Wednesday, November 20, 2013

(Mungkin) Ada yang Lebih Menyakitkan Daripada Satu Fakta: "Karya Kita Diplagiat"


Sebetulnya kejadiannya itu terjadinya lumayan  lama. Terjadi beberapa bulan silam. Waktu itu inginnya sih nggak mau ditulis di sini. Nggak enak juga kesannya sama orang. Seperti menelanjangi diri sendiri saja, karena aku yakin orang pasti bakal mengira: "Ih, nih yang punya blog childish!" Citra diriku bisa semakin jelek dan orang pasti enggan untuk berinteraksi denganku. Itu yang kutakutkan. Lebih baik kucurahkan saja ke buku harian.

Tapi beberapa waktu lalu, tanggal 16 November 2013, aku mengalami peristiwa yang membuatku harus segera menuliskan kejadian yang kualami itu di sini: Immanuel's Notes. Kalau banyak blogger menganggap di-copas (Copy-paste) itu sebagai sebuah kejadian yang memedihkan dan menyayat hati, bagiku itu masih kurang. Ada satu bagian yang terlupakan dan lebih sakit: dianggap plagiat. Bikin sesak di dada, kalau ketemu orang yang bilang: "Tulisan hasil copas aja - bangga!" atau  "Tukang tiru!" - padahal nyatanya mereka keliru. Hal seperti itulah yang kualami. Tak hanya sekali, namun tiga kali.

Awal aku dituduh copy-paste itu tahun lalu. Kejadian itu sungguh membuat hari ulang tahun-ku jadi kehilangan makna. Hambar. Garing. Pikir deh, siapa sih yang tidak kesal, saat hasil jepretan kita disangka main comot dari search engine? Dikira gampang apa  - mengambil gambar-gambarnya itu? Tak gampang lho mengambil gambar suasana stadion Gelora Bung Karno waktu kedatangan skuad Inter Milan. Apalagi datangnya sendirian - tanpa teman. Mengambil gambarnya waktu itu juga bisa dibilang memacu andrenalin, apalagi untuk pemuda pemalu seperti aku ini. Takut juga, dapat teguran dari panitianya. Yah bisa jadi kan, ada larangan mengambil gambar, sebab aku juga datang tanpa membeli tiket; main selonong saja masuk ke stadion, karena mengikuti beberapa orang yang berhasil masuk. Dan aku juga berani jamin, foto-foto yang ada di postingan ini: (http://immanuels-notes.blogspot.com/2012/05/mungkin-senangnya-melihat-pemain-inter.html) adalah hasil potret aku dan bukan colong dari sebuah search engine yang namanya kita sudah akrab sekali.

Nah itu baru foto. Bagaimana dengan tulisan? Aku pernah juga. Kejadiannya itu April 2013 lalu. Atas dorongan untuk mendapatkan uang dari passion: menulis, aku mendaftar di sebuah situs. Situsnya, seingatku, membayarkan uang senilai Rp 15.000 atau Rp 20.000 untuk tiap postingan yang dibuat; yang lalu setelah melewati jumlah sekian - kayaknya sih Rp 200.000 - kita bisa tarik (Istilah kerennya, pay out). Aku lalu terpikirkan ide brilian. Bagaimana kalau aku sign-up di sana, terus sebagian (Atau keseluruhan) isinya diambil dari postingan-postinganku di Immanuel's Notes, lalu postingan-postingan yang bersangkutan dihapuskan (Makanya jumlah postinganku, kalau kalian pengikut sejati blog ini, bakal sadar itu berkurang drastis)? Selanjutnya,  beberapa postingan yang terpilih untuk diungsikan ke situs itu, kemudian kuatur waktu penayangannya. Postingan-postingan yang kuambil itu diambil sebanyak yang dibutuhkan agar bisa pay out. Berani sumpah juga - bahkan sumpah pocong juga mau kulakoni, postingan-postingan yang kupilih itu memang hasil dari memeras otak; bukan copy-paste dari situs antah berantah. Berikutnya, kutinggalkan situs itu dengan harapan menunggu saat pay out.

