Saturday, October 12, 2013

ANOTHER FICTION: Kematian Kalista





            “Inaaa…” Marina mendengar suara keras papanya yang memanggilnya. Marina sendiri tengah berada di kamarnya. Ia sedang asyik membaca buku ceritera. “Iyaaa, Pa. Ada apa sih Pa?” sahutnya dengan suara keras pula.
            “Sini nak. Tolong bantu papa dulu.” balas Pak Edo, papanya Marina.
            Dengan mendumel dan langkah gontai, Marina berjalan keluar kamar dan berusaha mencari arah suara papanya tersebut. Setelah kurang lebih sepuluh menit, Marina akhirnya berhasil mendapatkan keberadaan suara papanya itu. Rupanya papanya berada di teras dan tengah memperbaiki mobil Kijang kebanggaan keluarganya itu.
            “Pa, ada apa sih manggil-manggil? Kan aku lagi sibuk ngerjain PR.” Marina memasang tampang memelas.
            “Halah. Palingan kamu lagi baca novel atau main PS. Ya kan?” sindir Pak Edo. “Udah. Tolong bantu papa dulu. Lagian cuman bentaran ini kok.”
            “Pa, aku kan nggak bisa perbaikin mobil.”
            “Yang bilang suruh perbaikin siapa? Papa cuman mau minta tolong kamu ambilin kotak peralatan tukang di gudang kok.” sahut Pak Edo. “Lagian papa juga tahu kok kamu masih belum ngerti soal otomotif. “
            “Di gudang yang itu?” tanya Marina dengan mimik ragu.
            “Iya, yang di lantai dua. Yang di sebelah Kamar Kalista.” Pak Edo meyakinkan. “Kita juga hanya punya satu gudang aja, Ina,”
            “Tapi?” Terlihat ekspresi ketakutan di wajah Marina.
            “Tapi apa? Buruan sana ambil. Papa perlu banget.” ucap Pak Edo dengan tegas dan tampang galak. Sehingga mau tak mau, Marina beranjak menuju gudang di sebelah kamar Kalista yang menurutnya angker. Sampai sekarang Marina tidak tahu siapakah itu Kalista tersebut. Karena yang jelas, Marina hanya tahu ruangan itu bernama Kamar Kalista dari papan nama yang tertempel di pintunya. Pernah Marina bertanya kepada papa atau mamanya perihal Kamar Kalista tersebut. Tapi entah kenapa, papa dan mamanya selalu berusaha mengelak. Kedua orangtuanya sepertinya enggan menceritakan kepada Marina hal yang sebenarnya. Dan hanya kepada mereka sajalah, Marina bisa bertanya. Sebabnya, mau bertanya ke Mbok Hapsari, pembantunya, pastilah dia tak tahu menahu. Yah wajar. Mbok Hapsari baru bekerja di rumahnya sejak dua tahun lalu dan Kamar Kalista sudah ada jauh sebelum Mbok Hapsari datang. Mungkin ketika Marina lahir pun, Kamar Kalista sudah ada.
            Marina pun terpaksa menuruti permintaan papanya itu. Karena papanya itu luar biasa kalau lagi marah dan susah dibantah. Dengan langkah berat, Marina berjalan menuju gudang tersebut. Ia terus berjalan hingga menaiki tangga dan berjalan kembali menuju gudang itu. Gudang itu sendiri berada paling ujung di lantai kedua rumahnya dan itu persis bersebelahan dengan Kamar Kalista yang menurutnya angker itu. Sehingga apabila dia mau ke gudang itu, otomatis dia harus melewati kamar tersebut.
Dengan mulut komat-kamit karena khusyuk berdoa, Marina berusaha menahan rasa takutnya tersebut. Di saat rasa takutnya sudah mulai berkurang, tiba-tiba muncul suara dari arah Kamar Kalista. Suara itu berbunyi: “Aku lapar. Lapar. Lapar. Lapar.” dengan suara seperti suara orang nyaris tewas di gurun pasir.  Sontak Marina langsung menjerit ketakutan. Namun suara itu malah balas teriak bagaikan sebuah gaung di pegunungan. Itulah yang menyebabkan Marina ketakutan dan lari terbirit-birit menuju papanya lagi.
