Kilas Balik Seorang Nuel Lubis dalam Bentuk Cerpen










SD
Kelas 1 
Huh! Apa aku seistimewa itu? Di saat teman-teman baru--yang kulihat--tengah asyik bermain, tidur siang, dan menonton kartun, aku malah sibuk belajar. Satu jam setelah pulang sekolah, wali kelasku datang. Bu Olvi datang untuk memberikan pelajaran tambahan. Entah mengapa, saat berada di rumahku, aku merasa Bu Olvi berubah menjadi sosok yang keibuan. Haha. Oh iya, aku ingin sekali bisa mengikuti tes seperti teman-temanku yang lainnya. Tidak harus di tempat dan waktu yang terpisah seperti ini.

Kelas 2
"Ninja Jiraiya, ayo beraksi!"

Aku hanya manyun saja saat tetanggaku, Eriko (yang kebetulan kakak kelasku) menghampiriku sampai ke dalam kelas. Apa-apaan sih ini, gerutuku. Tak usah sampai dibawa-bawa hingga ke sekolah, kan? Masalah sekolah, yah masalah sekolah. Masalah rumah, yah masalah rumah. Jangan dicampuradukan, dong!

Kelas 3
"Iman!" Aku kaget. Ternyata sudah ada Bu Lina di hadapan aku. Sejak kapan ya? 

"Kamu ngapain, Iman?" Bu Lina geleng-geleng kepala. Seisi kelas langsung tertuju padaku yang sedari tadi kesulitan mengeluarkan ujung dasiku ke sela-sela lubang mejaku. "Dari tadi Ibu jelasin, kamu mainin dasi? Kamu apain juga, bisa sampe nyangkut gitu dasi kamu?"

Aku tak menjawab, hanya tersipu malu. Suasana langsung pecah.

Kelas 4
Aku heran. Apakah salah jika kita sudah kelas 4 SD, masih bermain mobil-mobilan dari plastik.  Di rumah, aku masih sering memainkan koleksi mobil-mobilanku. Mulai dari VW Kodok, Mercy, Formula 1, hingga Bus. Jahat sekali Toni dan Dodo yang mengejek-ejek Luther karena Luther ketahuan tengah bermain mobil-mobilan. Aku sungguh kasihan dengan Luther. Kapan-kapan aku mau mengajak Luther main mobil-mobilan bareng, ah!

Kelas 5
"Jadi gitu kejadiannya, Isabela," Aku tersedu-sedu. Setidaknya di saat hampir seluruh teman sekelas menuduhku yang merusakan kemoceng, Isabela ini masih percaya padaku bahwa bukan aku saja yang merusakan kemoceng kelas. Biang keroknya, si Dodo itu. Ah, Isabela benar-benar seorang pendengar yang baik, walau fisiknya tidak sempurna. Dalam hati, aku masih berharap Dodo mau berbesar hati mengakui kesalahan dan mengambil alih tanggung jawab. Masa aku yang harus mengganti kemoceng kelas? 

Kelas 6
"Melati, tungguin gue," Napasku sangat terengah-engah. Melati yang sudah berlari agak jauh dariku, mendadak menghentikan larinya. Kira-kira jarak antara aku dan Melati itu setengah kilometer. Aku lalu membungkukan badan dan sedikit mengambil nafasku. Kuamati diam-diam, Melati beringsut padaku, namun belum terlalu dekat. Oh iya, Wiliam itu sungguh berbakat jadi seorang pelari. Larinya cepat sekali. Kok bisa Wiliam tidak ngos-ngosan? Dan, semoga saja nilai Olahraga di ijazah Ebtanas tidak jelek-jelek amat.






Pojok kiri bawah, itulah yang bernama Toni Hutagalung, sang inspirator tokoh bernama Rafael Kustandi Hutagalung.
SMP
Kelas 1
Apa-apaan sih, Lausandi ini?! Wajahku ini bukan mainan. Apalagi segumpalan lemak di dekat daguku. Lagipula, apa semenjijikan itu memiliki gumpalan lemak di bawah dagu. Tampangnya sangat menyebalkan sekali.

