Friday, March 6, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Kamera Hantu



Genre: Horor



Pohon ini sangat mencengangkan. Bentuknya begitu artistik. Seperti pohon purbakala saja. Nuansa malam hari ini pun semakin menambah keartistikannya.




Dokumentasi pribadi.








Ah! Aku sudah mendapatkan ide. Konsep yang kuusung ini pasti akan memenangkan lomba tersebut.

K E R A M A T.

Pas sekali. Judulnya keramat. Bentuk pohonnya seperti ini. Waktunya malam hari. Hmm... sekarang jam sepuluh malam. Sungguh sempurna!

Tak sia-sia aku jauh-jauh dari Jakarta menuju ke kampung terpencil di Jawa Tengah. Lalu, harus tinggal hingga tujuh hari dan meninggalkan segala kenyamanan duniawi. Mengobrak-abrik isi kampung demi mendapatkan obyek foto menarik. Duit sudah keluar banyak pula. Semua itu kulakukan demi kontes tersebut. Trofinya, uangnya, kebanggaannya,... dan untuk portofolio-ku.

Hmm, syalalala.... aku mulai bersenandung bahagia. Ada baiknya segera kukeluarkan kamera dan lainnya dari dalam ransel. Ah, lensa ini sepertinya cocok. Sekarang tinggal kuatur diafragma yang cocok. Sebaiknya gunakan yang ini saja. Ah, ok, sip. Sudah mantap. Bersiaplah trofi, kau 'kan pasti jadi milikku!

"Dek,"

Urgh, siapa sih, mengganggu saja. Aku balik badan. Ternyata aki-aki. Aki yang berbaju kotak-kotak dan berblangkon ini mungkin warga kampung sini. Aki ini sama sekali tak bersahabat. Tegang sekali. Tersenyum sedikit kek.

"Adek ini ngapain?"

Baru kusadari si aki ini terlihat menyeramkan. Buluku jadi berdiri. Tapi hantu itu tak ada, bukan?

Kuangsurkan tangan. "Malam, Kek. Perkenalkan nama saya Aulia, saya seorang fotografer lepas--"

"Iya saya tahu, kamu fotografer. Tapi apa kamu tahu, kalau pohon ini angker?"

Aku menggeleng, nyengir.

Ia berdecak.

"Angker bagaimana, Kek? tanyaku cengar-cengit, hampir saja tawaku pecah.

Si Aki nyalang. Wajahnya menyiratkan kekecewaan. "Apa kamu tak pernah diberitahukan kepala desa sini, mana saja yang tidak boleh difoto?"

Aku menggeleng. Seingatku, Pak Badrodin tak memberitahukan apa-apa. Ia sendiri yang bilang bahwa kampung ini memiliki banyak obyek yang bisa membuatku menang lomba. Jika menang, total uang senilai dua puluh lima juta akan kudapatkan. Tentu saja hadiahnya akan kubagi bersama Pak Badrodin. Soal uang, pamanku itu culas.

Omong-omong, Pak Badrodin itu paman dari ayahku. Beliau itu adik bontot ayah. Berhubung keluarga ayah itu keluarga besar, ada delapan bersaudara, tak usah heran jika Pak Badrodin itu masih berjarak sepuluh tahun dariku--dan belum menikah.

"Dek, Kakek sarankan--agar kamera adek itu ditinggal saja. Apalagi sebelumnya Kakek lihat, Adek ini belum melakukan syaratnya."

Syarat?

Aku tak menggubris dulu. Entahlah, mungkin karena faktor keriput si aki yang cukup banyak, aku respek padanya. Walau tak percaya tahayul, begini-begini aku ini juga bukan orang yang tak tahu diri.

"Jujur, Kakek kecewa kenapa Pak Kades tak memberitahukan kamu soal apa saja yang boleh difoto. Ia bahkan tak memberitahukan--pohon ini--jikalau mau difoto--harus melakukan beberapa hal dulu."

Aku tak percaya tahayul. Tapi mengapa bulu tanganku semakin berdiri saja?

"Pohon ini sebetulnya tak boleh difoto. Tapi sepuluh tahun silam, ada seorang fotografer yang nekat mau memfotonya. Ia bersikeras ingin memfotonya. Bahkan saking ngototnya, ia bersedia membayar bayar berapapun asalkan bisa mengambil gambar pohon ini. Kebetulan saat itu kas kampung tengah payah, Kades saat itu benar-benar butuh uang untuk perbaikan sarana yang ada di kampung ini. Alhasil setelah berunding dengan tua-tua, si fotografer boleh memfoto pohon ini. Tapi ada syarat yang diharuskan: dia harus--"

Jantung berdetak makin kencang.

"--melakukan sesembahan ke pohon ini sebanyak tujuh kali. Dan itu harus dilakukan bersama tua-tua kampung."

