Monday, November 11, 2013

Jadi Penulis di Indonesia? Why Not? Everything is Possible



"Nobody has a perfect life. Everybody has their own problems. Some people just know how to deal with it in a perfect way." - Sinka Juliani



Tak terasa sudah November. Bulan depan natal. Dua bulan lagi 2014, piala dunia juga kan? Hahaha. Tak terasa sudah setahun ini menekuni karir menulis. Kali pertama mulai aktif menulis itu Oktober 2012 silam. itu awalnya, dan dimulai dari tulis-tulis beberapa cerpen untuk banyak genre. Dari 106 cerpen yang sudah dihasilkan, ada banyak genre. Ada genre anak-anak, genre romance, genre remaja, genre dewasa, hingga genre horor. Kesemuanya itu sudah dikirimkan semua ke banyak media dan masih menunggu dimuat - dan yakin sekali. Yah walau sering juga dapat penolakan. -_-

Selain menulis cerpen, juga menulis novel. Ada empat novel yang kubikin selama 2013 ini. Oya, kan sekarang lagi gencar tuh yang namanya #NaNoWriMo di Twitter; itu lho proyek bikin novel selama sebulan - kalau nggak salah. Dan aku ikut ambil bagian. Sukses besar dengan bikin dua novel. Satu naskah baru, satu remake dari naskah yang pernah ditolak. Cuma sekarang lagi bingung, mau dikirimkan kemana yah kedua naskah ini?  Masih dalam proses pergumulan dengan Tuhan, nih. Lagi menunggu petunjuk dari-Nya, soalnya.

Bicara soal novel juga, masih terbayang-bayang kejadian Juni silam. Aku iseng saja buka surel dan melihat ada pesan dari sebuah penerbit. Naskahku diterima. Benar-benar nggak menyangka deh. Soalnya pas dikirim ke sana sudah pesimis duluan bakal diterima. Murni pasrah pada-Nya soal diterima atau ditolak. Yang bikin tambah kagetnya lagi, kabar diterimanya itu kurang dari sebulan. Hanya perlu menunggu beberapa minggu saja. Biasanya kalau kita mengirimkan naskah ke penerbit (Juga media massa), waktunya itu 3-4 bulan. Karena itu pula, aku merasa yakin takdirku memang jadi penulis.



Ini contoh kalau naskah kita diterima




Sebetulnya, jujur saja aku pernah mengalami fase nggak yakin sama pilihan yang kuambil. Sebelum lulus 28 November silam, sudah skeptis dengan mengajukan pertanyaan ke diri sendiri: bisa nggak sih hidup dari menulis. Dulu sekali pernah baca di blog seseorang kalau jadi penulis itu rada mustahil, apalagi di negara yang budaya bacanya kurang. Makanya 2012 kemarin, sempat gamang setelah wisuda 21 April kemarin. Aku sempat benar-benar jadi pasif.

Oya, jangan kira aku nggak coba jadi pencari kerja yah? Aku sudah coba. Sudah tiga kali aku menghadiri job fair. Namun saat berada di sana, kerasa kebas. Aku merasa,... masa depanku tak ada di perusahaan-perusahaan tersebut. Pernah juga mengirimkan CV ke beberapa perusahaan, tapi nihil. Tak ada panggilan interview, baik itu telepon, SMS, surat elektronik, hingga akunku di Job Street. Sialnya lagi, aku nyaris kena jebakan Batman dari oknum nakal. Untung setelah ditelepon buat disuruh datang ke tempat interview, aku iseng googling nomor yang bersangkutan. Ketemu deh artikel yang memberitahukan soal penipuan terhadap pelamar kerja.

Dari apa yang menimpaku itu, aku berdiam diri sejenak: mungkin memang bukan jalanku di perusahaan-perusahaan tersebut. Selama perenungan itu juga, anehnya, kenapa aku jadi malah terpikirkan ide-ide bikin cerita yah? Sampai di sini, aku sadar satu hal: masa depanku mungkin jadi penulis. Sudah banyak orang yang bilang, aku berbakat jadi penulis. Tulisan-tulisanku bagus. Mulai dari teman-teman kuliah seperti Bobby, Sarah, Feisal, Erik, Daniel, hingga blogger kawakan macam Keven. Semua bilang, aku ada bakat jadi penulis. Maka dari itu, aku meneguhkan hati untuk semakin menyeriusi hobi yang satu ini. Mulai deh aktif menulis cerpen atau novel. Tak terbayangkan sudah berapa banyak uang yang dihabiskan untuk mengirimkan naskah yang nyaris pakai jasa pos kilat, karena masih ragu tak dibaca jika lewat surat elektronik.

Tanpa terasa, di bulan Mei (kebetulan tanggal 26-nya, aku berulang tahun), aku makin yakin takdirku jadi penulis. Iseng-iseng buka Facebook, aku menemukan situs socialfrontpage.com (Udah ganti jadi www.campaign.com). Iseng saja sign up, dan puji Tuhan, aku sudah enam belas kali menang kompetisinya. Ini membuktikan, jalan hidupku memang di sini: jadi penulis. Tak sia-sia aku bertengkar dengan ibu sendiri untuk meyakinkan dia akan pilihan yang kuambil. Mungkin bakal semakin tak sia-sia lagi, jika cerpen-cerpenku tak ada satu pun yang ditolak, hingga naskah novelku itu terbit.