Kurang lebih lewat sebulan, iseng saja aku membuka kembali akunku di situs tersebut. Namun apa yang terjadi? Kampret, aku nggak bisa log in. Kucoba-coba, tetap saja tidak bisa. Aku lalu coba menenangkan pikiran. Kucoba telusuri aktivitasku di situs itu. Tapi apesnya, tak ada namaku di sana. Beberapa postingan yang sudah kubikin berjadwal juga tak ditemukan. Dari sinilah, aku tahu satu fakta: akun punyaku kena banned. Banned tanpa pemberitahuan dulu; di surat elektronik, tak ada pemberitahuan dari situs tersebut. Setelah kejadian itu, aku mencurahkan uneg-uneg ke beberapa teman. Hasilnya, ada satu teman yang memberitahukanku: "Gue tau. Mungkin lu posting di sana dalam rentang waktu singkat dan terus menerus, jadi dikira cuma copas - got it?"

Jeger!!!! Ini kali keduanya aku disangka terlibat kasus plagiasi. Sebelumnya foto, kini tulisan.


Berikutnya, aku mencoba berbaik hati. Kucoba mengirimkan pesan yang isinya duduk permasalahannya. Kuceritakan saja rencanaku dalam situs tersebut (Eh tapi, memindahkan postingan itu bisa dikategorikan nggak sih sebagai plagiat? Toh juga yang di-copy-paste itu tulisan sendiri kok; bukan tulisan orang lain). Pesan-pesanku tak ada yang dibalas. Masuk spam pun tak ada. Sakit hati. Aku merasa dizolimi. Bagaimana tidak dizolimi? Coba kalian pikir, bukankah situs itu tak ada itikad baik? Mereka tidak melakukan pemberitahuan lebih dahulu sebelum keputusan banned tersebut. Dan mereka tak membalas pesan-pesanku; mereka tak membiarkanku membela diri. Padahal terdakwa saja punya hak melakukan pembelaan.

Selain itu, tulisan-tulisan itu tidak kupublikasikan dalam satu hari. Sekali lagi, tulisan-tulisan itu kubikin berjadwal. Hari senin, tulisan tentang berak sambil mabok yang dimuat. Besoknya, yang diposkan itu tulisan mengenai cara menangani anjing gila. Seperti itu. Dan tulisan-tulisan asalnya - yang ada di Immanuel's Notes - juga sudah kuhapus. Kalaupun mereka berhasil melacak bahwa tulisan-tulisan itu berasal dari Immanuel's Notes, mereka akan tahu tulisan-tulisan itu dibuat oleh orang yang sama. Seingatku juga, aku juga sudah memasang foto diri di profilnya. Alamat surat elektronik yang kupakai juga sama dengan alamat yang kugunakan untuk log in di Immanuel's Notes.

Aaah.... (* Menghela napas)

Sumpah, masih kesal kalau ingat kejadiannya. Tapi ya sudahlah, pengalaman adalah guru yang terbaik. Pesan moralnya:

"Ada yang lebih menyakitkan daripada mengetahui tulisan kita diplagiat dan itu adalah.... dituduh melakukan aksi plagiasi atas tulisan sendiri." 

Kejadian itu mendorongku untuk membuktikan ke mereka, aku bukan tukang plagiat. Aku semakin gencar menulis - entah itu cerpen, postingan blog, artikel, hingga novel.

Jujur saja, aku bukan tukang copy-paste. Tapi tak munafik juga, aku pernah melakukan copy-paste. Biasanya kalau itu terjadi aku akan bilang itu copy-paste darimana. Selalu kusebutkan pula sumbernya (Baca: Link artikel). Mengambil gambar saja, sekarang ini, tak langsung grab. Aku hanya mengambil link gambarnya. Dan biasanya artikel yang kucomot itu... yah untuk have fun, tukar menukar informasi, dan tak ada niat komersial. Biasanya juga ku-posting di notes akun Facebook punyaku; bukan di blog.