“Ada apa kamu teriak-teriak begitu?” tanya Pak Edo keheranan.
“Anu, Pa,” Marina menjawab dengan penuh ketakutan. “A-a-aku t-t-t-takut Pa. Ta-tadi waktu lewatin kamar itu, tiba-tiba ada suara gitu. Kayak suara hantu, Pa.”
            “Ah kamu ini. Dari dulu selalu begitu. Papa sama mamamu kan udah berkali-kali bilang kalau kamar itu kosong. Nggak ada apa-apa kok.” Pak Edo berusaha membuatnya lebih berani. “Lagian sekarang kan masih jam empat sore. Apa yang kamu takutkan?”
            “Nggak ah. Aku nggak mau kesana lagi.” kata Marina dengan paniknya.
            “Udah. Ayo papa temenin ke sana.” Pak Edo memasang sorot mata yang begitu tajam. “Kamu ini ada-ada saja. Bikin papa repot aja.” Lalu papanya mengajak Marina kembali ke gudang tersebut. Marina pun berjalan mengikuti papanya itu. Anehnya saat papanya kembali ke sana bersamanya, suara aneh itu tak terdengar.
            “Tuh mana? Nggak ada apa-apa kan?” ucap Pak Edo sambil membuka pintu gudang tersebut. “Udah kamu tunggu di sini aja dulu.”
            Marina pun menurut. Ia menunggu tepat di depan pintu gudang sambil berusaha berdoa agar tak bertemu hal-hal aneh lagi dari arah Kamar Kalista. Sementara papanya kemudian menyalakan lampu gudang dan berusaha mencari apa yang beliau butuhkan. Bunyi kerontang-kerosak pun mulai terdengar dan bebunyian tersebut membuat Marina panik. Papanya pun balik menyemangatinya lagi. “Ini papa, Ina. Gak usah takut.” sahut Pak Edo dari dalam gudang. Akhirnya setelah kurang lima belas menit pencarian, papanya keluar membawa sekotak penuh alat-alat pertukangan.
            “Aduh, kamu ini Ina. Kok jadi penakut begitu? Padahal udah kelas enam juga.” goda Pak Edo sambil geleng-geleng kepala dan mengacak-acak rambutnya Marina.
Namun Marina hanya diam saja dan berkata singkat, “Ayo, Pa, kita buru-buru pergi dari sini.”
Pak Edo tak menggubrisnya lagi dan segera membawa Marina menjauh dari sana. Sambil berjalan menjauh, Papanya menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum nakal. Marina hanya cemberut.
“Pa, itu sebetulnya kamar siapa?” tanya Marina.
“Kan papa udah pernah bilang, itu kamar kosong biasa. Tapi dulunya kamar tamu.” jawab Pak Edo.
            “Papa bohong! Kan kamar tamu adanya di bawah terus. Lagian kalau emang kamar tamu, kenapa ada tulisan Kamar Kalista?” ucap Marina penuh selidik. “Kalista itu siapa lagi?”
            “Itu…” Papanya terlihat ragu-ragu setelah diajukan pertanyaan seperti itu. Dalam hatinya, papanya berujar, Mungkin memang sudah saatnya Marina tahu yang sebenarnya. Tokh dia sudah berusia sebelas tahun.
            “Pa. Kok papa bengong?” Marina semakin tambah penasaran. “Memangnya ada apa sih dengan kamar tersebut? Dan siapa pula Kalista itu, Pa?”
            “Hmm…” Pak Edo mulai ragu untuk menjelaskannya. “Kamu beneran pengin tahu tentang Kamar Kalista?”
