Thursday, October 25, 2012

(Maybe) Must fight until the last blood!



"Nasi memang sudah jadi bubur, tapi jadikanlah itu bubur terenak" - Joshua Sitorus



Aku memang baru sadar passion menulisku itu waktu kuliah semester dua. Tapi sebetulnya, kalau kuingat-kuingat lagi, bakat menulisku ini sudah ada waktu aku SD. Aku ingat, dulu pernah nggak jelas nulis-nulis sesuatu. Nggak penting juga sebetulnya. Hanya memindahkan tulisan di majalah ke buku tulis, atau bikin ringkasan dari komik yang kubaca di majalah. Oh yah, aku pernah juga coba bikin komik, lho. Tapi gambarnya hancur banget. Bakal pusing deh kalau bacanya. Jadi mending nggak usah di-share yah! :P

Nyoba bikin cerpen juga pernah. Waktu itu aku masih kelas 2 SD. kalau nggak salah, harinya itu hari minggu. Di sebuah ruang keluarga, aku sibuk dengan pensil dan buku tulis. Aku mencoba bikin cerpen gitu. Dulu tuh, aku nggak tahu kenapa mendadak pengin bikin cerpen. Apa mungkin jadi terobsesi, gara-gara suka baca cerpen di majalah Bobo? Entahlah. Karena yang jelas, cerpenku itu buruk sekali. Nggak layak deh dibilang cerpen. Lebih layak dibilang sinopsis daripada cerpen. Oh yah, tema cerpen asalku itu tentang kerajaan. Dan cerpen sinopsis itu bahkan kukirimkan ke Bobo. Tapi sih kayaknya ditolak. Wong, aku langganan majalah Bobo dan belum pernah baca cerpenku. Huehehe.

Tapi wajar juga sih. Masih anak-anak. Belum mengerti bagaimana bikin cerpen yang baik dan benar itu. Apalagi dulu itu, aku paling benci tugas mengarang. Tiap kali ada bagian mengarangnya di ujian Bahasa Indonesia, aku nggak suka. Topiknya ditentukan sih. Coba bebas, aku kan mau bikin cerpen cinta (#Abaikan). Walaupun aku belum mahir bikin cerpen, aku cukup rutin menulis buku harian. Entah kenapa, aku nggak pernah bosan menuliskan apa saja yang kualami ke dalam diary.  Apa mungkin takdirku itu jadi penulis? Apa mungkin aku punya passion di bidang tulis-menulis? Soalnya, kalau nggak suka menulis, mana betah untuk bisa rutin nulisnya. Ya tokh?

Lalu, beberapa tahun pun terlewati. Hingga akhirnya aku sudah jadi pelajar SMA. Waktu kelas 2, aku pernah baca sedikit biografinya Jujur Prananto. Itu lho, scriptwriter-nya Ungu Violet dan AADC. Nah dari sanalah, tiba-tiba saja aku jadi tertarik jadi scriptwriter juga. Pengin jadi penulis skenario dan itu merupakan satu dari sekian cita-citaku. Alhasil ngebet pengin masuk IKJ. Tapi apa daya, waktu kelas 3 SMA, aku kurang giat memperjuangkan mimpiku. Aku terlalu menurut pada orangtuaku. Jadinya, aku malah kuliah di fakultas hukum. Padahal sih, penginnya kuliah di IKJ atau yah minimal kuliah di Fakultas Komunikasi (Jurnalistik) atau sastra.

Hingga akhirnya, saat lulus ini, senjata makan tuan. Kena getahnya deh. Aku bingung mau kemana. Mau lamar pekerjaan, tapi bidang yang kuminati kebanyakan persyaratannya itu tidak aku miliki. Hanya kirim-kirim naskah saja, itu tak pasti juga. Bisa lama muatnya dn bingung juga soal bayarannya itu gimana.Pekerjaan-pekerjaan yang kuminat hanya sedikit yang masih sesuai dengan apa yang kumiliki. Salah satunya itu, aku pernah melamar jadi Moderator untuk Kompasiana. Seminggu sebelum wisuda, aku mengikuti tes wawancaranya. Hanya saja beberapa hari kemudian, aku ditolak. Selanjutnya, aku belum menemukan yang cocok dan belum menerima panggilan interview.

Hmm, aku seringkali mengeluh. Coba saja dulu aku perjuangkan cita-citaku. Atau waktu masih kuliah, aku ikut organisasi jurnalistik, kan setidaknya aku punya pengalaman menulis. Nasi sudah jadi bubur, tapi aku harap bisa mengusahakannya menjadi bubur terenak. Daripada mengeluh, lebih baik terus berusaha dan tetap pasrah pada Tuhan. Sebab, Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi kemampuan kita!






"Nggak ada gunanya mengeluh. Jangan salahkan keadaan. Kita yang harus kendalikan keadaan. Mental yang kuat dan strategi adalah modal utama. Fight until the last blood" - Mawan



PS: Tetap simak Writer's Pathway di Immanuel's Notes, yah!!!

11 comments:

  1. kompasiana ternyata buka lowongan jadi moderator, aku baru tahu

    ReplyDelete
  2. jgn sesali yg sudah terjadi mas iman, ini pilihan kita juga toh :p menyesal boleh tp jgn lama yakan yakan :D

    jgn pasra ya mas, tuhan juga gak suka kalau kita pasrah gak ada usaha hihi *sok dewasa*

    ReplyDelete
  3. menurutku mesti cari kerja. nulis itu jadi sambilan aja. kelak kalo dah berhasil nembus kemana2 tulisannya baru deh mikir jadi penulis tetap. baru berhenti kerja. sekarang yg penting kamu bisa cari nafkah dulu. daripada luntang lantung..tentu aja sambil tetep nulis kalo lagi senggang. jadi kerjakan dua hal sekaligus. tetep cari kerja. lalu kerja yg bener.

    ReplyDelete
  4. @ Fanny: God is choosing a suitable job for me, ma'am. I'm on.... :D

    ReplyDelete
  5. Jujur gue malah termasuk yg nggak tertarik sama Jurnalistik, selain karena nggak suka baca, nggak tau kenapa pas sekolah dulu tiap pelajaran bahasa mau itu ngarang kek, bikin cerpen, puisi, pantun ato apapun ujung2nya pasti buntu, cm bkn postingan blog aja yg gue nggak pernah buntu haha...

    tapi klo buat Job, mana yg lu rasa nyaman ya kerjain aja, nggak ada hubungannya sama Background pendidikan... Tuhan ngasih pilihan bebas kok, dan nggak maksa lu mesti kerja sesuai pendidikan lu :)

    ReplyDelete
  6. just keep your spirit at high, it will always ON !
    salam kenal :)

    ReplyDelete
  7. kalo sampe kekurangan darah panggil PMI ya mas...
    jangan sampai mati ya...
    take care..
    :P

    hahaaa....

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^