Friday, August 14, 2015

Anak keempat saya LAHIR!




Anak pertama aku sudah lahir Juni 2013 silam. Sayang masih berada di tangan bidannya. Entah kapan bisa dibawa keluar, lalu diperkenalkan ke publik. Aku masih menunggu. Begitu amat sangat menunggu. Sebab anak pertama aku itu memang luar biasa sulit pembuatannya. Butuh waktu empat tahun--yang harus melewati banyak revisi dan penolakan.




Sementara anak kedua aku, "Kamisama no Cempe Kanefe", lahir Juni tahun lalu. Tak terlalu istimewa sebetulnya. Pengerjaannya hanya butuh waktu dua bulan. Sedikit mengalami revisi dan penolakan. Dan, jujur, aku terlalu memaksakannya lahir. Kurang mengimpreskan orang banyak. Tapi si nomor dua sudah memberikan suatu kebanggaan buat aku sendiri. Akhirnya bisa merasakan jadi seorang author; bisa merasakan pula mempromosikan mati-matian walau--yah hasilnya--tak memenuhi ekspektasi. Di bawah malah. 

Berikutnya, anak ketiga menyusul. Namanya "Ai Shin'yuu" . Cukup sering mengalami revisi. Tak ayal, isinya itu berbeda dari naskah awal. Sekitar 75% berubah total--yang menjadi lebih gemukan. Ditolak? Lebih sering lagi (tapi belum sesering si anak sulung). Si ketiga ini pun aku taruh di bawah pengasuhan bidan bernama Raditeens Publisher. Alasannya: aku masih tetap berusaha memberikan kepercayaan ke Raditeens. Walau tak terlalu sukses dalam mengangkat si nomor dua, aku masih tetap memberikan kepercayaan ke Raditeens dalam membuat si nomor ketiga (yang semoga saja) lebih dahsyat dari si nomor dua. 

Selanjutnya, lahir pula anak keempat, "Destiny 41". 90% isinya berbeda dari naskah awal. Revisi dan penolakan yang lebih lagi. Sampai aku merasa muak dengan si nomor empat. Tapi setelah baca lagi isinya, aku seratus persen merasa puas. Sewaktu memosisikan diri sebagai pembaca, aku merasa si nomor empat sudah layak sebagai suatu bahan bacaan yang menghibur (mari ditandakutipi kata 'menghibur'). Pemilihan bidannya pun tak asal. Aku mengenal si bidan ini--Kalimaya Publishing--dari seorang teman blogger yang lumayan cukup akrab, +Glen Tripollo . Anak itu bekerja pula di Kalimaya, dan artwork-artwork buatannya sangat memesona hati. Kupikir, mungkin tak akan jadi sia-sia belaka jika si nomor empat dipercayakan ke Kalimaya. Semoga saja ekspektasi ini tak terlalu berlebihan. 

Bicara soal si nomor empat, awal pembuatannya itu sekitar Desember 2012. Jujur saja, idenya dari sebuah anime berjudul Ranma 1/2. Awal pembuatannya dibuat dengan penuh perjuangan sekali. Kalian tahu, monitor notebook aku itu sempat pecah layarnya. Aku jadi harus mengetik dengan layar PC. Bisa kalian bayangkan betapa sakitnya leher saat mengetiknya. Awalnya pula, si nomor empat berjudul "Atlantis Destiny", yang langsung dikirim ke sebuah penerbit major yang harus berjuang ekstra ke sananya. Aku harus hujan-hujanan dan menunggu waktu sekian bulan hanya demi sebuah kata "tidak". 

Namanya itu juga sebetulnya datang saat iseng bikin sekuelnya. Well, awalnya si nomor empat ini kembar. Tapi akhirnya batal. Karena kupikir, sepertinya jadi satu novel saja. Kurombaklah habis-habisan hingga menjadi seperti ini. Sempat pula si nomor empat ini pakai nama lain. Tapi akhirnya balik ke namanya yang sekarang. Nama itulah yang pantas. 

Hmm...