            “Ya iyalah Pa.” Marina dengan mantap ingin mendengar penjelasan dari papanya terkait Kamar Kalista. “Apalagi tiap kali aku melewati kamar ini buat ke gudang, aku selalu dengar suara-suara aneh. Dan aku yakin, Pa, itu bukan suara dari tikus atau cicak.”
            “Ya udah, ntar malam aja Papa jelasin yah.” kata Pak Edo sambil tersenyum walau wajahnya comel penuh sisa-sisa oli sehabis memperbaiki mobil.
            “Beneran nih Pa?”
            “Iya, papa serius. Udah kamu ke kamar kamu aja lagi. Biarin Papa nerusin pekerjaan papa dulu yah.” ujar Pak Edo, yang selanjutnya kembali sibuk mengutak-atik mobil Kijang berwarna biru tua itu.
            Malamnya, pada saat Marina dan adiknya Noel sedang menikmati acara televisi, papa dan mamanya menghampiri mereka berdua.
            “Ina, Noel,” panggil Pak Edo.
            “Iya, Pa,” serentak Marina dan Noel bersahut bersama-sama.
            “Papa sama mama kamu akhirnya setuju untuk menceritakan ke kalian soal Kamar Kalista. Mamamu juga sepaham kalau memang sudah saatnya kalian tahu.” kata Pak Edo sambil menoleh ke arah mama yang berada di arah kirinya itu, khususnya pada saat beliau mengucapkan kata ‘mama’.
            “Iya, itu benar. Apalagi kalian juga sudah cukup usia untuk tahu yang sebenarnya. Marina udah kelas enam dan bentar lagi masuk SMP. Sedangkan Noel kelas empat, mau naik kelas lima sebentar lagi kan.” sambung Bu Lita.
            “Dan sekarang memang sudah saatnya kalian harus tahu. Yah daripada nanti kalian cari tahu sendiri dan malah menganggap papa-mama sebagai  pembohong.” ucap Pak Edo lagi. “Jadi papa-mama sepakat bahwa sekaranglah waktunya.” Lalu Pak Edo mengeluarkan sesuatu dari kantong kanan celananya. Rupanya itu sebuah kunci pintu. Di gantungan kuncinya terdapat tulisan ‘Kamar Kalista’. “Ini kunci kamarnya. Langsung saja kita ke sana.”
            “Kalian nggak usah takut yah? Kita perginya bareng-bareng. Berlima. Sama Mbok Hapsari juga.” ujar Bu Lita. Lalu Bu Lita memanggil Mbok Hapsari dan tak lama kemudian Mbok Hapsari datang menghampiri.
            “Iya Pa, Ma,” respon Marina.
            “Aku juga nggak takut kok.” Noel begitu optimis menjawabnya.
             Segeralah Marina, Noel, kedua orangtuanya, dan juga Mbok Hapsari bergerak menuju Kamar Kalista yang selama ini begitu misterius di mata Marina, adiknya, dan mungkin Mbok Hapsari yang baru bekerja selama dua tahun di rumah mereka. Tak lupa mereka juga membawa senter dan beberapa lampu petromaks . Yah karena Kamar Kalista sudah lama tak terurus untuk waktu yang cukup lama. Saat itu pula, jam telah menunjukan pukul 20.00 WIB. Alias sudah jam delapan malam. Waktu yang memang cukup membuat bulu kuduk merinding. Itulah kenapa Marina dan Noel terus memeluk tubuh mamanya hingga mereka tiba di depan Kamar Kalista.
            “Ina, Noel, dan mungkin juga Mbok Hapsari. Mungkin ada baiknya papa jelasin dulu ke kalian semua sebelum kita masuk ke kamar ini.” Pak Edo memegang dagunya. “Jadi ini sebetulnya memang kamarnya Kalista. Kalista itu sendiri sebetulnya adalah kakak kalian berdua.” Mata papanya mulai berlinang air mata. Beliau mulai berusaha menahan agar tak menangis. Sebaliknya mamanya malah sudah menangis sesenggukan.
            “Jadi kami berdua punya kakak? Kok Ina nggak tahu sama sekali?” tanya Marina penasaran.
