Buah Simalakama Bernama Politik

 
















Ada kalanya aku merasa bahwa kehidupan seseorang tidak selalu sesederhana memilih berada di pihak yang benar menurut pandangannya sendiri. Ada latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal, pengalaman masa lalu, dan berbagai pertimbangan yang membuat seseorang harus berpikir berkali-kali sebelum menyampaikan pendapat.

Bukan maksudku menjadi orang yang selalu pro pemerintah. Terpaksa aku bersikap lebih berhati-hati. Sebab, ada latar belakang kehidupanku yang tidak bisa begitu saja diabaikan.

Aku tinggal di sebuah perumahan pemerintah. Dulunya, tempat ini merupakan rumah dinas yang kemudian statusnya berubah menjadi hak milik. Papi dahulu bekerja di Sekretariat Negara. Dalam perjalanan pekerjaannya, beliau punya kesempatan bertemu dengan sejumlah presiden Indonesia.

Mulai dari Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, hingga mungkin Joko Widodo. Bahkan, sejumlah pejabat negara dan mantan menteri, termasuk Yasonna Laoly, juga pernah menjadi orang-orang yang dijumpainya.

Mendengar cerita perjalanan pekerjaan Papi terkadang membuatku berpikir bahwa keluargaku memiliki sejarah tersendiri dengan lingkungan pemerintahan. Bukan berarti kami keluarga pejabat yang memiliki kekuasaan besar. Bukan pula berarti aku otomatis harus menyetujui semua kebijakan negara.

Namun, ada semacam ikatan historis yang membuatku tidak bisa memandang persoalan ini sesederhana orang lain. Di satu sisi, aku tetap punya hak untuk mengkritik. Aku juga warga negara yang memiliki pandangan, kegelisahan, dan harapan terhadap masa depan Indonesia. Kalau ada kebijakan yang menurutku kurang tepat, tentu saja aku bisa mempertanyakannya. Kalau ada persoalan yang merugikan masyarakat, aku juga ingin menyuarakan kegelisahan tersebut.

Tetapi, di sisi lain, aku tidak ingin bersikap seolah-olah seluruh perjalanan hidup keluargaku tidak pernah bersinggungan dengan institusi pemerintahan. Inilah yang terkadang membuatku merasa berada di posisi serba salah.

Ibarat buah simalakama. Dimakan, bapak mati. Tidak dimakan, ibu mati. Tentu saja ini hanya perumpamaan untuk menggambarkan betapa sulitnya menentukan sikap ketika dua hal yang sama-sama penting saling berhadapan.

Bahkan, kalau boleh menggunakan perumpamaan yang lebih konyol, situasinya seperti menahan buang air besar ketika sedang menonton film di bioskop. Filmnya menarik, tetapi pikiran sudah tidak bisa berkonsentrasi karena ada urusan lain yang mendesak.

Hahaha.... 

Begitulah terkadang pikiranku ketika berhadapan dengan persoalan politik.

Aku juga menyadari bahwa pemerintah bukanlah sesuatu yang harus selalu dipuji. Presiden, menteri, anggota legislatif, dan seluruh penyelenggara negara tetap manusia yang kebijakannya bisa diperdebatkan. Menghormati institusi negara tidak berarti harus membenarkan seluruh tindakan orang-orang yang menjalankannya.

Sebaliknya, mengeritik pemerintah juga tidak otomatis berarti membenci negara. Barangkali, aku masih harus belajar menemukan posisi yang nyaman di antara kedua hal tersebut.

Aku ingin tetap bisa menghargai perjalanan hidup Papi, tanpa harus kehilangan kebebasanku sebagai warga negara untuk berpikir kritis. Aku ingin menghormati sejarah keluargaku, tetapi juga ingin memiliki pendapat sendiri sebagai Nuel, bukan sekadar sebagai anak dari seseorang yang pernah bekerja di lingkungan pemerintahan.

Sebab, pada akhirnya, aku bukan Papi. Aku memiliki pengalaman, pemikiran, dan perjalanan hidupku sendiri. Kalau suatu hari nanti aku menulis kritik terhadap sebuah kebijakan, semoga orang-orang memahami bahwa kritik itu bukanlah bentuk pengingkaran terhadap sejarah keluargaku.

Aku hanya sedang menggunakan hakku untuk berpikir. Toh, mencintai Indonesia tidak harus berarti menyetujui semua keputusan pemerintahnya. Terkadang bentuk kepedulian justru muncul ketika kita berani mempertanyakan sesuatu yang menurut kita perlu diperbaiki.



























"Susah bagi aku, untuk ikut-ikutan menentang kebijakan pemerintah. Meski tahu itu sulit. Sesulit menahan buang air besar saat sedang menonton di bioskop. Seperti buah simalakama saja."
- Nuel Lubis

















Comments

PLACE YOUR AD HERE

PLACE YOUR AD HERE
~ pasang iklan hanya Rp 100.000 per banner per 30 hari ~