Pengalaman Terima Bansos

 













Dulu aku pernah baca dari sebuah sumber tentang bantuan dari pemerintah untuk setiap warga negaranya. Yang namanya bantuan langsung tunai (BLT)--atau sekarang bantuan sosial (bansos)--ada juga di beberapa negara. Bedanya dengan di Indonesia, di beberapa negara maju, orang malu untuk menerima bantuan tersebut. Tak sedikit yang menerimanya itu menyamarkan identitasnya dengan cara mengenakan kacamata hitam dan masker. Yah, itu salah satu caranya.

Sementara di Indonesia, sepertinya malah tidak malu untuk menjadi daftar penerima bantuan dari pemerintah. Kurang lebih itulah yang kutangkap.  Untuk aku sendiri, untuk menanyakan informasinya saja aku takut-takut. Saat aku menerimanya dari orang kelurahan, ada secercah perasaan malu. Sehabis menerimanya, aku terburu-buru mengucapkan terima kasih dan melipir pulang. 

Hal yang sama berlaku pula saat aku menerima bantuan UMKM November kemarin. Begitu terima buku rekening dan uangnya, walau takut juga dengan sanksinya, entah kenapa ada semacam dorongan untuk bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya--dan juga sesuai amanah yang terkandung di dalam bantuan tersebut. Setidaknya itulah yang kurasakan, yah. Aku tak bermaksud untuk nyinyir juga. 

Sudahlah, segitu saja. Lewat tulisan ini, aku hanya mau bilang, untuk aku pribadi, ada semacam perasaan tak enak setelah menerima bantuan pemerintah. Walau memang butuh, perasaan tak enak itu sulit untuk dihilangkan. Dan, perasaan tak enak itu bisa berupa malu, enggan, terbebani, hingga perasaan terpojok juga. Terutama perasaan malunya itu, loh. Sangat luar biasa malu. Tak heran masyarakat negara maju itu malu-malu untuk mengambil bantuan dari pemerintah. 

Belajar dari pengalaman beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan satu pelajaran penting. Kadang urusan perut bisa membuat urat malu kita putus. Daripada tidak makan, daripada hidupnya begitu-begitu saja, terpaksa deh. Yang aku tambah heran lagi, sudah ada orang-orang yang rela putus urat malunya, kenapa harus ada sekumpulan orang yang oportunis. Tapi, yah sudahlah.  C'est la vie!

Semoga saja makin banyak orang yang makin berempati terhadap penderitaan sesamanya. Membantu sesama tanpa pikir-pikir. Seharusnya pandemi ini juga makin mengajarkan manusia untuk lebih tulus dan ikhlas dalam membantu sesamanya. Seharusnya seperti itu. 













Untuk pemesanan Prime Skin Hair Intensifier: 
Nuel Lubis 
📩 immanuel.lubis@gmail.com







Comments

Place Your Ads Here