            “Sama, aku juga kok baru tahu,” timpal Noel.
            “Yah wajar. Kakakmu, Kalista sudah lama meninggal. Dia meninggal waktu masih kelas 3 SD. Waktu itu usianya delapan tahun dan kamu masih berusia dua tahun, Na. Sedangkan Noel masih ada dalam perut mamamu.” Pak Edo menelan ludah. “Kalista meninggal karena kecelakaan waktu dia ikut study tour sama teman-teman sekolahnya ke Bandung selama kurang lebih seminggu. Sepulang dari Bandung, bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Busnya menabrak pagar pembatas dan jatuh. Saat itu polisi menduga sopir yang mengendarainya itu lagi ngantuk. Apalagi waktu itu mereka pulang sekitar jam tiga sore.”
            Bu Lita mulai menangis. Air matanya membasahi mukanya.
            “Tadinya papa juga marah-marah dengan pihak sekolah kakakmu itu. Saking kesalnya, kamu tak papa daftarkan di sekolah tersebut, walau banyak yang bilang sekolah tersebut merupakan SD terbaik di kota ini. Mamamu sendiri juga sempat syok dan kejiwaannya terganggu. Padahal mamamu baru saja habis melahirkan. Melahirkan kamu, Noel.” Pak Edo terdiam sejenak dan memegang dahinya. Beliau mulai menangis sesenggukan.
            “Pa?” tanya Marina.
            Papanya mulai menceritakan kembali kisah lama yang sungguh memilukan tersebut. “Karena itulah, mamamu sempat bolak-balik ke psikiater sebulan setelah kematian kakakmu itu. Dan karena melihat kondisi mamamu yang cukup parah setelah Kalista meninggal, papa memutuskan kalau kamarnya itu dikunci saja selamanya. Mamamu pun juga setuju. Apalagi lebih baik memang jika kamarnya itu nggak usah dimasuki lagi. Biarlah kamarnya itu juga beristirahat selamanya, sama seperti Kalista.”
            “Tapi kenapa papa sama mama selalu menolak menjelaskannya tiap kali aku nanya soal kamar ini?” desak Marina.
            “Itu karena…” Pak Edo menangis sesenggukan. “Tiap kali papa sama mamamu ingat Kalista lagi, kami jadi bersedih lagi. Mata mamamu sempat berkaca-kaca waktu papa sempat melihat ke arahnya. Maaf yah, Ina, Noel, papa sama mama kalian ini baru bisa cerita sekarang. Itulah juga kenapa papa sama mama jarang sekali naik ke lantai dua. Maafkan papa juga yah, Na. Soalnya papa sering memintamu naik ke lantai dua. Sepertinya baik papa maupun memang belum siap menerima kepergian kakakmu, si Kalista itu. Apalagi Kalista termasuk anak yang periang, selain tentunya cerdas. Dia selalu langganan tiga besar, lho.”
            Tangis mamanya mulai semakin kencang. Untung ada Mbok Hapsari yang langsung sigap menghibur Bu Lita, majikannya tersebut. Kepala Bu Lita langsung diletakannya di pundaknya dan Mbok Hapsari pun mengelus-ngelus rambut majikannya itu. Dia berusaha membuat majikannya tersebut berhenti menangis. “Sudah, Bu, nggak usah menangis lagi. Tokh Mbak Kalista juga sudah lama tenang di sana.” hibur Mbok Hapsari.
            Papanya yang dari tadi berusaha menahan tangis, akhirnya meledak juga dalam tangis. Sedangkan baik Marina dan juga Noel hanya berkaca-kaca saja matanya. Suasana saat itupun perlahan jadi seperti suasana di tempat perkabungan. Tak hanya papa dan mamanya saja yang menangis, namun Mbok Hapsari pun juga ikut-ikutan menangis. Begitupun dengan Marina dan Noel. Pada saat itulah, mulai terdengar suara rintihan dari arah Kamar Kalista. Suara yang tadi sore didengar Marina pun kembali terdengar. “Aku lapar. Lapar. Lapar. Lapar.” Begitulah bunyi suaranya. Seketika itu juga mereka berlima menghentikan suara tangisan mereka.
