Wednesday, October 21, 2015

Bijaksanalah dalam Menghadapi Si Tren



"Jangan terlalu mengikuti tren. Enggak ada habisnya mengikuti tren itu." - Bu Retno (anggap saja nama samarann), tetangga samping rumah. 





Tak tahu kenapa, makin lama aku makin sadar. Iya, aku sadar aku sudah menua. Sudah 27 tahun, sebentar lagi 28. Dan,... bla-bla-bla... waktu sangat cepat mengalir, eh sudah 30 saja usianya. Ada yang bilang, kehidupan manusia itu baru dimulai di usia 30 tahun. Eh, walau begitu, aku belum 30 juga. Masih tiga tahun lagi menuju ke sana. Lalu sedikit melihat ke belakang, telah banyak yang sudah aku alami. Pahitnya ada, manisnya ada. 

Sebetulnya bukan karena aku melihat ke belakang, atau karena sadar sudah mau menginjak usia 30, lalu aku jadi tersadar akan banyak hal. Namun karena, untuk tahun ini saja, telah banyak kejadian-kejadian tak mengenakkan yang aku alami. Belum lagi tahun 2014 atau 2013 atau tahun-tahun sebelumnya. Terlebih lagi setelah mendiang Mami sudah dipanggil Tuhan, aku mulai menyadari banyak hal. Ada satu hal paling penting yang aku sadari: aku sadar untuk belajar lebih realistis. 

Well, sepertinya makin menua, memang kita harus makin belajar untuk menjejakkan kaki ke bumi. Bukan, bukan aku mengajar untuk berhenti bermimpi. Bermimpi, yah boleh-boleh saja. Namun sepertinya saking terlalu banyak harapanku buyar, aku mulai belajar untuk bersikap realistis. Kalau dulu, seorang Nuel bisa saja bermimpi yang paling ngaco sekalipun. Kalau sekarang, heh, ya sudahlah, bisa hidup saja sudah bersyukur sekali. Sekarang yang paling diinginkan Nuel itu ialah bisa segera memberikan bukti nyata ke keluarga inti bahwa dirinya mampu mandiri (secara finansial). Tidak merepotkan, membebani, atau menyusahkan mereka. 

Bukan mau mengungkit lagi, bukan pula aku masih dalam keadaan berduka, tapi memang kurasakan sendiri bahwa kepergian mendiang Mami itu benar-benar terasa sekali. Perbedaan antara masih ada dan sudah tiada itu sangat kontras. Salah satu itu soal finansial. Sekarang orang rumah jadi begitu sensitif soal uang. Contohnya waktu tagihan listrik membludak, langsung kalang kabut tak keruan tanpa mau berpikir jernih kenapa bisa begitu. 

Tidak hanya mereka juga sih. Aku pun sama. Memang sekarang masih suka boros. Saat sampai bokek, akhirnya baru sadar betapa banyak uang yang terbuang untuk hal-hal yang sia-sia. Selain itu, aku juga berpikir mau sampai kapan begini terus. Itulah yang bikin aku tak mau berpikir yang macam-macam. Sekarang bagiku itu mapan secara finansial jauh lebih penting. Nanti dulu, deh, impian jalan-jalan ke suatu tempat atau beli barang-barang yang paling diinginkan. Jauh lebih penting agar bisa segera menghasilkan uang dari yang dikerjakan, entah dari menulis maupun memotret (atau dari lahan lain). 




Dokumentasi pribadi. 



Soal tren
Lagi pusing memikirkan bagaimana mendapatkan uang dengan mudah (tanpa harus merampok), tebersit kata-kata ibu temanku yang jadi tetangga. Enam tahun lalu, di bulan November, saat mau beli ponsel yang kekinian sekali, ibu itu pernah bilang, "Jangan terlalu mengikuti tren. Enggak ada habisnya mengikuti tren itu."

Dulu sih aku hanya menganggap angin lalu. Namun sekarang setelah kupikir-pikir, yah benar juga. Yang namanya tren itu tidak ada habis-habisnya. Tidak ada titik akhirnya. Pas masih kuliah, lagi ngetren blackberry. Sekarang orang memegang blackberry itu sudah terasa kampungan sekali. Yang tengah ngetren itu android (atau bahasa lain, smartphone). Bukan tidak mungkin, lima tahun ke depan, ada lagi yang lebih keren yang bakal digandrungi jutaan warga negara Indonesia. Ponsel yang diaktifkan dengan menggunakan suara misalnya? 

Lantas, dengan segala tren yang selalu berubah-ubah, apa kita harus menjadi budak tren? Apa kita harus mengikuti perkembangannya? Gonta-ganti ponsel seenak jidat seolah tengah beli gorengan di abang-abang saja. Coba barang ini-coba barang itu. Ada baju model terbaru, harus beli. Eh CD musisi ini keluar loh, beli ah. Dan, bla-bla-bla lainnya. 

Eh tapi aku tidak mengajarkan untuk memusuhi tren juga. Yang aku soroti itu kenapa harus sampai jadi budak tren, Sampai-sampai, saking jadi budak, kita sampai kehilangan kepribadian kita. Harusnya kan tren itu dibuat untuk manusia, bukan sebaliknya. Kita yang mengendalikan tren. Bukan malah terkendali oleh tren, sehingga apa yang dikeluarkan oleh tren, yah kita ikuti tanpa ada habis-habisnya, termasuk tren yang negatif.