Hei, si nomor empat (pula si nomor ketiga), semoga kamu tak seperti kakakmu, si nomor dua, Papa mohon jangan bernasib sama yah! Kamu itu penuh perjuangan sekali dalam hal pembuatan, pembidanan, sampai akhirnya keluar. Nyaris dua belas bulan buat kamu akhirnya lahir. Jadi, berikan Papa kebanggaan yang lebih yah!










Tertarik untuk membeli dan membacanya?

Yuk order novelnya. Silakan gabung di grup Facebook, Kalimaya Publishing. Atau hubungi Mbak Ana Sue di 08568022395. Mbak Ana itu salah satu kru Kalimaya. Jadi untuk cara pemesanan dan harga (yang mana aku belum diberitahukan), silakan tanya Mbak Ana Sue yah. He-he-he! 





Cuplikan isi:


     Lalu Diaz pun mulai menceritakan mimpinya itu. Cukup detail. Nyaris tak ada bagian yang disensor. Maria begitu antusias memperhatikannya. Dan di akhir cerita, gadis itu tergelak.
     “Katanya nggak mau ketawa… gimana sih?” protes Diaz.
     “Habis mimpi kamu itu sih…” dalih Maria. “Aku nggak nyangka, kamu segitunya…”
     Diaz meneguk air liur. Mukanya merah sekali sampai ia nyaris mau dibenamkan saja ke jalan beraspal beton di luar. Ia berharap, ada pengemudi truk ugal-ugalan yang mau melindas mukanya sampai tak terbentuk lagi.
     “Kamu benar-benar memimpikan bisa menikah sama aku, yah?”
     Diaz mengertakan gigi. Ia bahkan tak berani menatap Maria.
     Maria terus memandangi wajah Diaz yang terbakar malu. Setelah itu, ia memutar bola mata. Ia terpikirkan satu hal, detil yang cukup penting – menurutnya. “Eh tapi, kok kamu bisa mimpiin Tiara juga sih? Sampai mimpiin kamu lagi direbutin gitu? Kamu ada perasaan juga yah ke Tiara?”
     Tanpa memandangi Maria, Diaz mnyembur, “Tadi kan aku bilang jangan ketawa atau ngambek. Dan sekarang kamu mau langgar dua hal itu. Kamu udah ketawa, dan sekarang mau ngambek?” Diaz berdecak-decak.
     “Tapi bagian itu nggak penting deh. Aku lebih suka bagian yang soal nikah dan kata ‘sayang’ itu.” ujar Maria tersenyum manis sekali. “Kamu tahu nggak? Ada yang bilang, mimpi itu hasil dari hasrat terpendam.”
     Diaz tak mendebat. Ya Tuhan, bejek-bejeklah aku.
     Kesunyian itu pecah, saat Innova itu baru saja melewati rest area Tangerang. Diaz mendadak tergelak.
     “Maria, Maria, aku baru kali ini lihat ada orang kayak kamu. Baru kali ini ada yang polosnya kayak kamu. Kamu itu memang centil, tapi centil polos.” Diaz kira hanya menggumamkannya dalam hati. Ternyata tanpa sadar malah bersuara lumayan kencang. “Kamu itu memang kayak anak kecil, itu yang bikin aku suka sama kamu.”
     Maria memerah mukanya. Tapi cukup syok mendengar perkataan spontan Diaz tersebut. Mungkin Diaz terpengaruh oleh topik yang tengah dibawakan oleh si Tina.
     Maria berbinar-binar memandangi Diaz. Ucapnya lirih: ”Diaz…”
     Diaz sontak tersadar dan segera meralat ucapannya, “Udah deh, lupain kata-kataku itu, cuma becanda doang kok. Nggak mungkin aku bisa suka sama cewek centil kayak kamu.” 

