Thursday, October 9, 2014

SERIAL FAN FICT: Episode 5 - Wota Nyasar di Korea





Biar tak bingung, baca dulu episode-episode sebelumnya: 1, 2, 3, 4.

Sebelum kulanjutkan ceritanya, kalian wajib tahu bahwa serial "Wota Korea" ini ternyata memiliki trafik yang cukup tinggi. Terimakasih buat kalian semua yang sudah membaca serial fan fiction ini. Aku jadi tambah semangat ni meneruskan serialnya. ^_^

Hingga episode 5 ini turun, pageview untuk episode 4 sudah mencapai 410. BANZAAAAAI!!!!

*****


Biar tak bingung, baca dulu episode-episode sebelumnya: 1, 2, 3, 4.




Aldo memandangi Kimi yang tengah berkonsentrasi membawa mobil jenis Hyundai Sonata berwarna merah marun. Kimi sungguh perempuan luar biasa. Begitu dewasa. Berbeda sekali dengan kebanyakan perempuan seusianya yang pasti jiwa hedonisnya itu tinggi. Dari obrolan sewaktu di Mapo tadi, ia merasa apakah mungkin Kimi ini sebetulnya sudah kepala tiga? Ia berfirasat bahwa Kimi itu sebetulnya sudah berusia di atas usia 35 tahun. Yah karena tak cocok dengan pengakuan perempuan itu yang mengaku berusia 26 tahun.

Kimi berdehem. Perempuan itu sadar tengah dipandangi. Makanya ia memandangi ke arah orang yang melihatnya terlebih dahulu. Aldo tergesa-gesa memutar kepalanya ke arah lain, misalnya ke arah pemandangan kota Seoul yang mana warganya tengah sibuk untuk mempersiapkan natal dan tahun baru.

"Ada apa?" kata Kimi tersenyum. "Kenapa lihat-lihat? Naksir?"

Aldo menggeleng. "Ng-nggak ada apa-apa kok. La-la-lagian si-siapa juga yang naksir kamu?"

Kimi terkekeh. Tangan perempuan itu sigap menyetel radio. Mengalunlah lagu dari sebuah idol group yang merupakan favorit Aldo. Lelaki itu memandangi perempuan itu lagi.

"Nah kan ketahuan,"

"Ketahuan apa?"

"Ternyata kamu juga fans dari AKB48 juga kan?"

Kimi terkekeh lagi. "Sok tahu kamu yah. Yang aku lagi setel ini radio, bukan CD. Kebetulan saja, pas aku setel radio, lagu ini yang terdengar. Lagian channel radio ini juga kan radio berbahasa Jepang. Mereka sering banget memutar lagu-lagu Jepang."

Aldo jadi memerah kedua pipinya."E-emang di sini juga ada yang suka J-Pop apa?"

Kimi jadi terpingkal keras.

Aldo mendengus. "Dih, kok malah ketawa? Pertanyaanku nggak salah kan?"

"Kamu ini ada-ada saja," kata Kimi nyengir. Semua orang juga tahu, Jepang itu produsen film animasi nomor dua terbaik  setelah Amerika. Yah jelaslah kalau orang-orang di sini juga ada yang suka animasi atau pun J-Pop. Apalagi Jepang itu tetangga Korea Selatan pula; yang mana hubungan kedua negara sudah terjalin cukup lama. Itu jauh lebih lama daripada hubungan Indonesia-Jepang."

"Oooh..."

"Tidak heran juga Girl Generations pernah bikin album dalam bahasa Jepang. Di Jepang sana -- " Sembari menyetir, tangan Kimi sepertinya mengarah ke suatu tempat yang menyeberangi lautan, terus saja menuju Tokyo. " -- peminat K-Pop juga tinggi. Kudengar pula, ada member AKB48 yang suka K-Pop yah? Siapa namanya?"

Secepat kilat, Aldo langsung menjawab, "Miho Miyazaki."

Kimi terkekeh. "Dasar wota! Ada berapa banyak member AKB48 yang kamu tahu? Kayaknya, menurutku, kamu hapal 20-an nama member-nya yah?"

Kali ini, Aldo tak tersinggung. Ia malah ikut terkekeh. "Nggak kok, aku nggak gitu hapal juga nama-nama tiap member dari AKB48. Hanya beberapa member yang greget doang."

 "Greget?"

Disangka Aldo, perempuan itu tak tahu apa arti greget. "Iya greget. Aku hanya hapal member-member yang punya ciri khas, yang luar biasa bagus penampilannya dan bikin kita -- sebagai fans-nya -- jadi tergila-gila."

"Sampai-sampai kamu itu nggak bisa jatuh cinta lagi ke perempuan lain selain member-member AKB48 yah?"

"Sembarangan kalau ngomong." sembur Aldo meradang. "Ketimbang fans-fans lainnya, aku ini termasuk fans yang masih normal mengidolakannya. Aku masih tahu diri. Asal kamu tahu juga, ada beberapa fans yang menurutku agak sakit jiwa; menganggap oshimen-nya itu sebagai pacar atau istrinya. Aku jadi mau muntah dengar segala delusi fans-fans jenis tersebut."

