Aku ini Penulis Betulan atau Penulis Gadungan?








Ini sungguh apresiasi yang sangat luar biasa dari salah satu teman bloger.








Bingung. Aku benar-benar bingung. Sebetulnya untuk bisa dibilang penulis, harus melakukan apa? Jujur, sejak 2012, sejak wisuda, aku sudah memantapkan diriku untuk tidak menceburkan diri ke dalam lautan job fair. Ikut wawancara atau tes kerja saja, hanya sekali-dua kali. Berikutnya, aku rajin menulis. Aku rajin mengikuti kontes menulis. Aku rajin pula mengirim beberapa naskah ke beberapa redaksi dan penerbit. Tak ayal, ada hasilnya, beberapa karya aku hasilkan. Satu-dua antologi ada namaku (silahkan lihat sendiri "The Opuses"). Lalu, sejak 2014, daripada hanya menganggur di laptop, aku memanfaatkan beberapa penerbit indie. Empat novel keluar hingga "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" keluar di Maret 2016, yang tersedia di banyak toko buku (online dan offline).

Nah, yang seperti itu, sudah bisakah diriku disebut penulis? Masalahnya, sejak 2012 silam, tak jarang diriku masih disebut writer wannabe. Beberapa orang menyebutku calon penulis. Bisa dihitung pakai jari-jari tangan, mereka yang menyebutku penulis (atau novelis). Tergolong langka malah, mereka yang memandangku sebagai penulis. Kebanyakan orang malah menyebutku pengangguran saking betapa fleksibelnya waktuku. 

Haha, aku tuh kudu kepiye?







Comments

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^