Sebetulnya, jujur saja kukatakan, jadi penulis di negara seperti Indonesia - yang budaya bacanya itu kurang - mungkin saja sih. Di Jepang saja, orang bisa hidup hanya dari bikin komik, kok. Mereka sama-sama manusia. Nggak bisa terbang juga. Jadi apa bedanya? Selama ada niat, pasti ada jalan. Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Apa saja bisa terjadi. Walt Disney saat kali pertama bikin Snow White saja juga disinisi. Walau pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, ia tetap kukuh melanjutkannya. Perjuangannya tak sia-sia. Snow White jadi film terlaris di jaman itu. Jadi, aku pikir, bukan mustahil jadi penulis di Indonesia ini. Aku juga yakin, pasti kerja kerasku terbayarkan. Pasti bakal memanen buah kesuksesannya, kok. Mari kita aminkan.

Meskipun tak sedikit yang mengakui bakat dan kreatifitasku, aku tak besar kepala. Aku juga mau belajar (Dan masih sering ditolak juga -_-). Naskah Deja vu yang diterima itu selesai setelah dapat masukan jenius dari Astri. Terus aku juga dapat masukan-masukan berharga dari Santy Novaria, Ila Rizky, dan beberapa penulis jempolan lainnya soal cara-cara menulis fiksi. Sampai sekarang pun, aku masih terus belajar sampai akhirnya bisa menciptakan karya yang ciamik. Mari kita aminkan lagi. :D

Selama menekuni karir menulis ini, aku sadar aku kok jadi kayak kerja serabutan. Maksudnya, karir menulisku ini tak tahu ke arah mana; mau jadi apa sih sebetulnya aku? Di suatu waktu menulis cerpen, eh di waktu lain malah menulis novel, bikin review buat review job, hingga proyek-proyek menulis lainnya. Tapi sudah-lah. Katanya mau hidup dari menulis, yah harus mau kerja serabutan dong. Hehehe. Makanya juga tak ada salahnya mengomersialisasi bakat ini. Kalau ada yang bilang aku jadi mata duitan (Apalagi saat lihat banner 'Place Your Ads'), kalian dongo. Ini realistis, bukan materialistis. Tak ada yang salah dalam mengomersialisasikan bakat. Contohnya banyak kok di dunia ini. Ada kan pekerjaan-pekerjaan seperti pemain film, pemain sinetron, pelukis, atlet dan penyanyi. Mereka mengomersialisasikan bakat mereka. Lagian selama halal, tak ada salahnya dengan komersialisasi bakat. Betul, tidak?




Sepertinya kita sudahi saja postingan ini. Akhir-akhir sedang membenci yang namanya menggalau, makanya takut jadi galau kalau diteruskan lagi. Hehehe.

Akhir kata, when you've found out your calling (Passion), you will have be hard to ignore that. You will be haunted, till you take that. After all, if there's a will, there's way. Everything is possible, guys. Don't ever look everything down. And stop making excuses. I guess, it's more better to do something you like than do something you hate. Key of success is... do something you like - and then, love it furthermore. After that, try to forget (What you've done) and keep your faith that we will take fruit of the success. 

9 comments:

  1. semoga banyak naskah yang dikirim dimuat media ya nuel

    ReplyDelete
  2. pertama gw mau ucapin selamat, kedua gw salut banget sama lo nuel, bisa dibilang lo tuh batu banget sama mau lo ya, dan itu keren ^^ ketiga, ulang tahun lo sama ama gue MUAHAHAHA, mungkin tahun depan bisa ngerayain bareng? ke empat, boleh gak sih baca novel lo? pengen tahu juga gaya nulis lo kaya gimana *penasaran* ke lima, yoi-know-what lo adalah blog yg selalu gw kunjungin sekarang ^^ ke enam, gw cape ngetiknya ntar-ntar lagi deh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. boleh-boleh, email lo apa?

      Delete
    2. artha.melissa@gmail.com xD thankyou ye abang nueel hhehehe

      Delete
    3. Sama2, tapi yang gue kirim bukan yang itu yah? Naskah lain... Hehehe

      Delete
  3. Setuju banget,tidak ada yang tak mungkin didunia ini.

    ReplyDelete
  4. Nuel, aku nggk ngerti kenapa kamu ngasih link postingan ini. Tapi yaudah deh aku cek aja... Hehe
    Semoga sukses...
    Kamu bukannya nyambi usaha ya bukan cm jd penulis aja? :D apa tuh situsnya lupa... Saranku apapun yang kamu pilih akan lebih baik jika tidak cuma menekuni menulis mungkin sambil usaha mungkin sambil yang lain... Kenapa? Krn aku pikir kita semua butuh sesuatu diluar itu. Semacam oase... Karena hobi pun kalau jadi pekerjaan mungkin sudah berkurang fase menyenangkannya. Gitu sih... Tp kalau mau dengan menulis aja ya terserah :)) apapun itu kamu yg jalanin hidupmu. Kita berhak memilih apapun jalan yg kita yakini. Jangan lupa jg, setiap jalan memberikan pilihan tanggung jawab yg berbeda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.... Aku juga nggak tahu, Nin. Ada yang 'nyuruh' supaya berbuat itu. Seriusan.

      Iya sih, mulai sadar juga. Tapi ya soal itu, sembari jalan aja deh, tar juga nemu aktivitas oase itu. Thank ya, mau baca dan komen. Nggak nyangka reaksimu cepat gini. Hahaha. Thank a lot. Good Luck juga buatmu. Sama2 berjuang ya ^^

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^