Monday, November 18, 2013

Bima Satria Garuda: Serial Tokusatsu Indonesia yang Mulai Berprospek Cerah


Buat yang masa kecilnya di era 90-an, pasti begitu dimanjakan dengan berbagai tontonan. Pada era tersebut, tontonan anak cukup bisa dibilang menjamur. Apalagi tiap minggu pagi. Dari jam tujuh pagi sampai dua belas, betah di depan televisi. Banyak film animasi sih. Selain itu, jangan lupakan pula tokusatsu Jepang seperti Jiban, Winspector, Super Sentai, Ksatria Baja Hitam, atau Ninja Jiraiya.

Bicara soal tokusatsu, kemungkinan besar anak-anak di era 90-an - saat menontonnya - pasti mengkhayalkan kapan yah Indonesia bisa bikin yang seperti itu. Kapan juga Indonesia bisa bikin acara-acara seperti TV Champion, Takeshi Castle, atau Masquarade; atau yang bagusnya bisa dibilang menyamai acara-acara tersebut. Yah mungkin seperti itulah khayalan anak-anak era 90-an.

Selain itu, era 90-an bisa dibilang era dimana tayangan-tayangan berbau Jepang marak. Entah itu kartun, drama, ataupun tokusatsu. Tak heran saat era 2000-an, banyak deh bermunculan weaboo dan wapanese di Indonesia. Miris sih melihat mereka yang begitu mengagumi budaya Jepang. Tapi ada kebanggaan juga. Siapa sangka, kegilaan akan budaya dan kehidupan Jepang bisa melahirkan sebuah tontonan tokusatsu ala Indonesia. Itu.... BIMA SATRIA GARUDA!!!!

Bima Satria Garuda itu memang rilis tanggal 30 Juni 2013. Tapi kostum Bima itu sendiri sudah lebih dahulu keluar. Kostumnya hasil buatan warga negara Indonesian tulen - yang pernah diperkenalkan lewat acara Hitam Putih di Trans 7. Waktu diperkenalkan, banyak yang mencibir. Cibirannya senada: "Ih plagiat, mau ikutin Kamen Rider yah?"

Bima Satria Garuda yang asli dirancang oleh putra Indonesia.

Sekumpulan Kamen Rider yang agak mirip serangga.


Iya sih, agak mirip. Tapi sepintas kok - selebihnya berbeda. Kostum Bima juga tidaklah seratus persen meniru Kamen Rider ala negeri sakura. Kebanyakan Kamen Rider kan berwujud serangga, sementara ini tidak. Bentuk kepala juga lebih lebar dan agak mirip bentuk burung - sepintas. Lagipula sebetulnya ini bukan plagiat, hanya terinspirasi. Terinspirasi itu sesuatu yang amat wajar di dunia kreatif. Contoh: VR Troopers itu salah satu anggotanya begitu mirip dengan superhero buatan Jepang bernama Choujinki Metalder. Terus masih ada The Wild yang konsep ceritanya agak mirip Madagascar. Meniru atau tidak, itu semua kembali ke penikmatnya. Tiap tontonan punya penggemar masing-masing kok.

Ini dia Choujinki Metalder.

VR Troopers yang dibuat oleh bule Amrik. 



Kembali ke soal Bima Satria Garuda.

Setelah diperkenalkan pada tanggal 30 Juni 2013, selain masalah kemiripan dengan Kamen Rider Jepang, serial tokusatsu Indonesia itu sering dikritik. Cara ambil kamera lumayan mengecewakan. Lebih mirip pengambilan kamera di kebanyakan sinetron, makanya jadi aneh menontonnya. Lalu akting beberapa pemain juga buruk, khususnya Stella Cornelia. Alur pun juga dicibir, sebab agak mirip cerita tokusatsu ala Jepang.

Kalau dipikir-pikir sih, wajar Bima Satria Garuda awalnya itu agak mengecewakan. Pertama, kostumnya saja sudah dituduh plagiat. Kedua, pemain-pemainnya bisa dibilang pendatang baru. Nama yang lumayan familiar hanya Sutan Simatupang. Stella Cornelia memang sudah dikenal publik karena penampilannya bersama si Merah, tapi dia lebih dikenal sebagai penyanyi; atau kalau menurut persepsi orang Jepang, sebagai idol. Ketiga, alurnya mirip dengan tokusatsu Jepang itu dimaklumi sajalah. Anggap saja si empunya ide cerita atau penulis skenarionya itu terinspirasi dari sana. Lagipula bikin sebuah tontonan yang benar-benar baru itu ibarat mencari jarum di tumpukan jerami lho.

Tak ayal, Bima Satria Garuda pasti ratingnya rendah. Tapi krunya tak patah arang. Produksinya tetap berlanjut dan akhirnya terbayarkan sudah. Episode keduapuluhsatu bisa dibilang yang terkeren hingga detik ini. Mulai - dan semakin - terlihat pula napas Indonesia. Nuansa Indonesia mulai dipertunjukan - yang akan lebih bagus lagi jikalau krunya berani menggunakan bahasa slang Indonesia. Yah tak terasa kaku. Bagaimanapun Bima Satria Garuda diputar di era 2000-an, bukan 80-an atau 70-an. Coba deh penggunaan bahasanya disesuaikan dengan yang ada di kehidupan sehari-hari Indonesia.

