Wednesday, April 19, 2017

BANTAHAN atas BANTAHAN dalam MITOS di Film



Bantahan atas artikel ini dan ini



Mungkin tak banyak yang tahu, tubuh manusia itu memiliki muatan listrik yang cukup banyak (selain kandungan air). Tapi jangan bayangkan yang aneh-aneh dulu. Listrik pada tubuh manusia (juga makhluk hidup lainnya) itu tak seperti pada benda-benda elektronik atau kabel listrik. Tidak seperti kandungan airnya, listrik pada tubuh manusia nyaris tak terlihat (Karena memang tak berwujud. Namun bisa dilihat pada kardiogram lewat garis-garis gelombang. Itulah listrik statis dalam tubuh manusia). Listrik ini mengalir dari otak manusia hingga ujung kaki. Listrik itulah sebetulnya yang menggerakan manusia dan makhluk hidup lainnya. Bahkan ada sejumlah penelitian yang mengatakan bahwa organ-organ vital manusia digerakan oleh listrik statis. Sewaktu hati atau jantung berhenti berdetak selama beberapa menit, defibrilator ini tetap berusaha mengalirkan aliran-aliran listrik tubuh manusia, yang sempat berjalan lambat. Perlu diketahui, organ-organ vital boleh berhenti berfungsi. Namun listrik-listrik itu masih terus mengalir. Listrik itu  baru berhenti mengalir setelah dinetralisir oleh sejumlah zat kimia, yang salah satunya itu formalin. Pernahkah dengar mitos soal telinga orang meninggal yang masih bergerak-gerak? Penggeraknya adalah listrik statis dalam tubuh manusia.






Film hanya berdurasi pendek. Dan, film bukanlah kehidupan yang selalu berjalan tanpa dibatasi waktu. Memang benar granat tidak segampang itu dibukanya. Namun dibuat seperti itu hanya agar tiap penonton cepat menangkap esensi filmnya; juga untuk tidak membuat bosan selama menonton. Mencabut pin granat juga tidak bisa membuat gigi patah. Senafsu itukah dalam mencabut pin granat dengan gigi-gigi kalian? Apalagi umumnya para tentara itu direkrut karena memiliki ketahanan tubuh yang bagus. Salah satunya, di gigi-gigi mereka. Orang yang rahang dan giginya sangat kuat itu bisa membuka dengan mudah pin granat. Orang-orang seperti itu biasanya memiliki otot seperti Rambo. Mereka selalu menjaga fisiknya agar tetap bugar, yang di dalamnya terdapat kekuatan tersembunyi yang sukar dijelaskan. 





Itu hanya agar terlihat dramatis untuk setiap penonton. Memang saat berada di ketinggian tertentu, pendengaran kita jadi tuli. Tapi itu tidak 100% tuli. Telinga manusia masih bisa menangkap secercah suara yang masuk. Juga, masih bisa mengobrol dengan sesamanya lewat gerakan bibir (pernah dengar kan soal kemampuan membaca gerak bibir?). Oh satu lagi, mengobrol di ketinggian tertentu itu tak jauh berbeda dengan saat kita mengobrol dalam air. Air memang menghambat saluran pendengaran kita, namun kita masih tetap bisa mendengar percakapan lawan bicara kita, walau kurang begitu jelas.





Satu peluru memang tak bisa membuka gembok. Namun serentetan peluru bisa menghancurkan gembok malah. Ingat, peluru itu dibuat dari timah. Timah memiliki bahan yang lebih besar massa dan beratnya dari besi. Besi akan selalu bisa dikalahkan oleh timah. Apalagi timah itu juga panas. Baja saja bisa luluh jika terus menerus diberondong oleh peluru timah. Belum lagi masih ada sejumlah zat kimia di dalam sebuah peluru timah. 





Peredam atau silencer memang hanya meredam desingan pelurunya saja. Aku setuju dengan hal tersebut. Namun tetap saja, jika peluru tidak mengenai obyek yang bisa membuat gaduh, tetap saja tidak akan menimbulkan suara. Peluru yang tertancap di tubuh manusia pun sebetulnya tidak menimbulkan bunyi, loh. Sekali lagi, permainan efek itu hanya untuk menimbulkan efek dramatis. Fungsinya silencer juga untuk itu. Agar pembunuhan tidak ketahuan orang; untuk mengurangi keterlibatan saksi-saksi. Umumnya pelaku pembunuhan dengan silencer itu melakukan aksinya di tempat-tempat yang tidak terlalu bikin gaduh saat peluru ditembakan.





