Jadi Tenar, Harus Jaim
















Maksud hati, tak mau meninggalkan komentar. Tapi apa daya, webtoon-nya memiliki pesona tersendiri, sehingga memaksaku untuk meninggalkan jejak di sana. Haha. Sama seperti tiap aku menonton beberapa video Youtube, kadang tak mau berkomentar, tapi mau tak mau jadi harus berkomentar. Seringkali juga bagian komentar itu jauh lebih menarik daripada konten yang sebenarnya. Keseruannya malah berada di kotak komentarnya. Haha. 

Lalu, kadang aku suka berpikir andaikan "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" itu penjualannya melebihi ekspektasi, best-seller begitu, dan namaku melambung (sebagai Nuel Lubis), mungkinkah aku tak boleh sembarangan dalam berkomentar di dunia maya? Banyak pertimbangan yang mana aku harus mau menjadi silent reader, walau maksud hati, aku gemas sekali ingin berkomentar. Lebih sering jadi pengamat yang pasif, itu jalan yang terbaik. Apalagi, salah-salah berkomentar, kupikir memang sangat beresiko. Terpaksa jaga image, deh. Walau sebetulnya sih, aku sabodo teuing mengenai image (yang sudah bawaan sejak balita). 

Haha.

Omong-omong, tanpa sadar aku sudah berkomentar hingga bagian komentarnya mencapai sembilan puluh sembilan halaman saja. Yah, seperti yang kubilang, terlalu asyik dengan webtoon-nya, sampai-sampai harus aku komentari. Seru juga, lagian, baca bagian komentarnya. Haha. 







Comments