"Oh, kukira kamu juga termasuk fans jenis itu." Kimi nyengir.

Aldo terkekeh. "Oh iya, Kim. Ada yang mau aku tanya, boleh nggak?"

"Mau tanya apa?"

"Soal kejadian tadi pagi, plus soal kata-katamu waktu kita di Mapo itu."

Hening. Aldo tampak sungkan untuk memperjelas maksudnya. Sementara Kimi, perempuan itu sepertinya sudah tahu apa yang akan hendak ditanyakan. Walaupun demikian, perempuan itu tak berniat memotong atau mengubah arah pembicaraan, entah apa alasannya.

"Apa mungkin adikmu itu memutuskan bunuh diri jembatan tersebut karena ada sangkut pautnya sama Big Bang? Memangnya ada persoalan apa? Apa Big Bang sudah melakukan sesuatu hal yang mendorong adikmu bunuh diri?"

Kimi mendesah pelan. Senyum mendadak hilang dari wajah cantiknya. Matanya menerawang -- yang nyaris saja mengganggu konsentrasinya dalam mengemudi.

Ponsel android Aldo memecah keheningan; pula telah menghilangkan mood dari seorang Kimi untuk menjawab. Lelaki itu langsung mengambil ponsel yang ditaruhnya di saku celana jins belel. Ternyata dari Thea, kekasih rahasianya. Gadis itu menanyai kabar dirinya -- yang disangka Thea dirinya berada di Jepang. Makanya, Thea menulis seperti ini: Hey, Aldo. Gimana? Kamu udah ampe di Jepang kan? Udah ketemu sama oshi kamu itu kan, si Takamina?

 Tanpa sepengetahuan Aldo, Kimi memanjangkan lehernya dan mengintip isi ponselnya. Perempuan itu terkekeh sembari berujar, "Wah ternyata benar yah kata kamu, kamu ternyata sudah punya pacar. Kukira, wota seperti kamu itu nggak akan punya pacar yang sesungguhnya."

Aldo memelototi Kimi. "Kamu apaan sih? Ngintip-ngintip handphone aku segala? Nggak sopan."

"Iya, iya, aku minta maaf. Gomen'nasai, Aldo-kun." ucap Kim tersenyum, sedikit membungkukan diri.

"Dasar!"

"Alright, nggak usah terlalu sensitif begitu deh," kata Kimi mengedipkan sebelah mata. "Mending kamu kasih tahu aku, jenis cewek apa yang mau berpacaran sama wota kayak kamu ini. Aku penasaran soalnya."

"Buat apa? Kamu juga belum jawab pertanyaan aku tadi."

"Jadi ceritanya kamu ini balas dendam?"

"Nggak juga,"

Thea terkekeh. Aldo jadi tambah sebal.

"Yang namanya Thea itu pacarmu ya? Cerita dong." Melihat Aldo yang masih saja bergeming, ia melanjutkan lagi kata-katanya. "Jangan-jangan Thea itu bukan pacar kamu lagi? Oh mungkin perempuan itu sepupu atau adik kamu? Atau hanya teman biasa. Nggak mungkin juga wota kayak kamu bisa punya pacar betulan."

"Nah kan, sok tahu lagi kan," Aldo berdecak. "Ngarang kamu tuh. Thea itu betulan pacar aku kok. Kami udah jadian sejak SMA hingga akhirnya dia bisa jadi member JKT48 juga."

Gantian Kimi yang melotot. Perempuan itu menelengkan kepala ke arah Aldo sembari cuping telinganya berdiri. Takut-takut ia hanya salah dengar. Di sisi lain, Aldo mengertakan gigi. Ia sadar ia keceplosan bicara.

"Ini aku nggak salah dengar kan?" konfirmasi Thea yang mau hendak tertawa lepas. "Tadi kamu bilang apa?"

"I-iya, kamu nggak salah dengar juga," Nasi sudah menjadi bubur. Ya sudah, lebih baik diteruskan saja. "Pacarku itu member JKT48 sekarang. Ia masuk ke dalam tim trainee-nya."

Kimi terbahak. Sementara itu, radio itu tengah memutar sebuah lagu yang masih dari idol group yang sama. Lagu itu berjudul "Kimi no Koto ga Suki Dakara". Baru di satu-dua bait, perempuan itu langsung mematikan radio.

"Kumatikan saja yah radionya. Aku takut kata-katamu itu keluar karena pengaruh dari radio itu.Pikiranmu jadi melayang kemana-mana."

"Aku serius, Kim," tegas Aldo. Kali ini menunjukan profil Line Thea. Di foto tersebut, tampak Thea tengah mengenakan kostum JKT48 waktu membawakan Oogoe Diamond. "Cewek ini beneran pacar aku."

Dan Kimi... perempuan ini hanya bisa berdecak dan terkekeh. Di matanya, Aldo terlihat seperti sedang melawak saja.




Bersambung.....

1 comment:

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^