapan-kapan aku bercerita tentang segala pengalaman tersebut, yah. Oh iya, sekali lagi, ini hanya semacam self note. Sekadar catatan untuk aku pribadi agar berani mempercayai apa yang menurut aku layak dipercayai. Believing first, then seeing. Terkadang itu bukanlah hal buruk untuk dilakukan. 











Comments

Place Your Ads Here