            “Pa, dengar sendiri kan suaranya? Itu lho suara yang kudengar tadi sore.” ucap Marina dengan penuh ketakutan.
            “Iya, Pa. Aku juga sering dengar kok tiap kali naik ke lantai dua. Kadang juga suka dengar suara tukang roti, anak lagi baca puisi, atau suara penyiar berita.” Noel menimpali.
            “Iya, iya. Kali ini papa percaya.” kata Pak Edo. “Maaf yah papa meragukan kalian.”
            “Suara apa itu, Pa? Jangan-jangan Kalista?” kelakar Bu Lita.
            “Hush, mama. Ada-ada saja. Lagipula Kalista kan pasti sudah tenang di alam sana.” Pak Edo berusaha menenangkan isterinya itu. “Udah, biar papa buka dulu yah pintunya.” Lalu Pak Edo beringsut ke arah pintunya. Beliau memasukan kunci ke lubang kunci tersebut dan mulai membuka kuncinya. Kemudian gagang kuncinya pun ditekan ke bawah dan pintunya didorong ke arah belakang. Maka Kamar Kalista pun terbuka lebar. Beruntung ruangan di luarnya cukup terang dan mereka berlima juga membawa empat buah lampu petromaks. Sehingga ada sedikit cahaya yang menerangi Kamar Kalista. Suasananya pun jadi tak terlalu gelap, meskipun masih redup pencahayaannya.
Pak Edo mulai bergerak masuk. Senter yang di bawahnya mulai digerakan ke sana kemari berusaha mencari asal suaranya, hingga akhirnya sinar senter tersebut mengarah ke sebuah benda. Sepertinya benda tersebut merupakan alat perekam suara. Pak Edo – diikuti isteri, dua anak, dan pembantunya – berjalan menuju tempat perekam tersebut berada, yaitu meja belajarnya Kalista yang berwarna merah jambu. Nyaris tak ada yang berubah juga dari Kamar Kalista, selain debu yang banyak menempel di tiap barang yang ada di dalam kamar tersebut.
“Pa, lihat.” sahut Noel. “Kok perekamnya nyala gitu sih?” Suaranya Noel mulai bergetar, saking gemetarnya.
“Iya, Papa tahu.” respon Pak Edo kebingungan. Pak Edo langsung menyentuh alat perekam tersebut. Terlebih dahulu Pak Edo mematikan dulu alat perekamnya. Ia lalu menekan tombol rewind-nya, yang dilanjutkan dengan menekan tombol play. Mulai terdengar berbagai macam jenis suara. Ada suara orang sekarat di gurun pasir seperti yang didengar Marina, ada juga suara tukang roti, penyiar berita, dan suara anak perempuan baca puisi yang rupanya merupakan suaranya Kalista. Setelah beberapa suara, Pak Edo mematikan alat tersebut.
            “Selain periang dan pintar, Kalista juga anaknya iseng juga. Ia dulu suka sekali merekam apa saja suara. Termasuk suara dirinya sendiri. Yah bisa dibilanglah alat perekam suara ini merupakan mainan favoritnya Kalista.” Di tengah suasana yang semakin mencekam ini, masih sempat-sempatnya Pak Edo menceritakan ke kedua anaknya itu seputar Kalista.
            “Tapi Pa? Kenapa alatnya menyala? Bukannya aneh yah kalau alat perekamnya menyala, padahal kamarnya Kak Kalista selalu terkunci? Nggak mungkin kan alat perekamnya nyala terus selama sembilan tahun.” selidik Marina.
            “Benar juga kata-katanya Marina, Pak.” Mbok Hapsari mengiyakan. Pak Edo menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.
            “Apa yang mama bilang kan? Jangan-jangan itu Kalista, Pa?” Bu Lita mulai berkelakar kembali.
