Monday, October 28, 2013

(Mungkin) Nasionalisme Barang Mahal di Indonesia



"Sumpah pemuda fuck-lah! Orang di warkop masih ngomong sunda, di warteg ngomong jawa, mana bahasa Indonesia-nya??" -



Bicara soal nasionalisme, jujur saja aku memuja bangsa Jepang. Yah, memuja. Luar biasa salut. Bisa dibilang, mereka benar-benar mencintai negara dan kebudayaannya. Kalau kata 'jepang' terlontar dari pikiran, pasti yang ada di benak 'tokyo', 'kyoto', 'kimono', 'dorayaki', 'Nagasaki', 'kanji'; atau saat mendengar akhiran '-chan' di sebuah nama, kita pasti langsung ingat satu kata: 'jepang'. Dan sudah sepatutnya kita berterimakasih pada manga - komik dalam bahasa Jepang. Iro-iro arigatou, mangaka! 

Bicara soal komik Jepang, aku yakin seyakin-yakinnya, orang lebih mengenal kebudayan Jepang itu karena komik. Mungkin karena kulturnya juga, di sana, komik selalu terus menerus dimunculkan. Mau itu shounen kek, harem kek, seinen kek, shoujo kek, ecchi kek, atau hentai sekalipun, produksinya terus tak pernah menemui kata mandek. Kalau diperhatikan baik-baik, tema apa yang diusung - termasuk fantasi sekalipun, selalu saja ada terselip budaya Jepang, atau setidaknya menyebutkan sesuatu yang akrab di sana; biasanya itu soal -chan, -san, -kun, atau otoo-san (ayah), ojii-san (paman), atau okaa-san (ibu). Kebanyakan juga, dan seringnya, para komikus Jepang itu tidak hanya menampilkan yang baik-baiknya saja soal negara dan gaya hidupnya; ada juga yang negatifnya dimunculkan (Berbeda dengan di sini, yang pasti langsung kesal kalau yang jelek-jeleknya ditampilkan). Makanya ada pula komik-komik yang bernuansa kritik seperti Kobo-chan atau Kariage-kun. Bahkan Doraemon pun ada lho kritik sosialnya. 

Lalu dari komik, kita beralih ke anime - animasi dalam bahasa Jepang. Kalau komiknya sudah muncul, pasti selalu ada film animasinya. Pembaca juga ingin melihat tokoh-tokoh fiksinya 'hidup'. Terus, dari anime, kita akan semakin mengenal budaya Jepang itu dari lagu. Kebanyakan anime pasti selalu ada soundtrack-nya. Dari sini, (mungkin) muncul-lah sekelompok orang penyuka J-Pop, yang sebetulnya lebih dahulu ada daripada K-Pop. Hanya saja, penyuka J-Pop jadi minoritas, sebab lahirnya karena manga dan anime yang di mata orang Indonesia, orang dewasa yang masih suka baca komik itu kekanak-kanakan. Plus juga masih kalah sama penikmat musik dari negeri Paman Sam. 

Mungkin juga, gejala weaboo atau wapanese itu muncul bukan karena dorama - drama dalam lafal Jepang, tapi karena manga dan anime. Jujur saja, Jepang agak payah dalam membuat film-film drama seperti di Meksiko atau Korea. Kebanyakan film drama Jepang itu nyawanya pendek (Kebanyakan hanya 12 episode), sudah begitu juga lebih sering diangkat dari manga atau anime; makanya kurang mengena di hati. Novel pun kadang juga dibuat manga-nya kok. Ada satu novel di Jepang bernama Moshi Kōkō YakyÅ« no Joshi Manager ga Drucker no "Management" o Yondara - atau yang akrab disebut  Moshidora - malah, menurutku, lebih terkenal manga dan anime-nya. Tak heran sih, kaver novelnya juga guratan manga.



Kaver novel Moshidora



Kembali ke soal nasionalisme.

