Peringatan 2 Tahun Meninggalnya Dias

  






Dias berada di D'Cost, Grand Metropolitan.







Rasa-rasanya baru kemarin Dias masih ada, dan aku masih bertemu dengan yang bersangkutan di beberapa mal yang ada di Bekasi dan Jakarta. Eh, orangnya sudah berbeda alam sekarang. Rasanya baru kemarin juga kalau ingat kejadian dua tahun lalu tersebut. 

Kalau di rumah, 22 Oktober 2018, aku tengah asyik bermain game di ponsel. Game yang kumainkan itu "Last Day on Earth". Saat itu, hujan terus menerus turun membasahi bumi. Baru kali pertama hujannya cukup awet. Sekitar enam jam lebih hujan turun. 

Besoknya, tanggal 23 Oktober 2018, Mama-nya Dias menelepon aku. Kalau tak salah, itu sekitar jam sepuluh pagi. Kaget aku saat Mama-nya bilang Dias meninggal dunia. Aku langsung merinding. Dengan tubuh yang masih bergetar, aku beritahukan teman-teman Dias yang lainnya. Selanjutnya, aku mendapatkan kabar Dias meninggal dunia karena serangan jantung. Yah, wajar saja, badannya segendut itu. 

...

Well, kalau dipikir-pikir, aku jadi kasihan dengan Dias. Kenapa harus berakhir seperti itu? Sebelum meninggal dunia, mungkin tak banyak yang tahu, dompet Dias kecopetan empat bulan sebelumnya. Entah kenapa aku tak pernah lupa tanggalnya: 6 Juni 2018. Lewat temannya yang lain, aku diberitahukan bahwa dompet Dias hilang di dalam komplek rumahnya. Kasihan amat, yah? Belum lagi, setahun sebelumnya, fisiknya sempat drop parah. Jari-jarinya sempat berwarna ungu.

Ah, sudahlah. Dias pasti sudah tenang di sana. Sahabatku itu memiliki banyak jasa dalam hidupku. Beberapa kali aku ditemani ke toko buku untuk inspeksi "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Dias seringkali menyumbangkan ide-ide untuk tiap tulisan-tulisanku. Beberapa cerpen yang pernah aku tulis di IMMANUEL'S NOTES itu sesungguhnya memiliki campur tangan seorang Dias. Asisten penulis yang luar biasa, Dias itu!

Tak hanya itu, seorang Dias juga sudah membukakan pikiranku. Dias mengenalkanku ke hal-hal yang sebelumnya aku tak ketahui. Ia juga mengenalkan aku ke beberapa orang luar biasa. Aku yang sebelumnya rada kudet (baca: kurang update), jadi makin bertambah wawasannya. 

Dias... damai di surga dan di bumi untuk kamu, yah! Tepat dua tahun kamu pergi ke alam sana. Terima kasih, Sobat, atas segala kebaikanmu untuk aku pribadi! 

Friend, to me, you are really a saint. You are as precious as Carlo Acutis

Terakhir, yah sudahlah, kita maafkan dan ampuni saja apa saja yang diperbuat oleh Dias jika ada perbuatan Dias yang membuat kita jengkel. Toh, Dias juga seorang manusia biasa. 











In Memoriam
KRISTOFORUS BRAMANDIAS
11 Desember 1987 - 23 Oktober 2018




Dias yang menggundul kali pertama di rumahnya yang berada di kota Bekasi.








Comments