***

           Ngambeknya Maria sungguh merepotkan keluarga Rohie. 
        “Maria, makan, yuk,” ajak Ibu Tantri. “Kamu kan dari tadi belum makan, dan sekarang juga sudah jam delapan malam. Yuk, makan – nanti perutmu sakit.”
          “Nanti aja, Tante,” tolak Maria halus dengan tatapannya masih pada layar notebook. “Aku mau kerjain tugas dulu. Juga belum lapar, kok.”
           Ibu Tantri tak mudah percaya begitu saja. Ia beringsut ke arah Maria berbaring sambil bermain dengan notebook-nya itu. “Tugasnya di Youtube yah? Kok kartun?” sindir Ibu Tantri.
Wajah Maria merah. Ia terburu-buru menutup browser-nya dan mengambil posisi duduk sama seperti Ibu Tantri. “Tanteeee!!! Kok ngelihat sih? Malu tahu.”
Ibu Tantri terkikik. “Oya, Maria, kamu ribut lagi yah sama Diaz?” selidik ibu Diaz yang jago memasak masakan Italia karena diajari oleh ibu Maria yang memang kelahiran Lecce, Italia.
Maria mengangguk lemah. “Diaz suka banget bikin aku kesal, Tante.” desahnya.
Ibu Tantri terkikik lagi. “Itu artinya dia memang suka, kan ada yang bilang, ‘Dari benci jadi cinta.’” ucap Ibu Tantri melantur.
Maria nyengir. “Tante bisa aja.”
Ibu Tantri terkekeh. “Kalau lihat kamu tersenyum gitu, kamu udah nggak ngambek lagi dong?”
Maria hanya tersenyum.
Makan yuk, Mar. Nanti kamu sakit.”
Aku belum lapar tapi, Tante.”
Tapi kamu belum makan. Diaz cerita ke Tante, kamu juga belum makan sejak siang.”
Gadis itu mendengus. “Kalau Diaz khawatir sama aku, kenapa dia nggak datang sendiri ke sini?”
Diaz kan pemalu, Sayang. Mungkin dia malu untuk menyatakan rasa sayangnya ke kamu. Walau awalnya judes ke kamu, akhir-akhir ini Tante lihat ia sebetulnya juga suka kamu. Tiap kamu ngambek, ia datang ke Tante supaya bujuk kamu untuk nggak ngambek lagi.” Ibu Tanrti mungkin hanya membela anak bungsunya itu.
Maria tertegun. “Tapi kenapa kalau di depanku, dia dingin sih? Terutama tadi sore waktu masih di jalan, sempat-sempatnya ia nyebut-nyebut Serena.”
Kan Tante udah bilang tadi, Diaz pemalu.” ujar Ibu Tantri memegangi kedua bahu Maria. “Plus mungkin ia lagi cuma menggoda kamu, Maria. Cuma bercanda, nggak serius.”
Pemalu, tapi suka pasang tampang manis ke tiap cewek. Aku juga nggak yakin, dia tadi cuma bercanda.” Maria coba menangkis fakta yang disodorkan Ibu Tantri.
Masa sih? Kalau Tante lihat sih, Diaz itu anaknya suka ramah ke semua orang, hanya saja orang lain – khususnya perempuan – suka salah tafsir.” Ibu Tantri masih terus membela anak bungsunya itu. “Kamu itu tuh, jangan terlalu sensitif gitu ah. Nggak baik.”
Maria memutar bola mataya di tengah rangkulan Ibu Tantri.
Oya, Maria, kamu ingat, nggak, waktu awal-awal kamu tinggal di sini?” pancing Ibu Tantri.
Maria mengangguk pelan.
Tepatnya lagi, tiga hari sejak kamu datang.” lanjut Ibu Tantri. “Kamu ingat, nggak, waktu pertama kali coba belajar masak sama Tante?”
Nggak akan pernah lupa, Tante.” Maria mulai angkat suara kembali. “Tante kan lagi ngajarin masak soto ayam.”
Terus di akhir acara memasak kita, Diaz pulang dari kampusnya. Terus kamu tawarin soto buatanmu ke Diaz yang pergi ke dapur buat makan siang. Tapi sayangnya, Diaz malah dingin ke kamu, kan? Dia malah bilang,…” Ibu Tantri sengaja tak meneruskan lagi kata-katanya, ia sedang menggoda Maria saja.
“…’Siapa sih lu? Sok kenal banget!’ “ Maria yang melanjutkan sisanya. “Aku nggak bakal lupa, Tante”
Terus kamu lupa, nggak, kata-katamu waktu kamu curhat ke Tante di kamar ini?”
Maria hanya menjawab dengan kedua pipi memerah dan kepala tertunduk.
Kamu bilang: ’Kenapa sih Diaz cuek begitu? Jahat. Kasar. Nggak sensitif. Nggak romantis.’ Terus kamu juga bilang: ‘Kenapa sih Diaz nggak bisa seromantis cowok-cowok lain?’ Itu kan yang kamu bilang waktu itu? Tante nggak bakal lupa, lho. Itu semua serasa baru kemarin saja kejadiannya bagi Tante.”
Maria tetap menunduk dan pipinya masih memerah.
Dan sekarang… Kalau menurut Tante, apa yang dilakukan Diaz selama ini, itu semua sudah cukup romantis. Karena menurut Tante, romantis itu adalah saat dimana pasangan kita suka melakukan hal-hal tak terduga di luar dugaan dengan mengorbankan apa saja yang dia mau, dan itu semua dilakukan demi kita – kebahagiaan kita. Dan dalam hal ini, Diaz sudah banyak sekali melakukan aksi-aksi romantis. Salah satunya, soal video dan tiket itu.”
           Maria tak menjawab. Hanya bergeming dan tetap menundukan kepala.


