26 Orang Mati Martir di Jepang

 













Kekristenan bukanlah barang baru di Jepang. Itu sudah lama ada di Jepang. Semenjak pelaut Belanda tiba kali pertama di pantai Jepang, makin banyak orang Eropa tiba di Jepang. Jepang mulai dilirik, yang biasanya selama ini orang Eropa lebih tertuju ke India atau Asia Tenggara. 

Karena makin banyaknya orang Eropa di Jepang, kekristenan makin berkembang. Tak sedikit orang Jepang masuk Kristen. Hingga akhirnya, salah satu pemimpin Jepang kurang menyukai perkembangan Kristen yang luar biasa pesat. Salah satunya, Hideyoshi Toyotomi.

Sudah lama sekali Shogun Toyotomi tidak menyukai agama baru orang kulit putih tersebut. Agama itu menolak dewa-dewi Jepang. Agama itu juga menolak konsep harakiri atau seppuku. Yang terakhir, itu semacam ritual melakukan bunuh diri beramai-ramai demi menjaga harkat dan martabat seorang prajurit Jepang (Seppuku biasanya dilakukan oleh samurai).

Suatu waktu, kapal San Felipe berlayar dari Manila, Filipina menuju Acapulco, Meksiko. Kapal itu terdampar di pantai Jepang. Sesuai hukum kelautan Jepang, kapal itu menjadi milik pemerintahan Jepang. Orang-orang Spanyol itu tak terima. Penguasa lokal Chosokabe Motochika menyarankan mereka untuk segera menemui Shogun saat itu. Dalam hal ini, Hideyoshi Toyotomi.

Francisco de Olandia dengan ceroboh lalu berkata kepada Mashita Nagamori, salah seorang Daimyo (di bawah Shogun), bahwa Kerajaan Spanyol  memperluas imperiumnya dengan mengubah lokal menjadi Kristen. Seorang Conquistador dikirimkan untuk menguasai wilayah tersebut. De Olandia juga berkata bahwa kendati berbeda negara, Spanyol dan Portugal itu diperintah oleh raja yang sama. Daimyo itu seketika meradang. Informasi itu diteruskan ke Shogun. Toyotomi marah besar. 

Toyotomi lalu memerintahkan diri untuk menangkap orang-orang yang menganut agama kulit putih tersebut. Dua puluh enam orang berhasil ditangkap dan dieksekusi dengan cara disalib di Nagasaki pada tanggal 5 Februari 1597. Dua puluh enam orang itu terdiri dari: empat orang Spanyol, satu orang Meksiko, satu orang Portugis dari India (seorang misionaris Fransiskan), tiga orang Yesuit Jepang, dan tujuh belas orang anggota ordo ketiga santo Fransiskus Jepang. 

Tak hanya sampai di situ saja, kekristenan mulai mengalami masa-masa sulit di Jepang. Pengikutnya terus diburu. Itu berlanjut di era Tokugawa Ieyasu, yang berhasil memenangkan pertempuran Sekigahara dan berkuasa selama dua ratus enam puluh delapan tahun. Orang Kristen terus menerus dikebiri. Dari sanalah muncul golongan yang disebut sebagai Kakure Kirishitan (Kristen yang sembunyi-sembunyi). Segala pernak-pernik kekristenan disamarkan menjadi hal lainnya. Ambil contoh: patung Bunda Maria dibuat menyerupai dewi Jepang. 

Lebih dari empat ratus orang martir di Jepang. Mereka semua telah diakui melalui beatifikasi oleh Katolik Roma. Empat puluh dua di antara empat ratus orang itu bahkan sudah dikanonisasi menjadi orang suci (nama lainnya, santo-santa). Sementara itu, dua puluh enam orang yang disalib sekaligus ditombak itu juga dikanonisasi oleh Paus Pius IX pada tahun 1862.






Comments