Seminggu Nuel Lubis sebagai Pujangga















~ Hari senin, di sebuah kafe di daerah Kota Moderen, seraya menunggu, aku membaca, membaca, dan membaca. Apa saja kubaca hingga terlahir beberapa karya, yang salah satunya "Cualacino".

~ Hari selasa, masih di kafe yang sama, kupandangi mainan kucing tersebut. Aku sadar, saat kita menulis, itu bukan lagi sekadar menulis layaknya menyelesaikan PR Bahasa Indonesia dari Bu Retno atau Bu Silaen dulu. Ada tanggung jawab maha besar di balik sebuah tulisan.

~ Hari rabu, di sebuah jasa pengiriman, aku nyengir sendiri. Walau aku merasa ini sepele, sekadar sebuah ucapan duka, itu tetap saja membuat batinku tenang, damai, dan bahagia.

~ Hari kamis, di atas sebuah jembatan penyeberangan, aku memberikan saran sederhana. Tulislah apapun yang kalian suka di tempat tertutup. Maksudnya, jangan biarkan orang mana pun mengintervensi tulisan kalian. Lalu, saat kalian harus menuliskannya ulang, perhatikanlah sesama kalian. Percayalah padaku, menuliskan ulang itu jauh lebih rumit dari menuliskan sesuatu yang baru.

~ Hari jumat, di sebuah taman bermain, aku sangat merasakan kenikmatan saat menuliskan sesuatu untuk diriku sendiri, walau pembacanya hanya satu-dua pembaca, bahkan nirpembaca.

~ Hari sabtu, di SMA aku yang sekarang berdiri nan megah, kukatakan kepada dunia bahwa benarlah yang dikatakan oleh Jules Renard. Menulis memang sebuah cara bicara tanpa diinterupsi. Aku sangat menyukai aktivitas ini.

~ Hari minggu, di kampus Atmajaya - BSD, kubuka IMMANUEL'S NOTES, lalu kubertanya ke pohon yang bergoyang tersebut, apakah IMMANUEL'S NOTES sudah yang terbaik untuk khalayak ramai. Maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Aku pun hanyalah manusia biasa. Aku bukan Tuhan, apalagi Yue Lao yang konon sering menciptakan banyak kisah cinta yang luar biasa.







Comments