Friday, November 30, 2012

Catatan Perjalanan: Menikmati Suasana Pegunungan di Ibukota




Rasa-rasanya bukan warga Jakarte, kalau nggak ke Monumen Nasional a. k. a. Monas. Itulah sebabnya, waktu tanggal 16 September 2011 lalu – sebelum menghadap Pembimbing Skripsi , aku mampir ke Monas. Padahal bukan warga DKI juga sih, yah walau lumayan sering juga ke kota metropolitan, karena kampusnya ada di sana. Hehehe.

Sejak bus 77 mulai langka, aku lebih sering ke kampus naik bus 116 / bus P 100, turun di Harmoni, lalu dilanjutkan dengan naik Trans Jakarta. Kalau ke kampus sih, biasanya aku turun di halte Bendungan Hilir/Benhil, tapi tiba-tiba saja terbersit untuk bertandang ke Monas dulu. Maka turunlah aku dulu di halte Monas. Apalagi waktu itu masih sekitar jam 9 pagi. PS-nya bisa ditemui di atas jam 10. Ketimbang planga-plongo nggak jelas di kampus, mending hang out dulu sebentar di monumen kebanggaan buatan Insinyur Silaban ini. :D



Kalau masuk ke sininya, nggak bayar, kok. Yang bayar itu kalau ke museum diorama dan puncaknya.



Dari halte Monas, aku melanjutkan ke Monas dengan jalan kaki. Mungkin banyak yang nggak tahu kali yah, kalau masuk halaman Monas-nya itu nggak bayar. Kita hanya bayar buat masuk museum dioramanya dan naik ke puncaknya. Dan itu tarifnya beda-beda. Waktu ke sana, aku hanya bayar Rp 3500, buat masuk ke museum dioramanya. Itu tuh adanya di bagian dasarnya Monas – yang bentuknya segitiga itu. Tadinya mau ke puncaknya, tapi apa daya kondisi keuangan nggak mendukung.



Pintu masuk ke museum diorama.


Oya, jalan kaki dari pintu gerbang Monas hingga gedung Monas-nya itu nggak kalah menyenangkan dengan jalan kaki dan berolahraga di komplek Gelora Bung Karno (* Sebetulnya ada transportasinya juga, sih. Tapi kayaknya mahal dan jauh lebih seru jalan kaki juga. :P). Suasananya masih asri banget. Udaranya lumayan sejuk. Satu lagi, waktu sudah di pelataran Monas-nya, kita benar-benar seperti di pegunungan – atau mungkin serasa di dunia/dimensi lain. Soalnya di sana, suara hiruk pikuk macetnya Jakarta itu nyaris tak terdengar. Aku merasa, kok kayak bukan di Jakarta yah? Hmm, mungkin karena pengaruh pepohonan rimbun yang berada di sekitar Monas, jadi suara-suara bising dan polusi  terserap.



Kalau diperhatikan baik-baik, kayak ada kabut yah? Jadi serasa di pegunungan, deh. :P




Untuk ke pelataran Monas-nya, kita nggak bisa langsung ke sana. Selain pelatarannya itu dipagar, kita harus bayar tiketnya dulu, dimana loketnya itu letaknya lumayan jauh. Jaraknya itu bisa kali dibikin ajang balap lari. Hehehe. Dan loketnya itu (sepertinya) sengaja dibuat di bawah tanah. Benar-benar deh, seru saja masuk Monas lewat jalur bawah tanah. Jadi serasa lagi berada di sebuah kastil, terus ada musuh menyerang, dan kita kabur lewat pintu rahasia bawah tanah (#ModeImajinasiLebay: ON).

Di museum diorama, nggak terlalu seru juga sebetulnya. Selain penerangannya yang kurang, dioramanya juga nggak terlalu menarik perhatian. Aku kira, dioramanya itu bisa bergerak. Eh tahunya, diam seperti patung  (* Memang patung, kan? Patung mainan. Hehehe.) Sebetulnya bakal lebih menarik lagi,kalau dibikin bergerak. Jadi kita benar-benar merasakan suasana dioramanya.

Tapi, at least, perjalanan ke Monas lumayan juga. Selain fisik jadi sehat – gara-gara kebanyakan jalan, otak juga nggak jenuh karena skripshit. Cuci mata juga dengan suasana Monas yang masih asri. Oya, gara-gara kebanyakan jalan, sepulang dari sana, kedua kakiku jadi nyeri - apalagi keesokan harinya, beuh. Pegal-pegal doang sih sebetulnya. Tapi nggak apa-apa deh. Soalnya aku jadi merasakan, atmosfer yang berbeda waktu ke Monas. Yaitu suatu atmosfer yang membuat kita tak merasa sedang di Jakarta. :D




This is my video, the way i spend my quality time at Monas. :D