Selain Jepang dengan manga, anime, atau dorama-nya, nasionalisme orang Korea (Selatan)  patut diacungi jempol. Berkat drama-drama Korea yang mulai booming gara-gara "Endless Love", pengagum-pengagum budaya Korea semakin banyak di Indonesia. Kata-kata 'kamsahamnida', 'annyeonghaeseyo', 'yeobeoseyo' sering terdengar di kuping kita. Nama-nama seperti Jeju, Nami, Gangnam, Seoul, atau Miryang adalah yang sering terlintas saat bicara soal Korea. Tapi sih, tetap saja masih lebih baik Jepang. Di Indonesia, Jepang lebih dahulu terkenal dari Korea.

Walaupun demikian, Jepang dan Korea Selatan memang luar biasa dalam hal mempromosikan negara dan kebudayaannya. Cara promosi mereka tidak seperti negara Indonesia yang masih cenderung mengandalkan pentas seni yang isinya pameran kebudayaan daerah - yah tariannya, alat musiknya, pakaian tradisionalnya, atau masakannya. Aku yakin, orang luar tahu Indonesia yah karena promosi-promosi seperti itu - yang kata seorang video jockey monoton. Hal seperti itu juga pernah dibahas salah seorang penulis best-seller dalam salah satu novelnya. Ia mengeritik secara halus cara promosi tersebut. Apalagi cara promosi negara dan kebudayaan seperti itu juga tak terlalu mengena di hati. Tak efektif. Pentas seni sifatnya hanya sementara.

Iya, hanya sementara. Pentas seni hanya berlangsung sementara - di waktu itu dan di tempat itu. Selebihnya setelah lewat, orang mungkin lupa. Berbeda kalau promosinya lewat film, lagu, buku, komik, atau animasi. Itu jauh lebih efektif. Kalau dikemasnya secara baik sekali, akan menimbulkan kesan mendalam di diri orang yang menyaksikannya. Buntutnya, mereka pasti tertarik untuk mempelajari budaya dari si pembuatnya. Kalau ada sesuatu yang tak familiar, pasti akan dicari tahu.

Kalau kita memikirkan Indonesia, apa yang terpikir? Hmm.... rendang? Makanan. Serimpi? Tarian. Gadang? Rumah tradisional. Pendet? Tarian. Kuta? Pantai. Sanur? Pantai. Dan itu semua diperkenalkan dengan cara promosi yang kolot, hingga terlihat sekali itu promosi. Tidak efektif. Agak menyulitkan ke orang-orang yang sedang meriset Indonesia untuk keperluan film atau novel. Pemborosan waktu, jika untuk meriset saja harus mengunjungi pameran-pameran seni dan budaya Indonesia. Apalagi budaya Indonesia banyak. Makanya jalan satu-satunya itu, yah kalau nggak di film, yah buku. Lihat betapa suksesnya Laskar Pelangi mempromosikan Belitung yang dulu tidak dikenal. Sekedar info, Doraemon pernah dapat penghargaan dari pemerintah Jepang karena telah mempromosikan Jepang. Lihat, betapa efektifnya promosi lewat buku atau film.

Yah tapi apa mau dikata. Pemerintah sepertinya lebih enak dengan promosi-promosi kolot seperti itu. Kebanyakan film atau buku yang go internasional itu karena usaha sendiri. Sedikit campur tangan pemerintah. Pemerintah itu lebih suka promosi lewat pameran seni dan budaya. Padahal pemerintah Korea pun sudah mulai melirik cara promosi lewat film atau buku. Pernah baca, para pelaku dunia hiburan (showbizz) benar-benar difasilitasi oleh pemerintah Korea. Tak hanya Korea, kudengar Amerika Serikat juga sama. Sementara Indonesia? Hadeuh, sering kudengar banyak sekali hambatan yang harus ditempuh oleh para pelaku showbizz atau industri kreatif tanah air. Salah satunya, birokrasi yang rumit - yang hanya sanggup dikalahkan oleh uang.

