A Very Deep Condolence to SJ-182

 



















Yang satu adalah seorang pilot. Bernama Haji Afwan. Dari namanya seorang muslim. Satunya lagi itu merupakan asistennya. Kita biasa menyebut profesinya sebagai co-pilot. Nama si co-pilot adalah Diego Mamahit (yang kabarnya lulusan Unika Atmajaya).

Kabarnya, keduanya merupakan orang yang saleh. Saleh menurut kepercayaan mereka masing-masing. Sang pilot tidak pernah meninggalkan salat. Asistennya juga tak kalah religius. Konon, si co-pilot sampai menukar jadwal demi bisa beribadah minggu keesokan harinya.

Apakah kabar itu benar? Ah, biarkan itu menjadi urusan keduanya kepada Sang Khalik. Oh iya, keduanya mengajarkan kepada kita,--tidak, tidak,... aku salah. 

Kejadian hilangnya pesawat Sriwijaya Air itu mengajarkan kita bahwa betapa pentingnya kata-kata "Kabarin kalau sudah sampai". Karena, ada kalanya, ada suatu masa bahwa kita (mungkin) tidak  akan pernah sampai ke tempat tujuan. Hargai juga mereka yang sudah begitu rewelnya menanyakan kabar kita. Begitu orang itu hilang, kita akan sangat kehilangan. 

Lantas, apa makna foto paling atas? Bukankah sudah jelas? Seringkali orang yang perhatian pada kita itu seperti seekor anjing yang mendorong kursi roda tersebut. Suka tak terlihat. Suka tak dianggap. Daripada saling iri, cobalah lebih memperhatikan ke sekeliling kita. Hitunglah berapa banyak yang benar-benar peduli ke kita. 















Comments

Place Your Ads Here