[FAN FICTION] Semuanya Menjadi Jelas














Nama Shania Gracia sudah lama terbiasa hidup dalam dua dunia. Dunia pertama adalah yang semua orang lihat. Ini lebih tentang panggung, senyum, interaksi hangat dengan penggemar, dan citra yang selalu terjaga. Dunia kedua adalah yang lebih sunyi. Mungkin sejenis tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa sorotan, tanpa tuntutan pula. 

Selama bertahun-tahun, ia menjaga batas itu dengan rapi. Sampai suatu hari, ia memutuskan untuk merobohkannya.
Malam itu, hujan turun pelan di Jakarta. Di dalam kamarnya, Gracia duduk di lantai, bersandar pada sofa, memandangi layar ponsel yang menyala. Satu draft caption Instagram sudah ia tulis sejak dua jam lalu. Belum di-post juga.

Tangannya dingin seketika.

“Kalau aku posting ini,” gumamnya pelan, "semuanya pasti akan berubah."

Di sisi lain ruangan, seorang laki-laki duduk di kursi, tidak mendekat, tapi juga tidak menjauh. Ia membiarkan Gracia berada dalam ruang pikirnya sendiri.

“Kalau belum siap, nggak usah sekarang,” kata si laki-laki itu akhirnya. Suara itu tenang. Tidak menekan tokoh utama perempuan kita.

Gracia menoleh, berkata lirih, “Aku capek, Man…”

Iman tidak langsung menjawab. Alih-alih membalas dengan pernyataan, laki-laki itu malah mengajukan pertanyaan.

“Capek nyembunyiin?” tanya Iman pelan.
Gracia mengangguk.

Sudah hampir satu tahun mereka bersama. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang boleh tahu juga. Selanjutnya mereka bertemu di waktu-waktu aneh. Lebih sering di malam hari setelah semua aktivitas selesai
di tempat-tempat yang tidak mencolok
atau hanya lewat panggilan suara yang panjang.

Tidak ada foto berdua. Tidak ada story yang penuh kode. Tidak ada kesalahan yang sering dilakukan antar kekasih.
Terlalu rapi pula, hubungan itu disembunyikan. Justru itu yang melelahkan.

“Aku bukan malu sama kamu,” kata Gracia, matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku cuma… takut.”

Iman mengangguk pelan. Ia sudah tahu.
Bisa jadi Gracia takut kehilangan kepercayaan penggemar. Atau dianggap melanggar ekspektasi. Pun, atau lebih sederhana lagi, kehilangan apa yang sudah dibangun selama ini.

Iman berdiri, berjalan pelan, lalu duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Namun untuk cukup dekat untuk bisa Gracia rasakan.

“Kamu nggak harus pilih sekarang,” kata Iman.

Gracia menghela napas panjang.
“Tapi aku juga nggak mau terus kayak gini,” balas Gracia.

Sunyi beberapa detik. Hanya suara hujan yang terdengar. Lalu Gracia mengambil ponselnya lagi. Ia membuka kembali draft caption itu. Foto yang ia pilih sederhana itu ternyata bukan foto berdua. Hanya foto dirinya berswafoto, yang tersenyum, tanpa panggung, tanpa riasan wajah berlebihan. Itu adalah foto yang diambil Iman beberapa minggu lalu, saat mereka hanya berjalan tanpa tujuan di sore hari.

Di caption itu, laki-laki itu menulis:

“Selama ini aku banyak menyimpan bagian hidupku sendiri. Bukan karena ingin menutupi, tapi karena aku belum tahu kapan harus berbagi. Hari ini, aku ingin jujur. Aku sedang belajar menjalani hubungan dengan seseorang. Tidak sempurna, tidak selalu mudah, tapi nyata.
Terima kasih sudah tetap ada untukku. Semoga kalian bisa menerima sisi ini juga.”

Gracia memilih untuk tidak menyebut nama. Tidak menandai siapa pun. Begitu saja sudah cukup untuk membuat Gracia bahagia.

Gracia menatap layar itu lama.

“Man…”

“Hmm?”

“Kalau nanti semuanya berubah, gimana?”

Iman tersenyum kecil, berkata sambil tersenyum manis, “Ya berarti kita hadapi bareng-bareng, Gre.”

Tidak ada janji besar. Tidak ada kata-kata dramatis. Namun entah kenapa, justru itu yang membuat Gracia merasa tenang. Dengan satu tarikan napas panjang, ia menekan tombol “Post.” Beberapa detik pertama, tidak ada yang terjadi. Lalu notifikasi mulai masuk.

Mulai dari satu, sepuluh, seratus, dan ribuan. Komentar, like, repost... semuanya datang seperti gelombang yang tidak bisa dihentikan.

Gracia menutup matanya sejenak. Tangannya gemetar. Iman hanya duduk di sampingnya. Tidak menyentuh dan mengganggu Gracia. Hanya berada di sisi Gracia.

Beberapa menit kemudian, Gracia membuka matanya. Komentar pertama yang ia baca:

“Kalau kamu bahagia, kami juga bahagia.”

Lalu yang lain:

“Terima kasih sudah jujur.”

“Jaga diri ya, Gracia.”

“Kami tetap akan support, kok.”

Tidak semuanya positif, tentu saja. Ada juga yang kecewa. Ada yang mempertanyakan pula. Namun tidak seburuk yang ia bayangkan. Air mata Gracia akhirnya jatuh. Itu bukan karena sedih, melainkan karena lega.

“Aku kira bakal lebih parah…” kata Gracia sambil tertawa kecil di sela tangis.

Iman ikut tersenyum, membalas, “Kadang yang kita takutkan di kepala… lebih besar dari kenyataan.”

Gracia menoleh ke arah Iman, lalu mendekat. Benar-benar mendekat.

“Terima kasih ya… sudah sabar,” kata Gracia pelan. "Makasih banyak udah sabar banget nungguin dan ngadepin kelakuan aneh-aneh aku."

Iman menggeleng. “Ini bukan soal sabar.”

“Terus?”

“Soal milih tetap di sini.”

Di luar, hujan mulai reda. Lampu kota memantul di jendela, menciptakan suasana hangat yang anehnya terasa sangat tenang. Gracia memandang ke luar sebentar, lalu kembali menatap ponselnya. Hidupnya kini sudah berubah. Tidak sepenuhnya bebas. Tidak sepenuhnya mudah juga, melainkan lebih jujur.

“Mungkin besok bakal lebih ribet,” kata Gracia.

“Bisa jadi,” jawab Iman santai.

“Tapi…”

“Tapi?”

Gracia tersenyum, dan berkata, “Sekarang aku nggak sendiri lagi ngejalaninnya.”

Iman tidak menjawab. Ia hanya menatap ke depan, lalu berkata pelan: “Dari awal juga nggak pernah sendiri.”

Malam itu, untuk kali pertama, dua dunia yang selama ini dipisahkan akhirnya bertemu. Tidak sempurna. Tidak tanpa risiko pula, tapi nyata.

"It's true bliss, I guess," ujar Gracia, lu membiarkan bibirnya dikecup Iman.






 


Comments

PLACE YOUR AD HERE

PLACE YOUR AD HERE
~ pasang iklan hanya Rp 100.000 per banner per 30 hari ~