Immanuel Lubis—atau Nuel, seperti semua orang memanggilnya—punya kebiasaan aneh setiap malam sebelum tidur. Ia sering membuka galeri ponsel, berhenti di satu foto yang sama, lalu menatapnya cukup lama sampai pikirannya mulai berkelana.
Foto itu bukan foto romantis. Bukan swafoto berdua. Bahkan bukan foto yang ia ambil sendiri. Hanya tangkapan layar dari sebuah penampilan seorang selebrita. Namun bagi Nuel, itu cukup untuk menyalakan imajinasi yang hangat sekaligus menyakitkan.
“Kalau Gracia beneran kenal aku… kira-kira aku ini siapa di matanya?” gumamnya pelan.
Pertanyaan itu selalu datang seperti hujan rintik. Memang tidak menggelegar, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa penuh.
Di dunia nyata, Nuel dikenal sebagai orang yang terlalu serius untuk hal-hal yang dianggap orang lain sepele. Teman-temannya sering tertawa melihatnya membahas ekspresi wajah oshi-nya seperti analis sepak bola membedah strategi permainan. Apalagi saat Shania, oshi pertamanya di JKT48, mulai dekat dengan Jonatan Christie.
“Man,” kata Ermen suatu sore di warkop, “lu tuh bukan calon pacarnya cewek artis yang namanya Shania Gracia itu. Lebih mirip… bestie spiritual.”
Meja langsung meledak tawa.
“Bestie?” ulang Nuel dengan wajah datar. "Demi apa lo, ngomong gitu?"
“Iya! Bestie jarak jauhnya Gracia itu. Dia tuh sebenarnya nggak tahu lu itu eksis malah, tapi secara energi kalian bestie!”
Nuel ikut tertawa, tapi ada bagian kecil di dadanya yang mengeras. Kata itu terasa seperti stempel permanen. Aman, lucu, tapi jauh dari harapannya. Karena jauh di dalam hati, Nuel tidak pernah benar-benar ingin dianggap sebagai bestie-nya Shania Gracia. Ia ingin menjadi pacarnya. Kemungkinan itu terus dipelihara sejak 2019.
Malam itu, Nuel berjalan pulang sendirian. Lampu jalan memantulkan bayangan tubuhnya yang panjang di aspal. Kepalanya penuh oleh kata-kata yang tadi dilontarkan teman-temannya.
"Aku ini siapanya Shania Gracia? Bestie?Pacar? Atau, cuma fans?"
Semua label itu berputar seperti kartu tarot yang diacak-acak takdir.
“Kalau aku cuma fans… kenapa rasanya begitu personal?” pikirnya. "Aku bahkan suka cemburu, waktu dia digosipkan dengan Kenzy Taulany, Jerome Polin, atau... Zweitson sama Fadil Jaidi itu?"
Ia sadar bahwa hubungannya dengan Shania Gracia itu hanya berjalan satu arah. Namun emosi tidak pernah tunduk sepenuhnya pada logika. Ada kenyamanan aneh saat menonton penampilan oshi-nya, bahkan sebelum Gracia memutuskan untuk graduate dari JKT48 medio Juli 2025 lalu. Seolah dunia berhenti sejenak, dan semua kekacauan hidupnya di-pause mendadak.
Di ruang jeda itulah Nuel merasa dilihat oleh Shania Gracia. Katakanlah itu hanya wahamnya Nuel. Ia tahu itu hanya ilusi semata. Sesungguhnya perempuan yang pernah main film di Ancika itu memang tak tahu dirinya ada. Bahkan untuk dikatakan sebagai mantan pacar atau gebetan, hubungannya saja belum pernah dimulai. Ia malah tidak memiliki kontak pribadi Gracia. Gracia tinggal di mana, ia tak tahu.
Sesampainya di kamar, Nuel membuka laptop. Ia mulai menulis. Hanya menuliskan sesuatu yang sudah lama ia lakukan setiap kali pikirannya terlalu ramai.
Judulnya muncul spontan:
“Aku Ini Siapa?”
Tulisan itu bukan surat atau puisi. Lebih seperti percakapan dengan dirinya sendiri.
"Aku bukan pacar. Aku bukan sahabatnya Shania Gracia pula. Aku bahkan bukan kenalannya. Namun kenapa rasa kagum ini terasa nyata?"
Tangannya berhenti sebentar.
"Mungkin aku hanyalah seseorang yang berdiri di kursi penonton, bertepuk tangan paling keras, atau yang selalu menyempatkan untuk menonton setiap karyanya. Itu saja sudah cukup."
