Seminggu Nuel Lubis dengan Nasi Goreng
















Hari senin
Aku diajak oleh temanku untuk mengunjungi Loteng Cafe yang berada di dalam kawasan Kota Moderen. Aku dan dia terlibat sebuah obrolan serius sekali. Hampir terjadi deal, nih. Sayangnya, begitu pesananku datang, timbul keraguan lagi di dalam dirinya. Tahu kenapa? Penyebabnya karena pesanan kami berdua. Aku memesan Nasi Goreng Kampung, sementara dia memesan Nasi Goreng Ikan Asin. Dan, keduanya sama-sama DEP SEDEP!

Hari selasa
Temanku, Hari ingin melihat novelku yang lainnya. Maka, aku dan dia berjanji untuk bertemu di Cafe Temen yang tak jauh dari rumah. Lagian, masa aku tolak? Ditraktir ini, soalnya. Haha. Lagi-lagi aku memesan nasi goreng (sementara Hari memesan bakmi). Hari sempat bertanya-tanya kenapa aku sangat menyukai nasi goreng. Aku sendiri bingung menjawabnya. Ini sudah bawaan lahir kayaknya. Sejak kecil, aku sudah menggemari kuliner yang satu ini, yang katanya khas Indonesia (entah benar atau tidak).

Hari rabu
Aku habis menonton latihan futsal temanku, Roni--yang berlatih di Spartan Futsal. Kami berdua memiliki satu hubungan bisnis. Dari dia, stok Aloe Vera aku berasal. Sangat menyenangkan memang saat kita bisa memiliki teman yang sangat menyenangkan dan bisa diandalkan seperti Roni. Terimakasih, Bro, sudah menjadi semacam supplier untuk aku. Dan, terimakasih juga atas traktirannya. Nasi Goreng Sosis dari Giggle Box ini sangat luar biasa.

Hari kamis
Sebelum aku benar-benar sampai di rumah, aku memesan nasi goreng dulu. Jam segini memang jam di mana penjual nasi goreng sudah banyak berkeliaran. Capek selama satu petualangan di Bekasi ini sangat terbayarkan dengan ke-DEP SEDEP-an nasi goreng yang super pedas dari si bapak penjual nasi goreng yang bertopi SMA ini. Senyuman si bapak sangat memberikanku semangat yang berapi-api.

Hari jumat
Kali ini aku bawa pulang saja nasi gorengnya. Aku minta dibungkus. Soalnya, kondisinya tak memungkinkan aku untuk makan di tempat. Terlalu banyak orang yang memesan nasi goreng dari si bapak. Padahal kenikmatan makan nasi goreng dari tukang tek-tek ini datang pada saat kita memakan nasi gorengnya dalam kesendirian, yang sambil menatap langit malam dan kericuhan jalan raya khas kota besar. Aku suka merenung, aku suka flashback.

Hari sabtu
I LOVE NASI GORENG! AKU SUKA BANGET FRIED RICE! Ini sudah kali keenam lidahku ini menyentuh nasi yang dikecapi ini (walau untuk beberapa negara, nasi goreng tak diberikan kecap; hanya digoreng). Aku tak pernah bosan memakan nasi goreng. Bahkan, jika tak memakan nasi goreng, rasa-rasanya seperti mau mati saja. Aku dan nasi goreng sudah satu jiwa. Nasi goreng adalah aku, aku adalah nasi goreng. HIDUP NASI GORENG!

Hari minggu
Pulang dari pesta pernikahan seorang kerabat, Papi membawakan aku dan yang lainnya makanan. Wah, aku senang sekali. Sebab, yang dibawakan adalah nasi goreng. Nasi goreng kali ini dipersembahkan oleh Sate Khas Senayan. Oh iya, dari semua nasi goreng yang sudah kumakan selama seminggu ini, manakah yang paling enak? Aku bingung menjawabnya. Semuanya DEP SEDEP menurutku. Tapi sih, Nasi Goreng Kampung dari Loteng Cafe itulah yang menurutku sangat terbaik. Bukan hanya mengenai rasa saja, melainkan mengenai suasana saat memakan nasi gorengnya juga. Yuk, mampir ke Loteng Kafe. Letaknya tak jauh dari Mal Metropolis, Kota Moderen, Tangerang.


Comments