Nuel Lubis & Warna








Nuel Lubis coba berpose ala anak punk.








Kusuka warna hijau. Tiap bloger yang mengenalku sejak 2010 pasti sudah mengetahuinya. Apalagi warna blog ini sering sekali diwarnai dengan warna hijau. Lupa sejak kapan, dan bingung karena apa, tiap melihat warna hijau, selalu ada ketenteraman batin dalam diriku. Apalagi, jika aku melihat hijaunya daun di pagi hari. Makanya, aku lebih suka ke gunung daripada ke pantai. 

Walau suka warna hijau, dalam hal berpakaian, sepertinya aku cenderung memilih warna merah. Yang ini sih, karena ada seorang perempuan Aceh--yang begitu lulus kuliah, langsung mengajar--yang berceletuk; "Tuh, kan, baju merah lagi," Aku pun bingung kenapa aku hobi mengenakan baju/kaus berwarna merah.

Kemudian, di tahun 2011, dalam sebuah status Facebook, sembari menunggu "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" terbit, aku iseng curhat (curhat kok iseng?). Kubilang, aku ingin menjadi seperti warna hitam, yang mau dicampur dengan warna apapun, tetap hitam. Maksudku, mau ada gesekan dari mana-mana, kuharap aku tetap berpegang pada pendirian sendiri. Keteguhan hati, maksudku.

Last but not least, aku baru tahu tiap warna memiliki arti ternyata. Pantas saja, dalam membuat ilustrasi, dalam pemilihan warna, tak boleh sembarang. Pekerjaan ilustrator dan desainer kaver bukan sembarang pekerjaan. Pantas saja #misiterakhirrafael berwarna dominan cokelat (baca: 8th Untitled Story).

(Nggak nyambung, yah, isi paragraf tiga?! 😅)

Terakhir, saat kecil, apalagi jika melihat sederet foto saat aku masih pelajar SD, aku ternyata hobi mengenakan yang serba biru. Kenapa yah? Hehe!













Comments