[BEFORE-AFTER] Nuel Lubis & Kristoforus Bramandias















Dias saat berusia TK dan dewasa.










Di atas, foto Dias saat masih kecil dan saat dewasa. Dias saat masih kecil itu terlihat  oriental sekali. Putih sekali juga.







Nuel Lubis in 20 years old (left) and in a toddler






Sementara, foto berikutnya, itu aku. Nuel Lubis saat kecil dan dewasa yang akhirnya mencoba berkepala plontos.

Anyway, jika dipikir baik-baik, walau semasa SD (hingga sekarang) suka dipanggil 'kokoh', wajahku yang sebelah kanan itu lebih mirip bule daripada oriental. Setidaknya, bule-bule Mediterania seperti Italia, Spanyol, Portugis, dan Perancis. Kan, rata-rata penduduk di sana bermata agak kecil. Lalu, yang bikin kaget, ukuran kepalaku itu seperti alien ET. Jidat aku itu sangat mempesona. Haha.

Oh iya, aku jadi teringat kata-kata guru SMP dulu. Guru bahasa Sunda, sih. Namanya Ibu Muiyah. Selagi mengajar, dia menceritakan mengenai anaknya yang sejak lahir, unik begitu. Anaknya berwajah bule, padahal Ibu Muiyah itu orang Sunda. Kagetnya lagi, setelah bertahun-tahun kemudian, ciri-ciri fisik anak Bu Muiyah itu (yang kuingat) hampir mirip dengan ciri-ciri fisik aku seperti yang di sebelah kanan. Lalu, yang kuingat lagi secara samar-samar, saat menceritakan mengenai anaknya, Bu Muiyah beberapa kali menatap ke arah aku. Bu Muiyah, baik selama kegiatan belajar mengajar maupun tidak, sering sekali tersenyum ke arahku. Apa mungkin wajahku saat SMP dulu mengingatkan beliau dengan anaknya tersebut?

Haha.








Anak perempuan berwajah bule yang kutemui di dalam angkot saat 2011 kemarin.







Jujur sih, jumlah foto aku semasa aku kecil sedikit sekali. Maksudku, foto-foto saat aku masih balita dan TK, itu yang hampir tidak aku miliki. Itu bahkan termasuk fotoku saat masih agak pirang rambutku. Padahal, kalau ada fotonya, wah rasanya bangga sekali. Begini-begini, dulu aku pernah merasakan rambutnya berwarna. Haha. Makanya, tiap lihat anak kampung berambut agak berwarna, aku selalu teringat akan diriku yang masih berambut pirang. By the way, foto anak perempuan di foto yang ketiga tersebut, kurang lebih seperti itulah diriku saat masih berambut pirang. 

Haha. Sekarang aku paham, kenapa diriku saat 2011 silam refleks saja untuk mengambil gambar si anak perempuan bule. Well, anak perempuan itu membuatku teringat akan fisikku saat masih taman kanak-kanak dulu, yang sekian tahun terlupakan.






Aku saat masih TK itu rada mirip dengan anak perempuan tersebut, yah. Haha.






Terakhir, jika aku ingat kebiasaan diriku yang suka mengambil gambar yang aneh-aneh, lalu jika melihat kembali foto anak perempuan yang kuambil saat 2011 silam, aku mulai menyadari satu hal. Kesimpulan singkat saja, yang mungkin bisa benar, mungkin bisa salah. Itu ialah: 

Jangan anggap remeh suatu perbuatan kecil. Terutama jika itu dilakukan secara refleks atau spontan. Karena, seringkali Tuhan memanfaatkan hal-hal kecil tersebut--yang salah satunya aksi spontan/refleks--untuk menyampaikan sesuatu ke kita. 

Salah satunya: foto anak perempuan yang kuambil secara refleks tersebut. Setelah sekian tahun berlalu, aku mengerti kenapa spontan mengambilnya. Mungkin Tuhan ingin aku mengingat kembali wajahku saat seusia si anak perempuan. Selanjutnya, hmmm.....

Tambahan, katanya anak berkepala besar seperti aku itu jenius. Atau, yah cerdas-lah. Apa itu benar?







Comments