Kisah Yusuf dan Hijrah Bangsa Israel














"Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya." Ibrani 11:22


Yusuf--menjelang matinya--mengingat janji TUHAN kepada Abraham, Ishak, dan Yakub bahwa Israel akan menjadi bangsa yang besar seperti pasir di pantai; atau seperti bintang di langit

Mata rohani Yusuf selalu mengarah ke Kanaan. Karena, memang itulah yang seharusnya terjadi. Meskipun Yusuf dan seluruh keluarga besarnya berada di Mesir karena wabah kelaparan, Yusuf terus meyakini suatu hari kelak akan bebas dari kelaparan Mesir. Jujur, aku melihat bahwa masa depan Israel memang di Kanaan, bukan di Mesir. Walaupun hidup Yusuf dan keluarga besarnya sudah enak di Mesir, mereka tetap harus kembali ke Tanah Perjanjian. Wajar jika Yusuf sudah merencanakan masa depan untuk hijrah balik ke Kanaan. Yusuf memang terpercaya  di Mesir. Namun, sampai kapanpun mereka akan menjadi warga kelas dua. Mereka orang buangan. Kanaan-lah tempat yang dijanjikan Tuhan, bukan Mesir.

Lalu, beberapa ratus tahun setelah Yusuf meninggal (maaf kalau salah waktu), karena iman, Musa--setelah dewasa--menolak disebut anak puteri Firaun. Karena ia lebih suka menderita sengsara dengan bangsanya sendiri. Apa yang dilakukan Musa sejalan dengan nats Ibrani 11:24-25. Padahal Musa--sebagai kelanjutan kepemimpinan bangsa Israel--bisa saja hidup mewah. Namun, Musa MENOLAK HIDUP MEWAH DI MESIR. Ia cenderung turun ke lapangan, lalu memimpin bangsanya berjalan menuju Kanaan, tempat Tuhan menjanjikan susu dan madu.

Lalu, bagaimana dengan kita? Kalau Tuhan mau kita ke A, apakah kita taat atau kita malah nyasar ke B? Apakah kita malah antusias untuk menjalankan kehendak Tuhan? Atau kita lebih suka menjalankan kehendak kita sendiri? John Piper pernah berkata, Allah paling dimuliakan ketika kita paling dipuaskan di dalam Dia. Sungguh quotes itu dalam sekali. Kalau kita sungguh-sungguh dalam Tuhan, kepuasan-kepuasan yang memuaskan kita adalah hasrat Allah itu sendiri. Nggak mungkin bertabrakan. Kalau bertabrakan, kesalahannya berada di diri kita sendiri. Yuk, introspeksi diri!

Mungkin karena itulah visi "Hijrah ke Kanaan" bisa menyetir hidup Musa dan Yusuf. Mereka tetap merasa ADA YANG LEBIH INDAH DARI MESIR yang saat itu memanjakan mata, perut, dan betul-betul merelaksasikan tubuh jasmani mereka. Karena mereka tahu kenyamanan sesungguhnya mereka memang terletak di Kanaan. 

Marilah kita berdoa agar kita diberikan visi seperti itu. Inginkan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Selamat berefleksi. Selamat hari minggu!


* terinspirasi dari khotbah seorang pendeta di GKI Kota Moderen, Tangerang







Comments