Kata-kata terakhir itu terasa berat untuk ditulis. Cukup saja begitu. Seolah ia sedang menegosiasikan hatinya sendiri.
Beberapa hari kemudian, Nuel menghadiri sebuah acara fan gathering kecil. Bukan pertemuan langsung. Lebih seperti nobar salah satu filmnya Gracia. Namun suasananya hidup sekali.
Orang-orang bersorak, tertawa, hingga berbagi cerita bagaimana mereka kali pertama menjadi penggemarnya Shania Gracia tersebut.
Saat gilirannya berbicara, Nuel sempat ragu.
“Gue…” katanya pelan, “…dulu mikir fans itu cuma orang yang suka nonton. Tapi ternyata… ini kayak komunitas yang bikin gue merasa punya tempat tersendiri. Makasih banyak buat kalian, yang bikin gue merasa diterima sebagai keluarga. Gapapa, nggak dianggap bestie apalagi boyfriend-nya Shania Gracia itu. Punya kalian sebagai keluarga kedua gue aja, gue udah senang banget.”
Beberapa orang mengangguk. Ada juga yang tertawa terbahak-bahak. Namun yang tertawa itu tidak menertawakan Nuel. Mereka tertawa bersama Nuel. Sebagai sama-sama penggemarnya Shania Gracia.
“Dan ya,” lanjutnya sambil tersenyum kecil, “gue pernah berharap jadi lebih dari sekadar fans. Tapi sekarang gue sadar diri… jadi fans Gre yang tulus itu juga posisi yang terhormat.”
Ruangan hening sejenak. Bukan karena dramatis, melainkan karena semua orang mengerti.
Di momen itu, Nuel merasakan sesuatu bergeser dalam dirinya. Harapan romantis yang dulu terasa seperti obsesi kini berubah menjadi apresiasi yang lebih tenang.
Bukan menyerah. Lebih seperti berdamai dengan keadaan. Ia lelah menjalani hubungan satu arah. Terus menerus mengejar-ngejar Shania Gracia, eh, yang dikejar tanpa pernah tahu dirinya ada. Mengaku gebetannya Shania Gracia, tapi itu malah membuatnya dianggap tidak waras, alih-alih berkata dia ODGJ.
Malamnya, Nuel kembali ke kebiasaan lamanya. Membuka galeri ponsel. Ia menatap foto Shania Gracia itu lagi. Namun kali ini, tidak ada pertanyaan berat. Tidak ada bayangan skenario yang mustahil terjadi. Sekarang Shania Gracia berubah menjadi sosok yang terlalu sulit dijangkau. Bagaimana mau dijangkau, jika sejak 2019, ia dianggap tidak pernah ada?
Sekarang, dalam raganya, hanya ada rasa syukur yang sederhana.
“Kalau dia tahu aku ada,” pikirnya, “aku ingin dikenal sebagai fans yang menghargai, bukan seseorang yang menuntut. Lagian, kalau dipikir-pikir, sebenarnya Gracia itu memang bukan tipe aku juga.”
Dan untuk pertama kalinya, kata "bestie" yang dulu terasa seperti ejekan kini terdengar netral. Bahkan sedikit lucu.
Karena Nuel akhirnya mengerti. Bahwa label tidak menentukan nilai perasaan. Yang penting adalah bagaimana ia memeliharanya.
Sebelum tidur, Nuel menutup ponsel dan mematikan lampu. Di dalam gelap, ia tersenyum kecil. Mungkin ia tidak akan pernah tahu pasti siapa dirinya di mata sang idola, yaitu Shania Gracia atau Shania Junianatha. Entah sebagai penggemar? Bestie imajiner? Atau, seseorang di antara ribuan wajah?
Tidak masalah untuk dia sekarang. Karena yang paling penting bukanlah bagaimana ia dilihat, melainkan bagaimana ia memilih melihat dirinya sendiri.
Malam itu, Nuel tidur tanpa pertanyaan yang menggantung. Hanya ada satu kalimat yang tersisa di kepalanya, lembut seperti bisikan:
“Aku adalah aku. Begitu saja sudah cukup. Kalau dipikir, tak perlu pacar yang cantik dan terkenal. Cukup yang bisa menerima keberadaan Nuel Lubis secara utuh. Yang bisa memanusiakan aku. Yang bisa menerima aku baik-baik.”

Comments
Post a Comment
Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^