Wednesday, September 28, 2016

#5 Kiddo Says : "Platonic Marriage"




Pada suatu hari, saya berkunjung ke sebuah kota. Hiduplah di kota itu sepasang suami-istri. Sang suami bernama Petrus, istrinya bernama Stefani. Mereka sangat harmonis yang melebihi pasangan mana pun di muka bumi ini. Lihat saja, mereka tak ragu mengumbar kemesraan di depan khalayak. Ciuman yang ditunjukan sungguh tulus. Ke mana-mana mereka saling rangkul dan berpegangan tangan. Obrolannya sangat intim sekali. Masing-masing seolah tahu pikiran masing-masing. Alhasil jarang sekali terjadi percekcokan parah. Kelemahan dalam pernikahan mereka hanya satu.





Mereka sudah menikah selama lima tahun dan belum dikaruniai anak. Saya tanya, "Apa ada yang mandul dari kalian berdua?" Keduanya mantap menggeleng bersamaan. "Oh mungkin sama-sama sibuk?" Stefani--sebagaimana kaum hawa biasanya lebih terbuka--bilang sesibuk-sibuknya mereka, selalu menemukan waktu berkualitas untuk berdua saja, meskipun hanya saling bergelayutan di atas sofa seraya makan kacang. "Lalu apa penyebabnya?"

Petrus menggeleng. "Tidak ada sama sekali, Tuan Musafir. Kami hanya..."

Stefani melanjutkan. "...awalnya semua gara-gara dia nih--" tunjuknya pada Petrus sambil mencubit pipi lalu mengecup bibir Petrus. "Setelah upacara pemberkatan, saat resepsi, Petrus membisikan sesuatu pada saya. 'Kamu mau gak malam pertama kita dilakukan di luar kebiasaan kebanyakan orang?'"

'Maksudnya?'

'Tanpa berhubungan intim. Yah kita lakukan saja seperti saat kita pacaran. Ngapain kek. Nonton kek, baca buku berdua kek.'

'Memang kamu gak mau ngelakuin sama aku? Padahal sumpah, aku sudah siap loh. Selama kursus pernikahan, aku belajar bagaimana cara bikin malam pertama jadi tak terlupakan.'

'Iya, iya aku percaya. Aku kan pernah memergoki kamu lagi nonton film porno.'

'Apaan sih, kan itu juga buat kamu, supaya gak jelalatan sama perempuan lain. Ingat gak waktu kamu minta aku pake lingerie? Atau saat jalan bareng di mal, mata kamu gak bisa lepas dari cewek seksi?'

Petrus tertawa waktu itu. Aku juga. Lalu, lama kami terdiam sembari bersitatap.

'Kamu kan suka anak-anak?!'

'Anak-anak bisa ditemukan di mana-mana. Tapi yang seperti kamu kan cuma satu.'

'Gombal!' Padahal saya terenyuh. 'Tapi betulan kamu gak mau berhubungan sama aku?'

'Iya.'

'Alasannya apa sih? Kamu mandul?'

'Ya nggaklah. Kita bisa cek sama-sama ke dokter.'

'Terus?'

Kami terdiam lagi.

'Aku hanya takut satu, Stef. Aku takut hubungan kita terkotori dengan seks. Aku takut ada salah satu dari kita yang ketika melakukan pertama kali, bisa saja jadi pengin lagi dan ketagihan akhirnya. Padahal harusnya tidak seperti itu kan. Belum lagi kecenderungan kita untuk segera memiliki momongan bisa makin menjadi-jadi. Itu saja kok. Aku gak mau ada salah satu dari kita yang terbebani untuk memiliki anak. Kamu mau kan nikah selibat sama aku?'

"Lalu bagaimana tanggapan keluarga kalian berdua?"

"Sama-sama berat. Apalagi papa Petrus ini sangat mau  untuk bisa menimang cucu dari jagoan kesayangannya. Papa saya juga. Untungnya  setahun kemudian keluarga kami sudah bisa menerima keputusan kami berdua yang ingin nikah selibat."

"Tapi benar tidak ada yang mandul?"

"Iya. Seminggu setelah pernikahan, kami sama-sama mengecek. Sperma Petrus luar biasa berkualitas bagus. Rahim saya sama sekali tak ada tanda-tanda ada gangguan. Kami juga tak memiliki riwayat penyakit kelamin. Dengan kata lain, kami mungkin sudah punya dua-tiga anak sekarang."

"Luar biasa!"

"Itulah kenapa saya sangat mencintai Petrus, Tuan Musafir. Beruntung sekali saya menjadi istrinya. Dia tahu bagaimana cara mencintai seorang perempuan tanpa harus melibatkan seks. Belum lagi dia paling tahu bagaimana cara membalikan mood saya saat lagi bad mood. Obrolan kami selalu cair. Dia tahu cara menempatkan diri, menjaga perasaan, dan nyaris bisa saya andalkan."

Saat mendengarnya, saya merasa Stefani tulus. Apalagi Stefani langsung memeluk erat Petrus dan berciuman bibir lagi.

"Saya juga sangat bahagia memiliki Stefani. Omelannya bagaikan sebuah simfoni sekelas Bach di telinga saya. Jewerannya juga--seperti dibelai saja."

Giliran  saya yang tercenung. Lama sekali. Baru kali ini saya menyaksikan sebuah platonic marriage. Itu sebuah pernikahan selibat, tanpa melakukan hubungan seksual. Saya kira itu hanya ada dalam dongeng saja. Tapi nyata ada di dunia ini. Well, Inilah bentuk pernikahan yang sungguh berlandaskan cinta sejati. Pada hakekatnya memang pernikahan tidak melulu soal seks. Seks hanya pelengkap dalam pernikahan. Kenapa akhir-akhir ini pernikahan tanpa seks itu dianggap aneh; dianggap hanya untuk kepentingan status dan materi? Bukankah hidup bersama selalu dengan orang yang sangat kita cintai itu sudah lebih dari cukup? Platonic marriage (pernikahan selibat) itu sangat mungkin terjadi jika ada niat melakukannya. Contohnya ada di depan saya.

Dan, bukankah Yusuf dan Maryam juga menikah selibat--sepasang tunangan yang dipakai Sang Khalik untuk melahirkan Yesus?