Kok Aku Kayak Unsur Metal Yah?








My Free Fire









Ada yang bilang, karya dan penciptanya adalah dua hal yang berbeda. Alhasil, wajar saja ada yang menyukai sebuah karya tertentu, namun kurang menyukai yang menciptakan karya tertentu tersebut.

Well, aku tidak tahu sejak kapan, namun ada sebuah perbedaan nyata yang cukup signifikan antara aku dan tulisan-tulisanku. Bagaikan dua makhluk yang berbeda saja. Padahal aku dan karyaku itu sama.

Pertama aku sadar tentang hal itu sejak Desember 2011 silam. Temanku, Dion, pernah bilang, bahwa tulisanku itu seperti hidup saja; seperti tengah berbicara ke yang membacanya. Tak hanya Dion, beberapa temanku yang lain juga membenarkan. Bahkan beberapa teman kuliahku memuji tulisan-tulisanku setinggi langit.

Nah, terlepas dari pengaruh tulisan-tulisanku tersebut yang sangat berkarakter, tegas, kuat, dan berkharisma sekali, pribadi aku tak seperti itu. Karakter aku tidaklah seperti tulisan-tulisanku. Boleh dibilang, saat tengah menulis, aku seperti berubah menjadi sosok lain yang bukan aku yang biasanya. Aneh? Sangat!

Di keseharianku, aku baru sadar juga bahwa aku agak mirip dengan unsur metal yang sangat mudah ditempa. Kok bisa aku sepolos ini? Kok bisa aku sesulit itu untuk bisa berpendirian? Aku selama ini sering sekali ragu-ragu, yang bahkan ragu-ragu untuk hal paling sepele. Apa mungkin karena itukah, aku selalu pesimis? 

Kadang aku kesal dengan kepribadian aku yang satu itu. Betapa mudahnya aku dipengaruhi oleh orang lain. Padahal jikalau aku mengikuti hati nurani sendiri, jawaban yang paling tepat itu justru di luar pengaruh beberapa orang. Lucu.

Iya, lucu. Seringkali jawabannya ada di dalam pribadi aku. Eh, aku malah sibuk mencarinya di beberapa kepala orang lain.







My AskFM







Haha. 

Kok bisa ada orang seperti aku, yang pemalu, pendiam, peragu, polos, ceroboh, tolol, goblok, dan... etc-lah? 

Jadi orang tegas dan berpendirian yang selalu optimis, untuk seorang @nuellubis yang author dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh", sungguh sebuah tantangan sekali yang sangat beresiko. Saking beresikonya, orang-orang terdekatnya malah kurang menyukainya. Tak heran, tiap mengambil keputusan apa-apa, selalu bagaikan tengah bertarung di sebuah arena.







Comments