***

          “Diaz, bantuin aku,” Maria tergopoh-gopoh berlari-lari menyusuli Diaz yang agak jauh. “Koper ini berat tahu.”
Suara kencangnya itu jadi menarik perhatian para pengunjung bandara. Banyak yang memperhatikan; dikiranya sedang ada proses pembuatan film drama. Diaz jadi jengah. Dengan ogah-ogahan, ia kembali pada Maria, tunangannya itu. Ia menggeram.
Lagian ngapain bawa banyak banget barang bawaan? Kita cuma liburan di sana, bukan tinggal. Holiday, not stay or live. Understand?” protes Diaz merengus dahsyat. Beberapa kali ia mendengus.
Kamu kayak nggak tahu cewek aja. Yah cewek kan emang gitu, barang bawaannya selalu lebih banyak dari cowok.” bela Maria sengit.
Aku punya banyak teman cewek dan suka travelling, tapi nggak serempong kamu deh. Contohnya, si Velita itu.”
Maria cemberut. “Apa sih? Kok jadi bawa-bawa dia? Mau CLBK yah?”
Diaz nyengir. “Kalau iya, kenapa?”
Auw, perut Diaz melilit. Bukan karena gejala sakit perut, tapi karena cubitan Maria yang langsung bilang, “Rasain.”.
Sakit, Mar.” Cowok itu masih mengelus-elus perutnya. “Iya, iya, aku bantuin – atau tepatnya, kita barter. Kamu bawain ranselku ini – “ Ia menunjuki ransel warna merah tua campur coklat tua yang digendongnya. “ – yang nggak seberat kopermu itu.” Tunjuknya pada koper Maria ukuran besar warna ungu tua. “Mau nggak?”
Maria memutar bola mata.
Jangan kelamaan mikir deh, pesawatnya sebentar lagi dateng.” desak Diaz nyengir.
Gadis itu tersenyum. “Ya udah deh, aku mau. Aku juga emoh seret-seret koper yang beratnya ngalahin emasnya Monas itu.”
Diaz terkekeh seraya melepaskan ranselnya – lalu menyerahkannya pada Maria yang sudah melepaskan pegangan dari koper bermasalah tersebut. “Emang kamu udah pernah megang?”
Itu cuman joke doang, Diaaaaz…”
Oh joke yah? Garing dong berarti, krik-krik-krik.”
Perut Diaz melilit lagi. “Udah buruan jalan, ntar kita bisa nggak jadi lagi ke Puerto Rico-nya.”