Untuk akting, beberapa pemain, terlebih Stella Cornelia, mulai menunjukan peningkatan. Mulai bisa menghayati peran, sehingga terasa 'hidup'. Bahkan kerennya lagi, berani mengundang GACKT dan Haruka Nakagawa. Ceritanya juga makin berani berkreasi dan keluar dari yang diinspirasikannya, yaitu tokusatsu Jepang atau Kamen Rider. Kita perlu mengacungkan banyak jempol ke tim produksi Bima Satria Garuda. Semoga kelak bisa ada filmnya.

Oh iya, Bima Satria Garuda itu ceritanya seperti ini (Kutip dari Mas Wiki):

Kisah Bima Satria Garuda berawal di Dunia Paralel yang dikuasai Kerajaan VUDO dan berada di ambang kehancuran. Dunia Paralel adalah sebuah dunia yang hidup dalam kegelapan abadi, di mana alamnya sudah tidak memiliki elemen sumber kehidupan karena ambisi kekuasaan Kerajaan VUDO. Rasputin adalah penguasa Kerajaan VUDO yang jahat dan kejam. Dia ingin mencari dunia lain untuk merebut segala sumber daya alamnya demi menghidupkan Dunia Paralel dan memperluas kekuasaan VUDO. Seorang ilmuwan di Bumi berhasil membuat sebuah portal yang bisa menyambungkan Bumi dan galaksi lainnya, sehingga akhirnya VUDO menemukan dunia lain yang bisa dikuasai. 

Ray Bramasakti mendapatkan Power Stone Merah dari seorang pemuda misterius bernama Mikhail untuk menghentikan segala upaya Rasputin dan Kerajaan VUDO untuk mengambil alih Bumi. Dengan mendapatkan Power Stone Merah, Ray mendapat kekuatan untuk berubah wujud menjadi "Bima", sang Satria Garuda. Randy Iskandar dan adiknya, Rena yang adalah keluarga angkat Ray pun ikut terseret dalam setiap aksi Bima melawan kegiatan jahat Rasputin dan Kerajaan VUDO. 


Akhir kata, semoga saja cerita Bima Satria menjadi semakin bagus. Film serial ini sepertinya punya prospek cerah. Selanjutnya, berharap cepat difilmkan. Jarang-jarang, bukan, ada film tokusatsu ala Indonesia. Tapi sih harapannya, di filmnya kelak, supaya dibikin lebih Indonesia lagi. Jujur saja, hingga detik ini, serial Bima masih terasa unsur Jepang-nya. Apalagi dengan kemunculan Haruka Nakagawa serta GACKT (Nama asli, Kamui Gakuto),  Bima lebih terasa sebagai tokusatsu Jepang ketimbang tokusatsu Indonesia. 




* Sumber gambar bisa dilihat dengan mengklik kanan gambar yang bersangkutan

10 comments:

  1. hai Nuel, lama nggak main kemari.
    ah jadi inget semasa kecil saya pengen bgt jadi bagian dari pahlawan pahlawan jepang itu, pengen punya superpower, biar bisa nendang 'biji' cowok cowok brengsek :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha.... Kesel sama berita2 perkosaan yah? :P

      Delete
  2. aku smepat nonton dan suka Ksatria Baja Hitam waktu itu :)

    ReplyDelete
  3. Weh, saya malah baru denger Bima Satria Garuda *kuper

    Semoga filmnya semakin bagus dan bermutu.... Habis itu disusul dgn film-film bermutu lainnya dari tanah air. Amin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku ngerti kok. Lagian Bima juga muncul di tengah gempuran acara TV Indonesia yang nggak berbobot... Hahahha

      Delete
  4. Waah... Om nuel cucok deh jadi kritikus film..

    Iya loh ya, dulu waktu 90an hari minggu dari pagi sampe siang kartun semua... Jadi males mandi..

    Mereka tu salah undang org, seharusnya kalo mau berasa indonya, yg diundang tuh bukan member JKT48 yg mukanya jepang bgt gitu, undang aja si sule. Hehhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Masih banyak kritikus jempolan yang ngeritiknya lebih hebat dari gue... Hahahaha.. Btw Gue jadi ngayal Sule main di tokusatsu Indonesia.... Cocok nggak yah dia jadi kamen rider? :D

      Delete
  5. Bima Satria Garuda diproduksi oleh tim perusahaan yang membuat Franchise Kamen Rider yaitu "ISHIMORI PRO". Jadi gak heran kalau ada kesamaan dengan unsur Jepang. Lagipula di Jepang juga ada yang namanya kota Kyoto di mana Orang Jepang sendiri menganggap Kyoto adalah kota Jogja-nya Versi Jepang.

    Kadang gw Heran Mau bikin superhero yang 'Indonesia banget' itu yang kayak gimana? kayak Wiro Sableng? Kayak Si Buta dari Gua Hantu? kayak Gatotkaca yang suka pamer Kumis??

    Kalau kupikir lebih baik lihat apa yang disenangi anak-anak ketimbang memaksakan. Kalau Kupikir Bisa Satria Garuda sudah Lumayan Ada Indonesia Kok tanpa mengandalkan Sabuk berubah. (SATRIA SERIES = NO BELT atau MENGHINDARI SABUK UNTUK BERUBAH).

    Buat Solusi dengan memberikan beberapa buah gambar antara Karakter yang agan bilang "Indonesia Banget" dengan superhero yang memakai Topeng / armor yang punya budaya Modern seperti BIMA. Anda akan mengetahui hasilnya nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... I see, i see.... Tapi secara keseluruhan, Bima memang bagus... Udah lama banget pengen lihat ada Kamen Rider versi Indonesia...

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^