Berapa Banyak Bahasa yang Nuel Lubis Fasih?








Karena sebuah novel, aku jadi sedikit paham bahasa Korea.







Aku lupa yang mana, namun pasti ada yang bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak bahasa yang aku kuasai. Haha. Oke deh, aku jawab saja. CHECK IT OUT!

.....

Pertama, aku terlahir dari suku Batak. Papi dan Mami aku itu orang Batak. Papi itu Lubis, Mami aku bermarga Siagian. Walau tak belajar sistematis, sikit-sikit aku paham bahasa ibuku sendiri. Beberapa kosakata aku paham artinya. Itu seperti tulang, mokmok, mangan, atau hepeng. Kalau ada percakapan dalam bahasa Batak, secara insting saja aku perlahan-lahan mengerti yang dibicarakan. Sedikit-lah.

Kedua, bahasa Indonesia. Jelaslah ini. Aku lahir di Jakarta, besar di Tangerang, dan sejak kelas 1 SD aku rutin belajar bahasa Indonesia. Tak heran aku bisa sekali bahasa Indonesia. Itu mulai dari yang formal sampai bahasa gaulnya. 

Ketiga, bahasa Inggris. Sejak kelas 1 SD, aku sudah belajar bahasa Inggris. Walau kadang suka berlepotan menulis dalam bahasa Inggris, aku cukup fasih dalam berbahasa Inggris. Buktinya, yang bukannya sombong sih, nilai TOEFL aku itu di atas 400 (terakhir saat lulus kuliah di 2011). Bahkan, aku akhir-akhir ini juga tak canggung menulis di IMMANUEL'S NOTES dalam bahasa Inggris.

Keempat, bahasa Jepang. Aku belajar bahasa Jepang karena..... ehem, seseorang. Sejak 2013, aku sering buka segala bahan pembelajaran bahasa Jepang. Walau masih belum bisa membaca aksaranya dengan lancar, tiap menonton anime atau dorama, pandanganku seringkali tak terfokus ke subtitle. Beberapa kosakata Jepang, aku pahami. Grammar-nya juga aku masih bisa mengerti sedikit-sedikit, yang mana dalam bahasa Jepang, lebih dikenal pola subyek-obyek-predikat. 

Kelima, bahasa Spanyol. Sama seperti bahasa Jepang, aku paham hanya sebatas mendengarkan obrolannya saja. Belum terlalu fasih, namun beberapa kosakatanya aku tahu. Dari mana aku belajar? Sama seperti bahasa Jepang, aku mempelajarinya secara otodidak. Lagi-lagi aku pengin mempelajarinya karena teman. Saat SMP dahulu, ada teman berbahasa Spanyol begitu, lalu aku takjub begitu. Terdengar seksi untuk aku. Semenjak itulah, aku memutuskan untuk belajar sedikit bahasa Spanyol.

Keenam, dalam cerbung "Wota Korea", kan ada banyak kosakata bahasa Korea. Aku belajar dari mana? Haha. Itu aku tuliskan karena sebuah novel Indonesia berlatar Korea, selain karena Google Translate. But, well, little I can understand Korea. Kata yang kusukai: saekki-ya. Haha. Walaupun demikian, aku belum bisa membaca aksaranya dengan lancar.

Ketujuh, bahasa Belanda. Aku juga bingung kenapa, namun kalau lihat kosakata bahasa Belanda, seperti bergetar-getar diriku. Macam tahu artinya saja, walau saat dicek di kamus, dugaanku sering betul. Tapi, aku memang sempat sedikit belajar bahasa Belanda, sih. Bahasa yang secara lafal itu susah banget diucapkan. Kata yang kuingat banget: godverdomme, meneer, mevrouw, zuster.

Selanjutnya, aku juga sedikit paham bahasa Mandarin (walau tak bisa baca tulisannya 😣), Hokkien (hanya mengerti obrolannya saja), Jawa (belajarnya karena pembantu rumah tangga 😅), Sunda (ini karena aku tinggal di Tangerang, selain saat SD dulu, memang sempat belajar bahasa Sunda di sekolah), Perancis (dulu belajarnya karena sebuah acara televisi), serta Italia. Hanya sedikit, loh. Tidak secara grammar, namun lebih mengerti ke arah kosakatanya. Kalau orang tengah mengobrol dalam bahasanya, yah aku paham sedikit-sedikit yang diobrolkan apa. Tapi, kalau disuruh berbicara langsung, yah aku masih berlepotan berbahasanya. Haha.

Oh yah, sedikit tips belajar bahasa. Ini aku ketahui dari seorang junior di kampus dulu. Jadi, kalau tengah belajar sebuah bahasa itu, kita harus bisa mengondisikan diri kita sendiri dengan bahasa tersebut. Contoh: tengah belajar bahasa Spanyol, kondisikan diri kita tengah di negara berbahasa tersebut. Dimulai dari kita sering menyetel lagu berbahasa Spanyol, cari lawan bicara yang berbahasa Spanyol, atau menonton tontonan yang berbahasa Spanyol. It works, I guess. Aku pernah mempraktekannya saat belajar bahasa Jepang sampai ada teman meledekiku weaboo. Haha.







Comments