Wednesday, September 18, 2013

"WAKTU AKU SAMA MIKA" yang menarik nggak menarik






"WAKTU AKU SAMA MIKA". Judul yang aneh untuk sebuah buku. Kurang catchy, pun kavernya. Kavernya juga kurang menarik. Pasti itulah sebagian besar pemikiran dari kalian kalau menemukan buku ini di toko buku. Sayangnya, kalian salah besar.

"WAKTU AKU SAMA MIKA" itu buku yang bagus banget. Layak dibeli deh. Gaya penceritaannya menarik, pula diksinya. Sepertinya jarang ada penulis - Indonesia atau mungkin non-Indonesia - yang menulis dengan gaya penceritaan seperti yang ditulis Mbak Indi ini. Kurang begitu paham juga sih, istilahnya apa. Tapi penjelasan singkatnya begini: "WAKTU AKU SAMA MIKA" ini ditulis dengan alur menarik; ada sebuah tokoh bernama Indi yang mengidap scoliosis, bertemu dengan Mika, pengidap HIV. Keseluruhan dari pertemuannya itu diceritakan seolah-olah sedang bikin biografi seseorang. Mika-nya sendiri, karena memang ini kisah nyata, sebetulnya sudah lama meninggal, saat buku ini ditulis oleh Mbak Indi. Mika meninggal Desember 2004.Latar waktunya sendiri diatur tahun 2005 hingga 2008. Unik, kan?

Sebetulnya juga, lebih suka menyebut buku ini sebagai novel. Walau kesemuanya memang kisah nyata, gaya bahasanya itu memang gaya bahasa novel. Hampir mirip sama The Diary of Amos Lee. Tak menye-menye juga, meskipun kisahnya itu bisa bikin tubuh kalian bergetar dan mau menangis, tapi tak mau berhenti untuk membacanya. Dan pastinya, stigma negatif kalian akan penderita ODHA atau AIDS akan kandas saat membacanya. Bukunya memang tipis, namun isinya sangat luar biasa. Ditulis dengan sudut pandang orang pertama, tapi sesungguhnya tokoh utamanya itu si Mika. Buku ini sungguh terpusat pada kehidupan Mika, dan amat jarang membahas soal Indi.

"WAKTU AKU SAMA MIKA" ini bercerita.... sepertinya sudah diberitahukan yah? Kalau bacanya tak lompat-lompat, pasti tahu buku ini mengisahkan mengenai Mika, kekasih dari Indi; menceritakan mengenai perjuangan Mika melawan penyakitnya sampai akhirnya malaikat maut menjemputnya. Juga akan diceritakan bagaimana istimewanya posisi Mika di dalam tubuh Indi. Secara tak langsung juga, Mbak Indi berusaha memberitahukan kita apa itu cinta sejati.

Akhir kata, buku - ah lebih suka bilangnya novel - ini memang layak mendapatkan nilai sempurna. Jangan lihat dari kavernya, tapi lihat isinya. Secara penampilan luar memang kurang menarik, tapi dalamnya luar biasa. Kalau kalian beruntung menemukan buku ini di toko-toko buku di tempat kalian, segera beli; kalian tak akan menyesal.