Kilas Balik Nuel Lubis saat Masih Menjadi Mahasiswa













Foto yang sangat memorable!








Semester 1
Ternyata ini keistimewaan menjadi seorang mahasiswa. Yippie, aku tak perlu berseragam lagi. Berangkat suka-suka kita. Haha. Tapi bukan hanya itu saja. Masih banyak hal lainnya. Yang intinya, menjadi mahasiswa itu berbeda dari menjadi pelajar biasa. Oh iya, thank for Budi, Dwi, Kevin, Nandes, or Fega. Obrolan bareng kalian di Gedung Yustinus lantai 14 sangat membekas di hati aku. Terutama Budi, ah sudahlah, Bud, kata-kata kamu itu membuatku merinding sekali. Aku kurang suka dengan topik horor, sumpah!

Semester 2
"Mahasiswa baru, yah?!" Untuk kali pertama, ada seorang mahasiswa yang menyapaku untuk berkenalan (di kelas Hukum Islam). Laki-laki sangat gagah. Tegap begitu. Dari postur, kuduga dia ini playboy. Aku iri dengan mereka yang berpenampilan seperti Alvin ini. Haha. Ternyata Alvin ini satu angkatan dengan aku. Sama-sama angkatan 2007. Lalu, sepanjang semester dua ini, dia sering membawaku masuk ke aneka dunia baru, yang sebelumnya tidak pernah kuketahui.

Semester 3
"Wel, jangan langsung balik dulu," pinta Daniel, selepas aku menyelesaikan kelas Hukum Pidana. Alvin, Daniel, dan Ucha mengajakku untuk jalan-jalan ke Ancol. Okelah kalau begitu. Tak ada salahnya juga. Aku dan  ketiga temanku ini pergi ke sana dengan menggunakan sedan Alvin. Makin aku makin mengenal ketiga temanku ini asyik juga ternyata. Daniel yang lebih sering berdiam diri ala filsuf Yunani. Ucha yang ceriwis banget, namun berisi dan sangat mengayomi. Serta, Alvin yang sering mengajukan saran-saran konyol, namun tidak keliru juga. Contohnya: saran Alvin dalam hal percintaan. Dia bilang, cewek yang kayak begitu, kita harus kayak beginilah, dan blablabla lainnya.

Semester 4
Astaga, Alvin! Kenapa kamu harus menyerah secepat ini? Baru saja aku menemukan teman yang sangat klop dengan aku, perpisahan harus datang. Ya sudahlah, Alvin, tak apa-apa. Mungkin ini yang terbaik untuk kamu. Mungkin kamu sudah tak merasakan.gairah lagi untuk belajar Hukum. Good luck, Alvin. Semoga peruntungan kamu di Aussie jauh lebih bagus. Thank juga atas segala pengalaman menariknya, terutama saat kita berdua di dalam lift bareng cewek bule. Sumpah, aku bingung harus menjawab apa. Kukira, bule tadi tidak berbicara ke kita. Haha. Iya, iya, aku percaya papa kamu itu bule. 

Semester 5
Padahal semalam aku kurang serius belajar. Di dekat rumah, ada ibu teman masa kecilku yang meninggal. Suasananya berisik banget. Eh, tapi aku mengerjakan soal-soal Hukum tentang Surat-Surat Berharga ini dengan amat lancar. Semua soalnya dalam bentuk pilihan ganda. Aku mengerjakannya bagaikan mengerjakan TTS majalah Bobo. Kurang dari lima belas menit, aku meninggalkan ruang ujian. Itupun aku menyusul Ferdi yang selesai lebih dulu.

Semester 6
Aku tiba di kampus terlalu cepat. Ujiannya mulai jam satu siang. Aku tiba di jam sebelas empat lima. Ya sudahlah, aku mampir ke Central dulu. Sebentar aku main game dan browsing dulu. Eh, ini lagunya enak juga, yah. Judul lagunya itu "Youth Beautiful Day". Ini bahasa apa, yah? Tapi, modelnya seperti cewek Jepang begitu. Lagu Jepang, yah?! Enak banget lagunya. Aku langsung terpikirkan untuk men-download versi utuh dari lagunya. Selanjutnya, tiap aku bosan atau bad mood, lagu ini yang menyemangatiku.

Semester 7
Ah, akhirnya datang juga semester ini. Ini semester terakhir aku dalam mengikuti UTS dan UAS. Sehabis itu, tak ada lagi mata kuliah yang kuambil selain skripsi. Oh iya, selepas kelas Hukum Perburuhan, aku diajak pergi oleh Dias, Dion, dan Erwin untuk berjalan-jalan ke daerah Senayan. Dari Ratu Plaza untuk melihat-lihat CD game, aku dan ketiga temanku melanjutkan petualanganku ke fX Sudirman. Gara-gara mulut emberku, aku harus merasakan perosotan fX yang super duper tinggi itu. Aku 'dipaksa' meluncur dari lantai f7 hingga lantai f1. Wow!







Comments