Satu Minggu Nuel Lubis Bersama Nasi Uduk
















Hari senin
Dua warung nasi uduk langgananku tengah kebanjiran pengunjung. Perutku keroncongan banget. Ya sudahlah, cari saja di tempat lain. Lagian aku juga tengah ditunggu teman. Aku harus segera cari makan dulu. Tak bagus juga bepergian dengan perut kosong. Kubelokan sepedaku menuju Perumahan Bona Sarana Indah. Yang kudengar pula, ada penjual nasi uduk, dan katanya lumayan DEP SEDEP. Sesampai di sana, ternyata isunya benar walau keliru sedikit. INI SANGAT DEP SEDEP! Mahal sedikit, karena seporsinya  Rp 12.000. Ah, tapi cukup sebanding dengan kelezatannya. Apalagi yang jualnya itu juga cukup sedap dipandangi. Hehe.

Hari selasa
Mampir dulu ke warung nasi uduk. Isi perut dulu. Dan, sembari menunggu, aku bertanya-tanya dalam hati. Aku mempertanyakan sesuatu yang sangat konyol. Aku bertanya dari manakah nasi uduk berasal. Benarkah nasi uduk ini memang asli Indonesia? Sebab, kata seorang teman, tak semua daerah di Indonesia, ada kuliner seperti ini. Eh, salahkah mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?

Hari rabu
Mumpung aku tak terlalu sibuk, dan ada waktu juga, aku ingin sekali-kali ke kampung yang berada di atas komplek. Kemungkinan besar ada penjual nasi uduk juga. Enakkah nasi uduk di daerah tersebut? Dan, ternyata aku tak salah. Tak sia-sia aku menggowes di atas jalan menanjak. Nasi uduk yang dijual di dekat SMKN 5 Tangerang ini memang sangat DEP SEDEP. Saking enaknya, sampai ada kontak ponsel segala. Wuih!

Hari kamis
Aku tahu, makan malam itu tak bagus untuk kesehatan. Katanya, bisa bikin gendut. Tapi, masalahnya adalah aku tengah mengidam nasi uduk. Aku sangat berhasrat untuk makan nasi uduk di malam hari, apalagi tengah hujan juga. Ternyata makan nasi uduk di waktu malam itu sama DEP SEDEP-nya dengan makan nasi uduk di waktu pagi. Omong-omong, si abangnya menjual semur jengkol. Aku jadi teringat kisah tujuh tahun yang lalu. Itu saat aku makan semur jengkol kali pertama. Jangan tanyakan aku rasanya seperti apa, yah. Huek!

Hari jumat
Astaga, telur bulat lagi. Aku memang menyukai telur bulat yang disambal seperti ini. Tapi, lama kelamaan aku bisa bosan juga kalau memakannya sampai lima hari berturut-turut. Tadi aku sudah menghampiri lima tempat sekaligus, namun tak kutemukan yang menyediakan telur dadar. Ya sudahlah, mungkin lain kali. Masih ada waktu juga. Ayo, optimis!

Hari sabtu
Ini nasi uduk yang sangat berkesan. Karena ini kali pertama aku makan nasi uduk di tempat. Lalu, piring yang digunakannya juga cukup unik dan antik. Haha. Lucu banget. Ada corak bunga begitu. Kan, aku jadi tambah bersemangat menghabiskan nasi uduknya. Haha.

Hari minggu
Wah, tumben ada penjual kue seperti ini, yang barang dagangannya ditaruh di atas kepala. Biasanya yang kutemukan itu penjual yang menjajakan dagangannya dengan sepeda atau motor. Sudah lama sekali tak menemukan yang seperti ini. Terakhir itu saat aku masih kuliah dan Mami masih ada. Oh iya, yeay, nasi uduknya menyediakan telur dadar yang disawir. Terimakasih, Tuhan, Engkau sudah mendengarkan doaku yang sepele ini!





Comments