Kelas 2
Memang tidak enak masuk siang. Siang-siang, di tengah sengatan matahari, aku harus berangkat sekolah. Sesampai di sekolah, untung jam masih menunjukan pukul 11.46. Aku, Randi, Roni, Suhandi, Leo, Ramot, Dandi, dan Deni (yang matanya sangat sipit sekali) tengah asyik mengobrol sembari menunggu kakak dan adik kelas kami keluar kelas. Mendadak, di tengah obrolan, Roni berceletuk, "Eh, lihat deh, bibirnya Iman komat-kamit kayak lagi ngerapalin mantra," Astaga, di tengah menyimak obrolan teman-temanku, kebiasaan burukku keluar. Mana ada satu teman yang memperhatikan pula. Malunya aku! 

Kelas 3
Suasana kelas sangat berisik. Guru mata pelajaran PPKN sedang tidak ada. Pak Hia hanya menitipkan pesan agar kami semua mengerjakan LKS halaman sekian. Walau sudah diberikan amanah begitu, itu tidak menghalangi kami untuk bikin kegaduhan. Lalu, mungkin karena terganggu, Lao Tze datang. Beliau tanpa minta ijin langsung membuka rolling door yang menjadi dinding pemisah antara kelasku dengan kelas 1-2. Sontak teman-temanku yang berjenis kelamin lelaki berseru nyaring, "Halo, Vicky....." Vicky ini anak perempuan berwajah Oriental, berkulit putih, dan berambut panjang. Senyuman Vicky, menurutku, sangat menawan di antara seluruh anak perempuan di SMP.

Oh iya, tadi Suhandi sempat memarahiku. Katanya, "Ya, bilang kek, ngomong kek. Emangnya lu itu Tuan Muda Dao Ming Zhe apa?" Ya, maaf, Suh, aku kan malu. Bibirku kesulitan untuk mengatakan kata 'tolong'.






Di tengah, yang mengenakan safari biru tua, itulah Ibu Jacinta Dewi Palupi.
SMA
Kelas 1
Ini sungguh masa tersulit dalam hidupku. Proses adaptasi yang sangat berat sekali. Aku merindukan teman-teman SMP. Mulai dari Lausandi, Santo, Suhandi, Mareta, Erik, Septeni, Milka, Dani, Fani, Yuli, Toni, Nozel, Niki, Anggita, hingga si bocah-ingus-yang-sangat-belagu, Ramot. Di sekolah ini, aku seperti tidak ada apa-apanya sama sekali. Mereka sombong-sombong. Namun ada satu gadis yang menarik perhatianku. Namanya Christine. Christine yang berwajah kecil ini sangat pendiam sekali. Kuperhatikan, saat teman-temannya mengajaknya mengobrol, Christine sangat pelit kata-kata. Tapi jika tengah tersenyum, Christine sangat cantik sekali.

Kelas 2
Aku sangat syok mendengar kabar Christine sudah meninggal dunia. Astaga, sekian bulan tidak masuk sekolah, sekiranya masuk sekolah, hanya namanya saja yang masuk. Padahal aku masih ingin melihat senyuman manisnya sekali lagi. Aku sangat ingin mengenal Christine lebih lanjut. Kuduga, Christine ini lebih bersahabat daripada yang lainnya. Yang lainnya sombong-sombong. Ah, semoga Christine selalu dipeluk erat oleh Tuhan Yesus.

Kelas 3
I had an unforgettable and funniest moment in my school, Tarakanita last August 2006. This story was happened in the English time. My Teacher, Mrs Dewi asked us for assembling in the English Lab. Because we would done listening test.

We all assembled in the Lab. And I felt ready with listening test although I would certainly fail in the listening test. My friend, Yulius and Prianto was asked to take radio from Administration Room. It’s about five minutes again, they came. But Mrs Dewi had came yet. Because Mrs Dewi hadn’t came, Yulius begun show his silly act. Dangdut Song from radio by Yulius turned on. We all happy. We thinked that it wasn’t wrong if we little had fun. Suddenly, Mrs Dewi came. She was surprised when she was seeing this happening. She was angry and went out from Lab. Because they felt guilty, Yulius and Prianto followed her to ask for pardon. After that, they had come back. They informed that Mrs Dewi had asked for the listening and writting Dangdut Song from Radio as punishment. It’s very hard. Because it couldn’t be repeat again. Only once hearing. Then it might be translated into English. We had to do the strange task. We listened the silly song. We wrote and translated it.When we were doing it, Mrs Dewi was came. She looked fed up. After finishing the task, we were directly scolded and given by her an advise. She advised that we had to be seriously with task from our teachers.

I was really shocked with that moment. Because mistake from one student, I and my classmate might account for his mistake.







Comments