Filosofi Standar Sepeda & Ban Kempis

 














Singkat saja tulisan kali ini. Jadi, begini. Anggap saja bahan renungan untuk kalian yang membacanya. 

Tiap kali aku tengah bersepeda, entah untuk sekadar have fun, entah untuk sekadar bepergian ke suatu tempat (sepeda itu alat transportasi aku sehari-sehari alih-alih motor), ada saja orang yang menegur aku. Pasti ada yang berseru ke arah aku: "Dek, standarnya." Atau, ada yang berseru kepadaku juga seperti ini: "Dek, bannya kempes." (Yang maksudnya, ban sepeda aku kurang angin).

Jengkel, sih. Kadang mengganggu juga. Iya, aku menganggap teguran mereka itu mengganggu. Tapi, kalau kurenungi baik-baik, satu hal yang kutangkap adalah mereka peduli. Saking peduli dan perhatiannya, mereka sampai sedetail itu memperhatikan aku. Padahal, standarnya berada di bawah. Posisi mata berada di atas standar sepeda. Masih terlihat saja, standar sepeda aku yang terlihat tidak elok di mata mereka. 

Sampai di situ, aku mulai sadar satu hal. Berbuat baik kadang seperti itu. Sesuatu yang kita lakukan, jika niatnya baik, well, mungkin agak mengganggu untuk yang bersangkutan. Bukankah kebaikan yang utama (yang dilandasi oleh rasa tulus hati) itu seringkali datangnya  dari sesuatu yang kecil dan suka dianggap remeh? Sama seperti mereka yang menegur aku tadi. Kalau tidak ada teguran mereka, mungkin aku telat mengetahui ban sepeda aku kempis. Lalu, aku sadarnya baru sebulan kemudian di saat uang menipis. Kalau tidak ada peringatan dari mereka, mungkin bakal ada masalah serius yang menimpaku hanya karena persoalan standar (walau aku belum tahu apakah yang akan terjadi jika aku bersepeda dengan kondisi standar tidak dibuat dalam posisi horisontal dulu). Who knows?!

Omong-omong, terima kasih untuk teguran skala kecilnya. Terima kasih juga atas pembelajaran yang aku dapatkan. Aku jadi belajar lagi tentang sebuah kebaikan. Yang menurut kamu mengganggu, sebetulnya itu salah satu bentuk kepedulian mereka untuk kita. Yang remeh saja, mereka perhatikan. Apalagi, yang lebih besar lagi. 

Sesungguhnya, letak ketulusan itu berada di hal-hal seperti itu--yang salah satunya, seputar persoalan standar dan ban kempis tersebut. 






Comments

Place Your Ads Here