Kaze wa Futeiru, Muchi-Muchi ne! Happy 4th Anniversary, #misiterakhirrafael !








Nuel Lubis bersama "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh".









Terimakasih untuk DeTeens (yang sekarang, Serambi/Senja), salah satu anak cabang DivaPress (yang bisa dibilang begitu), atas kesempatan berharga ini. Hanya penerbit itulah yang akhirnya mau menerbitkan dan mengantarkannya ke banyak toko buku. Dulu, jika ingat sebelum tanggal 18 Maret 2016 (yang mana sampelnya datang di hari jumat, pukul 11:00 WIB), "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" ini lumayan sering ditolak. Beberapa kali harus aku revisi. Sampai akhirnya, pertengahan Juni 2013, mereka datang dan say "yes". Kuiyakan saja. 

Kemudian, terimakasih juga untuk temanku, Fernando Simbolon dan Virgos Sidabutar, yang saat itu menyarankanku untuk mengambil sistem royalti. Jujur saja, sistem itu menyelamatkan hidupku hingga detik ini. Statusku terselamatkan. 

Omong-omong, memang butuh waktu lama untuk kisah cinta Gabriel dan Mikha itu bisa eksis. Kali pertama membuatnya saja itu pada tahun 2009. Diterima DeTeens di tahun 2013. Terbit di tahun 2016. Dan, sekarang, sudah memasuki anniversary ketiga. Haha. Padahal, selama menunggu terbitnya itu, aku sempat was-was. Apalagi, di tahun 2014, aku sempat diterpa banyak gosip tidak menyenangkan. Ada teman bloger yang seperti menakutiku. Katanya, mungkin aku tengah ditipu. Namun, hati nuraniku berkata lain. Aku diamkan saja segala isu tak sedap tersebut. Nyatanya, henshin, terbit juga, yang dalam perjalanannya, selalu tertatih-tatih bak kakek-kakek yang mengenakan tongkat.

Aku percaya juga, masih banyak orang yang tidak termakan hasutan tentang "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Lagipula, memang faktanya aku tidak ada niat cari sensasi lewat "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Murni aku hanya ingin hidup dari passion menulisku. Aku seperti terpanggil untuk menjadi penulis. Tak ada niat cari popularitas apalagi uang. Buat apa juga lagian. Dan, aku juga percaya, penerbit tersebut juga bisa melihat bahwa naskah itu memang tidak diniatkan untuk mencari sensasi, kehebohan, popularitas, dll. Bagiku pribadi, ada yang lebih penting dari sekadar uang atau popularitas. Tuhan, misalnya.

Sekarang aku juga mengerti kenapa ada jeda antara saat diterima dan saat diterbitkan. Segala sesuatunya hanya perlu momen yang (sangat) tepat. Kesabaran (sangat) dibutuhkan. Yang jelas, "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" ini sudah menyelamatkan banyak hal dari hidupku. Jika aku baca lagi "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh", si Cokelat selalu berhasil membuatku tersenyum paling lebar. 

Sekali lagi, terimakasih sebesar-besarnya untuk para pihak yang menerbitkan "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Terimakasih atas kesempatan paling berharga ini. 

Happy 4th Anniversary, Gabriel, Mikha! Keep long-last

Terakhir, aku mau bersikap masa bodoh jika "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" masih digoyang isu-isu tak sedap. Penulisnya, Nuel Lubis, masih dituduh yang bukan-bukan, ya sabodo teuing. Biarkanlah angin tengah berhembus sesuka hati. Kaze wa futeiru, muchi-muchi ne! Hoho! 😅
































Dum spiro spero!
As I breath as I hope! 
Sebernapas aku berharap!







Comments