Kita sendiri yang memilah-milah mana yang terbaik. Kalau tren itu tak sesuai untuk kita, yah jangan dicoba. Jangan dibeli barangnya, walau katanya sejuta umat memakainya. Mubazir kan? Untuk membelinya juga perlu uang yang tidak dengan menadahkan tangan, langsung keluar begitu saja. Bahkan seorang pengemis pun perlu menunggu tiga jam agar mendapatkan uang senilai sepuluh ribu rupiah. Itu juga harus bertarung melawan cuaca, preman, kamtib, atau hal-hal lain. 

Lantas kalau kita terus menjadi budak tren, kapan juga bisa mengetrenkan sesuatu? Sadar juga tidak bahwa tren itu seperti berusaha menyeragamkan manusia? Manusia dengan latar belakang suku, agama, dan golongan yang berbeda-beda, seolah jadi sama di mata tren. Mereka jadi makhluk penghamba satu tren... anggap saja tren pengguna laptop Apple. Kalau ada yang tak menggunakan Apple, mayoritas sepakat mengatakan mereka norak, kampungan, katrok, atau kuper (kurang pergaulan). Padahal ada sejuta alasan mengapa mereka tidak mau menggunakan Apple. Bisa saja tak mampu atau spesifikasi dalam Apple yang tak sesuai hasrat mereka. 

Jujur, aku sendiri tak sedang memusuhi tren. Terkadang tren yang ada kurasakan juga manfaatnya. Contohnya seperti ponsel android yang mulai kugunakan sejak awal tahun lalu. Semenjak menggunakan ponsel ini, aku merasakan banyak kemudahan dalam mengurus banyak hal. Berbagai proyek jadi termudahkan berkat si android dengan kondom ungu. Pasti terasa sulit sekali jika aku masih setia dengan si Soni Eriksen, yang keypad masih jadoel, spesifikasinya seadanya, yah pokoknya kurang begitu menunjang karier deh. 

Tapi aku sadar tren yah hanya tren. Sudahlah, cukupkan saja dengan si android ini. Toh masih bisa digunakan, masih tahan banting juga, belum perlu android lain yang lebih menawan. Yah kalau ada kemampuan, yah kuganti. Namun tidak terlalu terburu-buru. Lagipula biarlah dikatakan kampungan. Kita ini yang jalani hidup. Kita tahu mana tren yang paling cocok untuk diri kita sendiri.

Aku juga tak mempermasalahkan jika pakaian dari ujung leher sampai tumit kaki itu tak ber-brand mahal. Bagiku, selama nyaman dipakai, kenapa tidak? Buat apa baju dari Dorce Bonbin, tapi bahannya malah bikin merasa gatal-gatal? Tanpa disadari, kadang tren bisa mengantarkan kita ke jurang maut. Apalagi sampai terobsesi menjadi budak tren. 

Sekali lagi, aku tidak mengajak untuk memusuhi tren. Bagaimanapun tren memang diciptakan untuk manusia, walau masih kurang tahu persis juga apa kegunaannya. Aku juga sama sekali tidak meminta untuk didengar atau diperhatikan. Terserah yang baca juga. Yang aku minta sih, coba direnungkan sejauh mana kita mengikuti tren? Adakah tren yang kita ikuti sampai membahayakan nyawa? Yuk, bijaksana dalam menghadapi Si Tren. 

Sebab tak semua tren--tak selamanya juga--harus kita ikuti. Pilah-pilah. Bijaksanalah! 


10 comments:

  1. emang kadang apa yang kita inginkan sebenernya bukan yang kita butuhkan bang. Mangat yo...

    ReplyDelete
  2. yeah trend itu berbanding lurus sama situasi keuangan my fren.
    duit emg sensitif dan kalo ngikutin bener2 tren yang ada bisa gempor isi rekening kitah.
    tapi yah ada aja bbrapa org yang sanggup, kadang sirik tapi cuek ajalah.
    gue sempet kepancing pas era hijrahnya temen2 gue dari handphone qwerty ke handphone yang gak dapet keypad a.k.a. touch screen... buset kyanya keren betul. walhasil kerja pontang-panting sampe kebeli, pas kebeli ehh nongol lagi tren lain. buset gaada abisnya emag kalo ngikutin tren dalam bidang apapun.

    tergantung fungsi dan kebutuhan sajalah fren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ada lagi yang harus gue bilang, gue setuju sama yang lu bilang. Tren emang berbanding lurus sama situasi keuangan. Nggak bisa maksain diri juga. Dan, itu juga nggak bakal ada habis-habisnya kalau diikutin.

      Delete
  3. Gak semua tren bisa kita ikuti, atau lebih tepatnya pantas untuk kita ikuti. Duh, ngomongin umur jadi baper, gue juga kadang suka nyess kalau udah inget umur hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha... Iya gue juga suka males ngomongin umur. Haha

      Delete
  4. kadang yang sedang tren belum tentu cocok buat kita

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^