Thursday, October 22, 2015

Tidak Harus Mengalami Sendiri; Hanya Butuh Kepekaan

Dokumentasi pribadi.




Aku lupa kapan dan oleh siapa. Yang jelas, ada seseorang pernah berujar seperti ini: "Tapi orang biasanya lebih suka membaca sesuatu yang kamu tulis, dan itu dari pengalaman kamu sendiri."

Aku nyengir sedikit, sebelum akhirnya menuliskan balasan untuk suatu tutur yang kulupa kapan pernah kudengar. Begini jawabanku:
"Well, itu benar. Aku harus akui memang faktanya seperti itu. Tapi apakah tiap menulis cerita atau tulisan itu harus dari pengalaman sendiri? Jika aku mau menulis soal bos kartel narkoba, apa aku harus mendatangi bandarnya, lalu beli dagangannya, sampai rumah icip-icip dan berdelusi lihat bidadari tercantik, hingga tanpa kusadari aku sudah mendekam di bui karena kedekatanku dengan pemasok, bandar, hingga bos besar?

Tidak, kan? Lagipula, bukankah di dunia ini, kita pun harus belajar dari pengalaman orang lain lalu menghindari kesalahan yang sama. Aku rasa, belajar itu tak hanya dari pengalaman yang kita alami sendiri. Justru itu membuat kita jadi makin egois. Sehingga membuat kita jadi buta dan tuli akan apa yang dialami oleh orang lain. Kita merasa yang dialami orang lain kurang cukup untuk menghindarkan diri kita dari hal yang semestinya harus kita hindari. Dengan belajar dari pengalaman orang lain, itu membuat kita makin peka lalu berempati pada apa yang telah mereka alami. Dunia ini butuh orang-orang yang peka, yang karena kepekaan mereka, telah membuat dunia ini jadi makin lebih baik lagi."

Dunia sudah makin gelap. Jangan dibikin gelap lagi. Ajaran agamaku mengatakan, "Jadilah terang untuk dunia yang gelap ini,"

Sekian dan terimakasih (untuk yang membaca celotehan tak bermutu ini).