Selain kolot, promosi lewat pameran seni, aku rasa tak berguna. Kurang bisa menanamkan citra Indonesia di mata orang luar (WNA, maksudnya). Kukira, setelah mengunjungi pameran seni dan budaya, orang-orang itu pasti mengira kita bangsa yang suka menyanyi atau menari. Eh saat menuliskan ini, mendadak terpikirkan kata-kata seorang video jockey yang kesulitan dalam mencari sesuatu yang identik dengan Indonesia - di luar soal kebudayaan daerah. Kalau menurut kalian, apa sih yang identik dengan Indonesia? Aku kok sulit menyebutkan yang orang luar bisa bilang, "Wuih gila, gaya lu Indonesia banget!" Kalau menyebutkan batik atau keris, kok kurang sreg? Itu kan budaya Jawa, kesannya Indonesia = Jawa. Rendang atau Pendet atau Tor-tor juga sama saja. Semestinya dari awal pemerintah Indonesia mengerucutkan semua budaya di Indonesia menjadi satu, biar tak terjadi kerancuan. Semua budaya dikerucut (Ada beberapa budaya yang dihilangkan) untuk membentuk satu budaya: budaya Indonesia.

Benar-benar susah untuk soal yang satu ini. Dari awal, promosinya hanya lewat pameran seni dan budaya sih. Karena secara keseharian, apa yang sering dipertunjukan itu jarang sekali dilakukan. Plus kecenderungan di sini adalah lebih menyukai segala produk impor. Yah barang, yah film, yah buku, yah komik,.... yah pokoknya segalanya deh. Untuk yang bukan kelas menengah bawah, pasti kesulitan menyebutkan apa saja film atau buku atau lagu Indonesia. Tapi kalau produk negara lain, khatam deh. Beuh, rumput tetangga lebih bagus yah ketimbang rumput sendiri? Agak miris rasanya, saat ada seorang bule yang malah jadi aktif memperkenalkan budaya dan gaya hidup Indonesia.







Yah habis apa mau dikata, produk Indonesia kolot sih. Lihat saja; dangdut, kebaya, batik, konde, keris, peci, blangkon, debus, silat, delman,.... nggak banget deh gue mau bersentuhan sama itu semua. Big no-no. Kelas kampung. Lebih keren Super Junior. Lebih cantik SNSD. Lebih keren One Direction. Apaan tuh Changcuters? Nggak banget D'Massive itu. Norak tahu Wali itu. Ish, lebih bagus juga lihat Sora Aoi main. Lebih puas. Puas apanya? Entahlah, jujur aku belum pernah menonton Sora Aoi main, tapi kalau Maria Ozawa sudah (#Eh). Apalagi Jesse Jane. 

Benar-benar yah, nasionalisme di negara ini langka.  Mengakunya nasionalis, tapi masih suka minum di Starbuck ketimbang warung kopi. Nasionalis, tapi lebih khatam menyanyikan lagu-lagu bahasa negara lain daripada lagu-lagu bahasa negara sendiri - apalagi lagu wajibnya. Nasionalis yah, kalau berobat di luar negeri masih jadi opsi pertama banget daripada berobat di dalam negeri. Luar biasa nasionalisnya, lihat dari atas ke bawah itu produknya asing. Sangat nasionalis menyaksikan beberapa orang yang kalau bicara, pasti deh campur-campur bahasa negara lain (Umumnya Inggris, padahal dijajah Belanda); padahal di negara sendiri, dia bercakap-cakap. Kadang suka aneh juga mendengar singkatan gladi resik diucapkan secara english. Kalau mau bicara english, sekalian dong bilangnya rehearsal. LoL.

Ah, ah, ah, nasionalisme di negara ini memang mahal, saudara-saudara! Secara praktek, memang mahal. Tapi secara teori, itu segampang menuliskan ini: (http://immanuels-notes.blogspot.com/2010/11/nasionalisme-dari-bawah.html).