            Namun kali ini, baik Pak Edo, Marina, Noel, maupun Mbak Hapsari tak berani mendebatnya. Digubris pun tidak. Mereka berempat malah diam seribu bahasa. Seketika itu juga, Bu Lita berteriak histeris. Ia mulai panik. Kepanikannya Bu Lita pun mewabah juga ke suami, anak, dan pembantunya. Pak Edo, Marina, Noel, dan Mbok Hapsari jadi memasang ekspresi ketakutan.
            “Pa, Ma, aku mau keluar aja deh dari sini.” Noel merinding ketakutan.
            “Iya, Pa. Aku juga deh.” Marina menimpali.
            “Pa, itu tadi Kalista kan?” Bu Lita bertanya dengan hebohnya. “Kalista, Kalista, kamu dimana nak? Ini mama, nak!” Bu Lita berteriak histeris dan berusaha memanggil-manggil Kalista.
            “Ma, tenang, Ma. Tenang.” Pak Edo berusaha menenangkan isterinya itu. “Lagipula kan Kalista sudah lama meninggal. Dia pasti sudah bahagia di alam sana.”
            “Tapi mama yakin dia ada di sini. Dia masih ada di sini, Pa,” ujar Bu Lita sambil menangis histeris. Entah kenapa juga setelah mamanya Marina berkata seperti itu, dia diam sejenak dan kemudian pingsan. Bersyukurlah, Mbok Hapsari langsung sigap menangkap tubuh dari majikannya tersebut.

*****

            Keesokan harinya, Pak Edo memilih mengambil cuti dari kantornya. Ia sengaja tak masuk kantor karena dua alasan. Alasan pertama, karena kondisi kejiwaan isterinya. Sedangkan alasan kedua ialah, Pak Edo ingin memeriksa sekaligus membenahi Kamar Kalista. Kamar Kalista benar-benar di-make over. Dindingnya dicat dengan warna lebih cerah, yaitu warna kuning bunga matahari. Lampu kamarnya juga diganti setelah sekian lama selalu dalam keadaan mati. Susunan benda-benda di dalamnya juga diubah. Walaupun begitu, Kamar Kalista tetaplah Kamar Kalista. Kamar tersebut tetaplah angker, bahkan hingga Marina telah beranjak menjadi remaja SMA. Sehingga tiap kali orang-orangnya di rumahnya Marina berencana ke gudang lagi, mereka harus bersiap mendengarkan suara-suara aneh lagi dan memaksa mereka harus berdoa saat melewatinya.
            Oh yah, berbicara mengenai kaset di alat perekam tersebut, Pak Edo dan anak-anak serta isterinya dikejutkan oleh suatu hal. Rupanya side B dari kaset tersebut berisi suara-suaranya Marina, Noel, Pak Edo, Bu Lita, dan bahkan suaranya Mbok Hapsari juga terekam di kaset tersebut. Mereka semua benar-benar bingung sekaligus ketakutan. Oleh karena itulah, kaset tersebut disimpan terpisah dengan alat perekamnya di dalam lemari pakaiannya Pak Edo. Hingga Marina dan Noel telah beranjak dewasa, Kamar Kalista, kaset, dan alat perekam itu tetaplah menjadi sebuah misteri yang tak akan pernah bisa terpecahkan.



PS:  Cerpen horor ini telah lolos seleksi dalam kontes antologi "Pencinta Misteri" yang diadakan oleh Mbak Anung D'Lizta. Kurang tahu juga soal buku antologinya itu;.tapi berusaha masa bodoh saja. Hehe. Anyway, kalau ada yang menemukan buku antologi dengan naskah cerpen ini ada di dalamnya, harap dikabari yah. Hehehe. ^^

Oya, terkait cerpen ini, aku juga baru saja mengalami kejadian horor yang agak-agak mirip dengan cerpen ini. Dan jangan minta aku cerita yah, malas ingatnya lagi. >_<