***

             “Kalau jalan tuh pake mata yah?” ucap Tiara sinis. Tidak seratus persen sinis. Sinisnya hanya ke Maria, kok. Setengah bagian matanya malah ceria sekali. “Eh Diaz, ketemu lagi,”
              Tak hanya Tiara, ada pula Fidel, Ester, dan Adel.
              Diaz nyengir kaku. “I-iya, ketemu lagi kita yah? Kalian semua lagi mau pergi kemana?”
           Maria defensif sekali menjagai tunangannya tersebut. Ia mengambil ancang-ancang seperti seseorang yang tengah bermain gobag sodor. Tapi itu tetap tak menghalangi Tiara untuk beringsut lebih dekat pada Diaz.
          “Ke hatimu, Diaz Sayang….” ujar Tiara mengulum senyum menjijikan. Ia mencolek dagu Diaz.
        “Ra, jangan lebay.” Fidel dongkol. “Nggak ada dalam perjanjiannya kan, adegan colek-colekan.”
           Ester juga ikutan menegang.
        Hanya Adel yang masih waras dengan jawaban, “Tiara ngajakin aku sama yang lainnya buat pelesiran ke – “
“ – bawel lu yah. Ya udah ikutan aja godain Diaz kalau keberatan.” semprot Tiara.
Diaz terkekeh, Maria sewot. “Apaan sih kalian semua ini? Dasar kegatelan. Cowok itu kan banyak, tapi kenapa masih ngincer cowok orang sih?”
          Tiara melepas kacamata hitamnya. Ia menatap sengit Maria. Semburnya: “Suka-suka gue dong. Lagian gue sama Diaz tuh nyaris aja berpacaran kalau lu nggak sok nyebarin gosip nggak enak soal gue. Ngapain sih bilang ke semua orang di kampus, gue jalan bareng sama om-om?”
        “Lagian lu kan juga belum nikah sama Diaz. Itu artinya Diaz masih bisa digoda-goda.” ujar Fidel nyengir.
       “BEEEE-TUUUUL!!!” Dasar tak kreatif. Lagi-lagi Ester hanya menimpali. Entah dia tengah membenarkan kata-katanya siapa, Tiara atau Fidel.
           Maria jadi semakin meradang. Jemarinya siap mencakar-cakar wajah Fidel.
“Udah, udah, nggak usah berantem. Yang berlalu, biarkan berlalu – Oke?” kata Diaz mengondusifkan suasana. “Lagian waktu itu Maria hanya salah paham, Ra. Dia nggak tahu – itu Papa lu. Kok masih diingat-ingat aja sih? Lupain-lah.”
           ‘Tapi gara-gara dia, nama baik gue sempat tercemar di kampus selama dua bulan.” tukas Tiara.
         “Emang udah tercemar, kan?” ejek Maria. “Kamu kan sudah terkenal genit sama suka cari muka ke dosen-dosen.”
             Ester dan Fidel ngakak. Hanya Adel yang terlihat anteng.
        Tiara menggeram. Kedua tangannya siap mencakar-cakar wajah Maria yang nyaris tanpa jerawat atau komedo.
           Cowok itu sekarang benar-benar kepayahan. Selain menyeret koper Maria yang sungguh berat, ia juga harus menyeret Maria untuk menghindarkan mereka berdua dari menjadi tontonan para pengunjung bandara; sudah ada beberapa orang yang memperhatikan ia, pasangannya, dan ketiga perempuan yang baru datang. “Udah dulu yah, Tiara. Kami pergi dulu, pesawatnya juga baru datang.”
        “Ya udah, bareng aja lagi. Gue sama yang lain juga mau ke Puerto Rico kok. Lu mau ke sana, kan?” ucap Tiara tersenyum – menyusul Diaz segera.
      “Kamu kapan sih bisa jauh-jauh dari Diaz?” rengut Maria. “Dan please, stop stalking kehidupanku atau Diaz. Annoying banget, tahu.”