Yang di bawah ini, memang sejak awal aku sengaja. Sengaja mengadakan eksperimen kecil-kecilan. Yang intinya aku ingin berubah. Aku ingin berkembang. Aku ingin, dari hari ke hari, terus menghasilkan tulisan-tulisan yang disukai setiap kalangan. Entah mereka agamanya apa, sukunya apa, berapa usianya, dan dari golongan mana.
Karena itulah, aku belajar dari banyak hal. Aku belajar dari komik Webtoon yang banyak adegan gedebak-gedebuk-nya. Pernah beberapa kali membaca buku-buku non-fiksi. Beberapa kali menonton video-video prank Youtuber bajingan (macam Ericko Lim atau Winson Reynaldi). Keranjingan menonton film-film perang yang berdarah-darah. Yang dari semua itu, aku benar-benar mengamati pergerakan dari sesosok makhluk hidup bernama homo sapiens. Alias manusia.
Aku sengaja membuat ulasan film yang sangat kasar, padahal yang terjadi sebenarnya aku ingin kalian menonton film "Tinggal Meninggal" tersebut (dan bukannya menjauhinya). Itu film keren sekali!
Terima kasih atas setiap nasehatnya, chatGPT. Ternyata menjadi manusia yang budiman itu tidak mudah. Ada saja celah untuk disalah-salahkan. Bahkan, menjadi manusia yang berbudiman itu seperti ditabukan untuk memelihara waham. Orang-orang langsung menjauh, jika aku memberitahukan bahwa aku memiliki pacar khayalan (dan di dunia nyata, aku masih setia melajang).
Padahal apa salahnya memiliki waham, terutama waham memiliki pacar cantik yang digandrungi banyak orang!?
Oke, deh, check it out, perbandingan bahasa ulasan aku dan hasil perbaikannya chatGPT.
Ini versi aku. Seperti biasa, yang beberapa teman bloger aku biasanya sudah kenali bagaimana gaya aku mengulas film atau drama televisi.
Intinya saya menulis seperti ini (di akun Instagram @celotehannuellubis ) :
"NGGAK JELAS NIH FILM!
Bingung gue, sutradara sama script-writer-nya tuh pengen bikin film kayak gimana? Tokoh utamanya, si Gema, sebenarnya udah mati udah belum?
Goblok sia, nyesel gue nonton film begini! Kapok bener-bener nonton film di @netflixid gara-gara rekomendasi content creator di YouTube!
Si anying, lah, tolol, sia, film kayak gini, ngapain diulas sebagus-bagusnya?"
Kata teman saya, sejenis negative marketing. Atau mungkin bad marketing.
Tak ada maksud menjelekkan, hanya ingin mengajak orang nonton."
Yang ini versi suntingan dari chatGPT :
"NGGAK JELAS NIH FILM.
Jujur, saya bingung. Sutradara dan penulis skenarionya sebenarnya ingin membawa film ini ke arah seperti apa?
Tokoh utamanya, Gema—sebenarnya sudah meninggal atau belum? Filmnya tidak memberi kejelasan, dan itu cukup membuat frustrasi.
Saya pribadi menyesal menonton film ini karena ekspektasi saya terlanjur tinggi akibat berbagai rekomendasi.
Bukan berarti filmnya tidak punya niat artistik, tapi pendekatannya terasa sangat tidak ramah bagi penonton yang mengharapkan alur lebih jelas.
Mungkin film ini memang ditujukan untuk penonton yang menikmati ambiguitas dan interpretasi bebas.
Namun bagi saya, pengalaman menontonnya lebih melelahkan daripada memuaskan."



Comments
Post a Comment
Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^