#Aladdin&Yasmin : Permulaan Kisah Cinta Aladdin & Yasmine









Genre: Romance











"Aduh!" Pemuda bernama Aladdin itu kesakitan saat kepalanya dipukul dengan sebongkah lobak oleh Thorik.

Thorik merupakan salah seorang pedagang yang cukup rutin berjualan di pasar ini. Dan, Thorik yang sudah cukup membungkuk dan uban bertebaran di mana-mana itu konon pernah berhubungan dengan ayah Aladdin.

Aladdin yang malang. Dia hidup sebatangkara. Tempat tinggalnya selalu berpindah-pindah. Malam ini Aladdin tidur di pinggir kopel yang ini. Besoknya bisa jadi dia akan tidur di bawah menara pengawas yang berada di gerbang masuk kota Agrabah.

Nyamankah Aladdin dengan hidup seperti itu? Ia menyaman-nyamankan dirinya dengan cara hidup seperti itu. Masih untung ia masih bisa bernapas di udara terbuka, masih bisa melihat bintang-bintang di langit, atau berjalan ke sana ke mari dengan kaki telanjang. Semuanya itu dilakoninya sendirian. Oke, ralat, ia lakoni bersama kera peliharaannya yang ia namai Abu.

"Antum ini," geram kakek bernama Thorik yang menatap kesal Aladdin. "Ana heran mengapa antum tak pernah kapok mencuri. Sudah berapa kali antum dijebloskan ke dalam penjara? Jawab ana, Aladdin!"

Aladdin hanya bisa meringkuk. Wajahnya ia tutupi dengan kedua tangan. Abu berteriak-teriak dalam bahasanya semata-mata untuk membela pemuda yang hobi mengenakan peci merah tersebut.

"Jika bukan ayah antum itu kerabat dekat ana,--" desis Thorik. "'--sudahlah, ana maafkan."

Thorik beringsut menuju Aladdin. Ia setengah membungkuk dan berkata, "Bangun, Aladdin. Ana sudah maafkan."

Aladdin membuka mata. Ia melihat pedagang sayur itu sudah melunak. Ada sebuah senyuman yang mengembang di wajah Thorik.

"Syukran ya Paman." Aladdin membungkuk sebagai pertanda dia sungguh minta maaf. "Tapi, sumpah, kali ini bukan ana yang mencuri. Ana malah berusaha menangkap berandalan cilik yang mencuri sayuran dan uang Paman."

Baru saja Thorik mau membalas, khalayak ramai dibuat ribut oleh kedatangan sultan dan rombongan. Hari ini Sultan Agrabah tengah meninjau pasar rakyatnya. Rencananya sultan akan membagi-bagikan koin emas. Gosipnya putri semata wayangnya, Yasmin tengah berulangtahun yang keduapuluh tahun. Dan, Yasmin akan segera dipertunangkan dengan seorang saudagar kaya raya dari negeri sebelah, yang bernama Jafar.

Mata Aladdin spontan menangkap wajah Putri Yasmin. Alangkah beruntungnya Aladdin. Walau ditutupi tirai, belum lagi Putri Yasmin tengah mengenakan kerudung dan bercadar, Aladdin bisa melihat sekilas wajah cantik Putri Yasmin.

Allahu akbar, benar gosipnya, Masya Allah, putri itu cantik nian, batin Aladdin.

Aladdin menengok ke arah Abu yang entah sejak kapan berada di bahu kanan Aladdin. "Iya, Abu. Putri Yasmin sangat cantik. Aku baru kali pertama ini melihat Putri Yasmin. Beruntung laki-laki yang bisa memperistrinya."

Thorik tertawa terbahak-bahak. "Yang jelas, bukan dengan antum. Antum sudah kumal, lusuh, kulit gelap, hobi mencuri pula."

"Ah, Paman," ujar Aladdin yang tak bisa menahan diri untuk tidak tersinggung. "jangan mengejek ana. Ana sudah minta maaf juga."

Thorik mengacak-acak rambut Aladdin. Hampir saja peci itu terjatuh hingga ke tanah. Untung saja Aladdin begitu cekatan.

"Lain kali antum jangan mencuri. Cari pekerjaan yang lebih halal, Aladdin. Siapa tahu antum bisa mendapatkan uang lebih banyak dan bisa bertemu dengan tuan putri tersebut. Kabarnya, Aladdin, tuan putri itu susah ditaklukan. Dia banyak maunya. Keras hati."

Aladdin nyengir. Pandangannya beralih ke arah rombongan sultan tersebut. Sekonyong-konyong matanya  tertuju ke sesuatu. Ah, mungkin tanpa sengaja terjatuh dari kereta. Bagaimanapun sepertinya sultan memiliki jadwal yang sangat padat sampai tidak mempedulikan ada barang yang terjatuh. Aladdin secepat kilat mengambil barang yang terjatuh. Pemuda yang suka mengenakan rompi berwarna ungu itu begitu terkesima. Sebuah lampu hanyalah barang biasa. Sehari-hari benda itu yang menemani tidur Aladdin, walau hanya memakai lampu bekas.

