Katanya, Bola itu Bundar














Ada yang bilang, hidup itu seperti sebuah bola sepak. Kadang bisa di atas, kadang bisa di bawah. Sama seperti gambar di atas. 

Gambar di atas merupakan gambar Zlatan Ibrahimovic bersama dengan Davy Klaassen. Keduanya pernah saling bertemu sebelum nama Davy Klaassen naik sebagai seorang pesepakbola (yang bahkan sampai dilirik oleh Manchester United). Dulu, di awal 2000-an, nama Zlatan Ibrahimovic tengah naik ke permukaan. Kuingat, Zlatan bahkan masuk ke starting line-up Swedia di Piala Dunia 2002. Zlatan sempat bermain untuk Ajax Amsterdam di antara tahun 2001-2004. Saat itulah, gambar di atas tersebut terjadi. Saat itu, Davy Klaassen masih seorang bocah di sebuah sekolah sepak bola, yang mengidolakan Zlatan Ibrahimovic. 

Kisah yang sama berlaku pula untuk Kylian Mbappe, striker paling ganas sekarang ini. Dulu, saat masih kecil, Kylian pernah bertemu dengan Cristiano Ronaldo (alias CR7) dengan kapasitasnya hanya sebagai seorang bocah pengejar mimpi. Di kemudian hari, Kylian bahkan bisa berduel dengan CR7 saat Paris Saint Germain berjumpa dengan Real Madrid di Champion League.

Atau, koneksi rahasia yang sangat menakjubkan antara Harry Kane dan David Beckham. Harry Kane merupakan salah seorang murid di sekolah sepak bola yang didirikan David Beckham di Greenwich. Bagi Harry Kane, itu merupakan satu pengalaman yang luar biasa. Saking luar biasa, seperti inilah jadinya seorang Harry Kane, yang malah menjadi top scorer Piala Dunia 2018 di Rusia. Menariknya lagi, sampai sejauh ini belum ada konfirmasi dari David Beckham apakah benar dia pernah bertemu dengan Harry Kane. Itu hal wajar sebetulnya. Dengan Harry Kane yang masih seorang bocah berusia sebelas tahun, mana David Beckham ingat satu persatu wajah anak-anak yang pernah mendaftar. Beckham sendiri pun pernah bertemu dengan salah satu legenda Manchester United, Bobby Charlton saat dia belum menjadi pesepakbola papan atas. 

Mendadak aku jadi teringat dengan kasus antara Mauro Icardi dan Maxi Lopez. Mauro yang dulu seorang bocah di La Masia, sekarang malah menikung Maxi dalam hal perempuan. Mauro Icardi yang bukan apa-apa, sekarang karirnya berada di atas seorang Maxi Lopez yang hanya bermain di Serie C Italia. Padahal dulunya Maxi Lopez sangat disegani saat masih bermain untuk FC Barcelona. 

Daftar ini masih panjang sebetulnya. Capek juga aku menuliskan satu persatu. Cerita-cerita itu bahkan sudah sering aku jumpai sejak aku masih bersekolah. Intinya, benang merahnya adalah bola itu bundar. Jangan pernah anggap remeh setiap kejadian yang pernah terjadi dalam hidup kita. Sama seperti beberapa pesepakbola di atas. Karena mereka tidak menganggap remeh, mereka bisa menjadi seperti sekarang ini. Pertemuan dengan idolanya sangat membekas di hati mereka sampai mereka berhasil menyamai, yang bahkan tak jarang ada yang melebihi malah. 
















Comments

Place Your Ads Here