Memang terlihat keren, menembak dengan dua senjata api. Karena mengokang satu senjata saja sudah susah setengah mampus untuk menjaga konsentrasinya. Apalagi menembak dengan dua senjata. Dan, itu bukanlah hal mustahil. Sudah ada lumayan banyak orang yang melakukannya. Kebanyakan mereka tidak terlalu menunjukannya secara sembarangan. Bahkan ada yang bisa menembakkan dua target dengan dua pistol secara bersamaan. Sekali lagi, hal-hal seperti ini tidak sembarangan diceritakan atau dipamerkan. Bahkan polisi dan tentara pun memiliki semacam kode etik dalam hal menembak. Ada aturan yang menyebutkan bahwa menembak dengan menggunakan dua senjata api itu dilarang keras. Hal itu bisa semakin menimbulkan banyak korban. Terlalu sadis malah!





Saat manusia tenggelam di lautan, sebetulnya tidak terlalu sulit melihatnya dari atas. Tubuh manusia juga tidak seringan itu. Ada prosesnya juga sebelum benar-benar tenggelam. Sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu, ada semacam dorongan untuk bisa bertahan hidup. Salah satunya dalam keadaan mau tenggelam. Mereka sebisa mungkin berusaha menjaga diri mereka agar tetap mengambang. Pernah dengar kan soal gerak refleks? Itu yang mendorongnya. Gerak refleks itu semacam naluri dalam diri setiap makhluk yang memungkinkan mereka untuk melakukan sesuatu secara ajaib dan melawan akal sehat/logika. Jadi, selama korban masih berusaha untuk bisa bertahan hidup, penyelamatan dari helikopter atau kapal laut itu masih bisa dilakukan.





Ini benar, namun agak keliru. Karena saat terjadi suatu peristiwa, pihak aparat biasanya langsung memanggil tim forensik. Tim forensik itulah yang menyelidiki tempat kejadian perkara, khususnya beberapa hal yang tidak bisa dilakukan aparat. Aparat hanya menyelidiki keadaan kasar tempat kejadian perkaranya saja. Untuk beberapa hal, seperti kondisi jenazah, reaksi luminol, hingga segala hal yang ada di TKP--yang bisa mengungkap siapa pelakunya dan triknya, itu merupakan wewenang dan keahlian forensik. Boleh dibilang keberhasilan suatu kasus itu juga karena peranan tim forensik.





Sekitar periode 50 dan 60-an, hal itu memang agak mustahil. Namun sekarang kondisinya berbeda. Ada yang namanya GPRS atau GPS. Kita beraktivitas di dunia maya saja bisa ketahuan, selain oleh pihak kepolisian. Seseorang yang jenius bisa melacak keberadaan kita lewat IP Address,--salah satunya. Organisasi-organisasi seperti Freemason atau Iluminati biasanya memiliki sekelompok orang yang lihai dalam melacak keberadaan seseorang. Konon, sejumlah orang yang piawai dalam hal IT (yang tak hanya IT, mereka juga merekrut sejumlah orang yang memiliki talenta dan karunia/gift), sudah mereka rekrut. Perekrutannya memang tidak blak-blakan. Namun itu tersamarkan dengan cukup luar biasa bagus. Tak kelihatan sebetulnya kalau mereka tengah direkrut oleh Freemason atau Iluminati. Keberadaannya sampai sekarang masih tertutupi kabut tebal bernama mitos dan legenda.





Biasanya chloroform ditaruh di hidung korban memang selama beberapa menit dan itu juga sambil membekap dan memegangi erat tangan korban. Biasanya hal itu dilakukan secara beramai-ramai. Kalau secara sendirian, biasanya saat korban tengah tertidur pulas.

*****

Tidak semua hal bisa dicerna secara logika atau akal sehat. Masih lebih banyak hal lainnya yang berjalan secara irasional, yang hanya dilihat dengan mata batin mereka. Salah satunya, sampai sekarang pun sejumlah orang masih menyelidiki soal penciptaan atau Tuhan. Dan, selama iman masih ada dalam tubuh dan jiwa seseorang, tidak ada hal yang mustahil. Terkadang manusialah yang suka iseng menciptakan batasan dan aturan, sehingga muncullah istilah 'mustahil' dan 'tidak mustahil'. Bahkan Rasul Simon Petrus pernah menghardik Ananias dan Safira yang berusaha mencobai Allah dan Roh Kudus.

Bahkan, karena keberadaan hal-hal yang tidak logis dan melawan akal sehat itulah, timbullah suatu harapan dalam diri manusia. Itulah juga yang menjadi pelatuk untuk kata 'keajaiban', 'miracle', atau 'mukjizat' bisa muncul dan terus hidup sampai sekarang ini, lalu memunculkan yang namanya 'harapan'.

Lalu, sejumlah adegan yang kita rasa tidak logis dalam film itu sesungguhnya mengajarkan kita untuk tetap memelihara iman (faith yah, bukan agama atau religion) dan harapan. Juga, itu dibuat seperti itu untuk meringkas saja (kalau dijelaskan secara bertele-tele, tentunya bikin bosan penonton); dan agar memunculkan efek dramatis. 


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^