(Again) Tribute to Kristoforus Bramandias




Baca dulu yang ini: About Kristoforus Bramandias







Ekspresi Nuel Lubis jika tengah menunggu dosen atau guru datang. Dia hobi mengetuk-ngetuk meja.








Anyway, aku mau sedikit membicarakan Dias lagi. Kali ini dibantu dengan aplikasi MojiPop. Jika dipikir, aku sangat berhutang budi ke Dias, yang notabene juga asisten pribadi aku yang seorang novelis dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh".  Makanya, aku balik membicarakan tentang dirinya, yang beberapa buah pikirannya sempat berada di IMMANUEL'S NOTES (90% tulisan yang berada di KIDDO SAYS merupakan buah pikirannya). Terimakasih juga untuk Kristoforus Bramandias yang suka menemaniku untuk inspeksi ke beberapa toko buku, menjadi kontributor di IMMANUEL'S NOTES dan GETOKATANYA, serta sering menyumbangkan ide untuk tiap cerita fiksi yang kutulis. Oke deh, CHECK IT OUT!











1. Kadang aku merasa Dias itu seperti Kakashi Hatake. Kelihatannya saja dingin, tak berperasaan, serta jahat, padahal sebetulnya baik. Yang kutahu, Dias sangat menjunjung tinggi keadilan. Aku belajar banyak tentang keadilan dari Dias. Lalu, sama seperti Kakashi, Dias hampir tak pernah membawa seseorang ke arah yang salah apalagi jahat.






 2. Dias orangnya sangat memegang teguh janji. Kalau sudah berjanji dengan seseorang, dia pasti tepati. Bagian ini yang aku sangat tidak sukai dari Dias. Haha.







 3. Tiap jalan bareng Dias, aku merasa seperti Dias itu seorang Urashima Taro, salah satu tokoh legenda Jepang. Lalu, aku dan teman-teman lainnya seperti Erland, Dion, Mas Tony, serta Mas Pondi itu seperti binatang-binatang yang mengawalnya. Aku dan yang lainnya seperti bodyguard Dias saja.






 4. Dias orangnya sama sekali tak memperhatikan anggapan orang tentang dirinya. Mau dianggap aneh, gila, atau jahat, Dias masa bodoh. Itu salah satu sikap yang sangat aku kagumi dari Dias.







 5. Terakhir aku bertemu dengan Dias, Dias gembrot banget. Kalau kata Dion saat 2017, "Kayak buntelan lemak," Padahal saat pertama bertemu dengan Dias, Dias yang bertinggi badan hampir 180 cm itu tak segendut tersebut.







 6. Dias sering cerita bahwa dirinya lumayan sering bertengkar dengan Dira. Walaupun demikian, tak jarang Dias curhat ke Dira untuk setiap pergumulan hidupnya. Bahkan, Dias tak segan menjotos siapapun yang berani macam-macam ke Dira. Sungguh abang yang sangat mencintai adiknya!






 7. Dias sering mengejek aku yang suka makan makanan yang manis-manis. Padahal, sendirinya juga sama. Haha.







 8. "Sssttt... Man, jangan diomongin di sini!" Begitulah kata Dias tiap aku mengucapkan sesuatu yang menurutnya tak selayaknya. Bahkan, Dias selalu menegurku langsung tiap aku suka keceplosan ngomong. Tak jarang badan suka memar tiap dicubit Dias. Tapi itu karena kebiasaan aku yang suka keceplosan. Dias selalu mengingatkanku untuk hati-hati berbicara, khususnya di  tempat umum.






 9. Begitulah ekspresi Dias jika tengah terciduk. Dias suka malu-malu untuk meminta maaf. Tapi, yah, lumayanlah. Dias pasti langsung minta maaf jika sudah ketahuan dan merasa bersalah. Kan banyak orang yang sudah kepergok, masih bisa berdalih yang macam-macam. Makanya, jarang sekali orang yang seperti Dias.










10. Dias kadang suka sok bossy, walau seringkali yang dibilang benar. Setiap pemikirannya memang suka aneh bin nyentrik nan eksentrik. Tapi, percayalah, tak ada satupun yang memiliki niat jahat.




Comments