Aku mengangguk sok paham. "Oh begitu,"

Mungkin karena melihat aku yang malah tersenyum, si aki berujar, "Kakek serius, Dek. Kakek tidak bohong. Mending Adek tinggal kameranya dibawa pohon, lalu minta maaf sambil menundukkan kepala sebanyak tujuh kali."

"Ya ampun, Kek. Itu cuma tahayul. Lagian di dunia ini mana ada setan sungguhan." Aku terkekeh.

"Keterlaluan! Terserah kamu sajalah. Kakek sudah peringatkan pokoknya. Kalau misalnya terjadi sesuatu, jangan salahkan Kakek. Salahkan saja Pak Kades baru yang tak tahu apa-apa soal sejarah kampung ini."

*****

Kutukan itu memang tak terbukti. Nyatanya aku malah bisa menjadi juara dalam kontes fotografi tersebut.

Atau sebetulnya sudah?

Setelah melakukan riset kecil-kecilan, kata-kata si Aki memang betul. Lewat dari kasus si fotografer yang sampai melakukan sesembahan itu, ada lima kasus sejenis. Mereka agaknya bernasib sama denganku--terkena kutukan.

Rupanya kutukannya itu tak seperti yang ada di cerita-cerita horor. Kutukannya tak menyerang si pelaku secara langsung. Mereka datang menghantui, mengendap-endap, dan... hap!

Temanku, Zaenal, tergelak sewaktu kuceritakan detailnya.

"Sampeyan tuh terlalu perasa. Biasa sajalah. Itu cuma tahayul."

"Tapi bukannya beberapa tahayul malah sering jadi kenyataan. Contoh soal burung gagak dan kematian."

"Itu cuma sugesti saja. Ndak usah sampeyan pikirkan sampai sejauh situ. Dan lagian kan, orang-orang yang mati itu juga mati secara wajar. Kayak si Doni yang mati karena diabetes." Ia nyengir lebar.

Hah? Mati wajar? Gila kali temanku ini. Setahuku, mati wajar itu saat di mana kita mati tanpa menemui satu penyakit dan tak lewat musibah. Itu mati wajar.

Sementara yang mati akibat jepretanku kan sama sekali tak wajar. Doni mendadak gemetaran hebat gara-gara hanya menghabiskan sepotong rainbow cake. Satu rombongan pelajar SD tewas dengan beragam sebab yang aneh-aneh. Ada yang mati setelah terjatuh dari ayunan; ada yang keracunan makanan; ada pula yang ditabrak motor saja sudah tewas. Belum lagi meninggalnya si walikota. Beliau mati karena pembegalan. Lalu masih ada saat seorang artis cantik datang untuk dipotret. Sebulan setelahnya ditemukan mayatnya yang tewas akibat disetubuhi sembari disiksa oleh pacarnya. Dan... Dan... Dan...

....dan masih banyak sederet kasus lainnya. Kurang lebih, total ada dua belas kasus.

"Sini, tak foto sampeyan buat membuktikan itu cuma tahayul belaka."

Ah aku telat. Berengsek. Zaenal sudah mengambil kamera DSLR yang kugeletakkan di meja. Ia sudah membidik dan...

...aku pasrah. Yang akan terjadi, biarlah terjadi. Kalau lolos, aku janji tak akan berbuat gegabah lagi. Aku tak akan meremehkan segala tahayul yang berkembang dalam masyarakat.

*****

Zaenal tergugu. Pria berambut berdiri itu begitu terbelalak matanya. Siapa sangka temannya, Aulia tewas semengerikan itu. Ini jauh lebih mengerikan dari semua korban sebelumnya.

Tiga hari sebelumnya, Aulia ditemukan mati seperti orang keracunan. Namun setelah divisum, tak ditemukan bukti bahwa ia sudah menggunakan obat. Tak ada pula tanda keracunan makanan. Ditemukan pula bekas jeratan, namun tak seperti kasus bunuh diri, walau kamar Aulia dalam keadaan terkunci. Jauh lebih aneh lagi, kamar Aulia dalam keadaan berantakan. Super berantakan. Hingga akhirnya, ditemukan beratus kali panggilan ke beberapa nomor. Anehnya nomor-nomor yang dihubungi tak pernah merasa dihubungi. Pun dengan SMS atau messenger.

Aneh. Pun mengerikan. Aulia bak tewas oleh...

...makhluk gaib?

Zaenal bergidik. Ia kadung menyesali kenapa tak percaya waktu itu.

2 comments:

  1. Kenapa waktu itu Zaenal tidak selfie berdua dengan Aulia yah?

    Lama gak berkunjung kesini, baru ngeblog lagi setelah kemarin berurusan ma kode2 HTML buat desain blog :)

    ReplyDelete
  2. Thank a lot, all. Thank atas komentar-komentarnya. Thank juga buat yang silent reader. Dilihat dari trafiknya, berarti emang dibaca. Makasih. Jadi semangat nih nulisnya lagi. Matur nuwun.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^