Jujur saja, aku juga mengecam aksi plagiasi, khususnya di dunia maya ini. Aku memang belum pernah merasakan momen dimana tulisan kita diplagiat, apalagi untuk kepentingan komersial. Tapi aku bisa merasakan jengkel dan emosinya korban copy-paste tersebut, apalagi yang untuk kepentingan komersial. Aku tahu, menggambar, menulis, atau bikin video itu susahnya minta ampun. Apalagi kadang juga aku butuh waktu dua-tiga jam untuk bikin satu tulisan. Makanya aku kan sudah bilang - aku mengerti sekali betapa sakit hatinya saat tahu tulisan kita diplagiat. Itulah sebabnya, aku rada takut bermain-main dengan plagiarisme (lagi). Selain bisa dipidana, nama baik juga tercoreng. Susah lho membangun kredibilitas itu. Selain itu pula, tambahan informasi, pernah juga mengalami kasus plagiarisme yang bikin aku susah tidur.

Terakhir, untuk teman-teman korban plagiat, saat tahu kita diplagiat, coba deh berpikir jernih dulu. Jangan langsung kebakaran jenggot. Kalau kalian merasa berbakat menulis atau  menggambar atau apalah itu yang panggungnya itu di dunia maya, coba deh berpikiran positif. Sedikit legowo juga karya kita di-copas, terlebih kalau itu bukan demi kepentingan komersial. Cobalah berpikir seperti ini:

Mungkin seorang seniman harus melewati fase diplagiat dulu sebelum nama dan karyanya dikenal banyak orang. Sebab plagiasi itu sebetulnya pengakuan secara tak langsung bagi si seniman.Karena itu artinya, karya si seniman itu bagus, sehingga orang melelahkan diri untuk melakukan aksi plagiasi. Selanjutnya, biarkan waktu yang akan menjawab. Orang-orang pasti tahu kebenarannya. Bersabarlah sebentar. Tahukah kalian - Kangen Band itu besar karena plagiarisme? Makanya sempat ada julukan untuk mereka: "Band Hantu" (Kalau nggak salah).

Kalau kalian merasa takut untuk mempublikasikan karya kalian di sini, yah jangan diedarkan di dunia maya. Coba deh dikirimkan saja ke media massa yang butuh kesabaran ekstra. Atau.. saran nih... buat yang suka gambar atau bikin artwork, coba dibubuhi tandatangan kalian (Atau sesuatu yang menjadi tanda bahwa itu buatan kalian). Jadi kalian tak perlu risau karya kalian akan disalah-gunakan. Tentunya 'tandatangan'-nya itu identik dengan situs atau blog dimana kalian posting-kan.

Untuk para penulis yang pernah jadi korban atau takut di-copy-paste, bikin saja blog kalian jadi anti copy-paste. Tapi resikonya, ke depannya kalian sendiri yang akan direpotkan, apalagi yang kurang mengerti IT (Bahasa kasarnya, gaptek - gagap teknologi). Atau cobalah jangan menuliskan sesuatu yang kemungkinan besar akan di-copy-paste. Tulislah saja pengalaman kalian; itu jarang sekali diplagiat, sepengamatanku.

Buat para pelakunya, yah silakan saja sih melakukan copy-paste. Tapi mohon yah sebutkan sumbernya (Link artikel). Plus belajarlah untuk menghargai hasil kerja keras orang lain. Walau tak bisa memenuhi kebutuhan ekonominya, sekiranya dengan tidak mengakui apa yang di-copy-paste, itu sudah cukup sebagai bukti menghargai kerja keras orang lain. Kalau mau dibagikan, akan lebih baik lagi - klik tombol share. Semua situs pasti ada, kok. Bayangkan coba kalau kalian yang berada di posisi korban? Tidak mau, bukan, karya kalian diplagiat? Nah!