"Kembalikan, Aladdin," saran Thorik. "Apalagi, lampu itu kepunyaan sultan. Nanti pasti cepat atau lambat sultan akan mencari lampu tersebut. Antum tak mau, kan, masuk penjara lagi?"

"Kalau harus tidur dengan tikus-tikus hilir mudik di kedua kaki ana, ana tak mau, Paman." Aladdin menggeleng.

Walaupun demikian, Aladdin malah mengantongi lampu yang berlapiskan emas murni tersebut. Entah apa yang ada di pikiran Aladdin. Mau dijual lagikah? Atau, akan dikembalikan ke baginda sultan?

"Aduh!" Aladdin mengerang kesakitan. "Sakit, Paman! Mengapa Paman memukul ana lagi?"

"Ana bilang, kembalikan. Nanti antum masuk penjara. Belum lagi almarhumah Umi antum di atas sana bisa menangis. Fahimta?"

Aladdin malah cengar-cengir dan lari bersama Abu. Thorik geleng-geleng kepala seraya mengucapkan nama ibu Aladdin. "Ya Allah, ampuni Aladdin. Dia tak sungguh jahat, hanya salah langkah. Selamatkan dan lindungi Aladdin dari yang jahat, ya Allah."

*****

"Tidak, Abi, ana tidak mau!" Untuk kali kesekian Yasmin menolak. "Jangan paksakan ana untuk menikah dengan saudagar bernama Jafar tersebut."

"Tapi, Yasmin, kurang apa Jafar?" Sultan Agrabah masih terus membujuk putri semata wayangnya tersebut. "Dia kaya, latar belakang keluarganya bagus, dan sangat berpendidikan. Apa karena usianya? Tenang saja, Yasmin, beda usia lima belas tahun, itu bukan masalah besar. Abi dan Umi anti yang sudah berpulang itu, jarak usia kami malah dua puluh tahun."

"Tapi ana tak mencintai Jafar, Abi. Juga, ana memiliki firasat tak enak dengan Jafar tersebut."

"Cinta bisa ditumbuhkan,Yasmin. Terima saja dulu lamaran Jafar. Kasihan Jafar sudah jauh-jauh dari negeri jauh untuk mengunjungi istana kita ini."

Tanpa ayah dan anak itu sadari, percakapan mereka yang sudah berlangsung selama kurang lebih lima belas menit tersebut, ada seseorang yang mencuri dengar. Jafar tampak sewot dan menggerutu. Baru kali pertama ini ia ditolak oleh seorang perempuan. Biasanya Jafar yang menolak perempuan.

*****

Malam pun tiba. Aladdin merebahkan diri di salah satu emperan kios pedagang. Ia lalu mengeluarkan lampu emas tersebut dari daku celananya.

"Apa ini benar dari emas sungguhan, Abu?"

"Nguk-nguk-nguk..." Mungkin itu berarti "Iya".

Untuk memastikan, Aladdin coba mengusap-usap permukaan lampu tersebut dengan rompi ungunya. Lampu itu sontak bergoyang-goyang. Seperti ada yang hendak keluar dari dalam lampu tersebut. Seketika Aladdin merasa akan ditarik ke dalam alam lain. Lampu itu sekonyong-konyong menjadi panas. Berasap pula. Hampir saja Aladdin menjatuhkan lampu emas tersebut. Abu sudah bersiap untuk menangkap lampu tersebut.

"Hohoho!" pekik suara yang Aladdin bingung dari mana asal suara tersebut. Sedetik kemudian, Aladdin kaget bukan kepalang. Di depannya, sudah berdiri sosok serba biru yang bertelanjang dada.

"Astaghfirullah hal adzim! Makhluk apakah anta ini?"

"Syukran ya Akhi, sudah membebaskan ana yang terkurung setelah sekian lama." ujar jin biru itu cukup menggelegar. Anehnya, kejadian itu tak terlalu menarik perhatian warga. Suara menggelegar itu juga tidak. Aladdin sungguh masuk ke realita lain.

Aladdin melongo. Jin biru itu tertawa terbahak-bahak. Jin itu lalu mendekat. Aladdin makin ketakutan. Abu berusaha mengusir pergi, namun jin biru itu malah mengangkat Abu dan meletakan kera itu ke salah satu bahunya yang tegap.

"Jangan takut, Akhi. Ana ini jin yang baik. Ana tidaklah masuk ke dalam golongan jin jahat. Hanya saja, karena ada beberapa manusia berwatak jahat, Ana malah dikurung di dalam lampu selama sekian ratus tahun. Dan, sebagai tanda terimakasih, Ana akan mengabulkan tiga permohonan anta."

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Mungkinkah ini jawaban Allah atas doa Aladdin bertahun-tahun agar bisa terbebas dari jeratan kemiskinan?




Comments