ANOTHER FICTION: Mikha versus Becky (1)








Genre: Romance















[MIKHA]
Aduh, kenapa aku harus mendapatkan tuntutan seperti ini, sih? Menyebalkan. Aku masih begitu muda. Belum lulus kuliah. Tapi aku harus dihadapkan ke persoalan pernikahan. Mamanya Abi menyebalkan juga--walau ibu kandung sendiri juga tak kalah menyebalkan.

Aku jenuh. Kuputuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah. Kuabaikan saja kata-kata Mama yang terus bertanya kapan menikah. Aduh, Ma, aku belum terlalu mau memikirkannya. Aku masih kuliah, dan pernikahan bukan suatu prioritas untuk aku. Prioritasku: lulus kuliah, lalu ikut ujian advokat. Begitulah, Mama-ku tersayang, kalau Mama mau tahu alasanku tak mau menikah terburu-buru. Aku juga merasa belum begitu mengenal Abi.

Sekarang ini aku tengah berada di sebuah tempat yang sangat berhubungan dengan seni. Saung Mas Joko namanya. Mas Joko itu salah satu teman Papa semasa kuliah dulu. Papa mengenalnya karena keterlibatannya di kegiatan kampus bernama Karawitan Jawi. Kata Papa, jiwa seni Mas Joko sangat bagus. Mas Joko bisa main gamelan, berpuisi, menulis prosa, menyanyikan lagu-lagu campur sari, dan melukis. Aku sendiri sangat menyukai tiap lukisan Mas Joko, yang menurutku itu sangat hidup.

"Eh, Mikha," ujar Mas Joko. Aku menyapanya dengan kata sapaan 'mas' karena pengaruh Papa. Papa sering memanggilnya Mas Joko. Aku tertular sepertinya. "Tumben mampir. Gimana kabar Papa kamu? Sehat?"

"Sehat, Mas Joko." Aku tersenyum.

"Kamu sendiri gimana? Mas dengar, katanya pacarmu meninggal. Mas Joko turut prihatin. Fael itu anak yang baik, walau serampangan begitu."

"Aku baik. Tapi sekarang aku udah ada gandengan baru, Mas." jawabku agak tersipu malu.

Mas Joko menepuk pundakku. "Wah, hebat kamu sekarang, Kha. Padahal Mas pikir kamu nggak bakal punya pacar. Dulu, Mas Joko pikir perempuan segalak kamu itu susah dapetin pacar."

"Ah, Mas Joko jangan ngeledekin aku mulu, Mas. Itu kan dulu. Aku masih kecil, Mas. Masih piyik-piyik, Mas. Buktinya sekarang Mikha bisa punya pacar, kan, Mas."

Mas Joko terbahak. "Iya, iya, Mas Joko minta maaf. Mas cuma bercanda. Terus, Mikha, ada apa kemari? Ada angin apa?"

"Pengin main aja. Bete di rumah." kataku dengan menekuk bibir. Rahangku menegang. Aku teringat kata-kata Mama di rumah. "Jengah gitu, maksud Mikha."

"Oh, Mas tahu. Kan Mikha udah punya pacar. Udah gede juga. Didesek mamanya nikah, yah?!"

Aku mengangguk.

"Ya udah, masuk dulu, yuk." kata Mas Joko tersenyum. "Siapa tahu kesalnya Mikha bisa reda kalau lihat lukisan di dalam." Aku lalu mengikuti Mas Joko ke dalam bangunan kecil, namun ternyata sangat luas dan nyaman di dalamnya. Banyak orang di dalamnya. Aku menyebutnya sastrawan-sastrawati berbakat. Mereka memang murid binaan Mas Joko. Mas Joko sangat pandai dalam mengajar.

"Om," Seorang perempuan menghampiri aku dan Mas Joko. Suaranya sangat familier. "Ini lukisanku udah bagus, nggak?"

"Becky?" Aku terperanjat. "Lu di sini juga? Kenal Mas Joko juga?"

Becky menatapku sekilas. Tampak dia masih mendendam padaku. Padahal, sudah kukatakan beribu kali aku tak merebut Abi darinya. Itu di luar kemauan aku, jika hati Abi berpindah ke aku. Lagian, salah dia sendiri yang tak bisa menjaga kelakuan. Di FODIM, aku tahu tabiat Becky seperti apa. Tak heran sebetulnya Abi bisa semarah itu. Dia agak bossy, menurutku. Belum lagi, sifat jeleknya yang sulit berkaca. Dia menuduhku menusuk dari belakang, padahal..... ya Tuhan, satu FODIM sudah tahu bagaimana pintarnya dia menjilat.

"Emang lu pikir cuma lu doang yang suka seni?" desis Becky yang terdengar Mas Joko juga. Mas Joko sepertinya tak suka dengan nada bicara Becky. Mas Joko pun berdeham.

"Ya, maaf, Ky,"

"Kalian sudah saling kenal?" tanya Mas Joko yang menatap aku dan Becky.

Becky belum menjawab. Aku yang malah menjawab lebih dulu. "Dia teman sekampus aku dulu. Satu organisasi kampus, Mas. Nggak heran, sih, dia suka main ke sini juga. Di FODIM, Becky jago banget bikin puisi. Suaranya juga bagus. Nyanyi, Ky, coba. Biar didengar sama Mas Joko."

Becky tersenyum datar. "Saya lagi serak, Om."

"Kamu ada masalah sama Mikha?" selidik Mas Joko. Aku harap Becky bercerita panjang lebar mengenai Abi. "Om, lihat kamu sedikit sentimen sama Mikha."

Becky menggeleng. "Cuma lagi sakit tenggorokan aja,  Om. Orang kalau lagi sakit tenggorokan, emang suka gitu. Bawaannya sensian mulu." Tak ada angin, tak ada badai, Becky tertawa. Mas Joko ikut tertawa pula. Aku juga memaksakan diri untuk tertawa. Makasih, Ky, karena nggak ngomong, batinku.

"Ya sudah, tapi jangan kayak gitulah. Orang bisa mengira kamu lagi bertengkar sama Mikha." Nada Mas Joko seperti tengah memberikan teguran. Itu mirip seperti seorang guru yang menegur muridnya yang tak mengerjakan pekerjaan rumah. "Oh iya, lukisan kamu sudah lumayan bagus. Cuma, kata Om sih, kamu terlalu banyak menggunakan warna. Kurang sedap dipandang."

"Tapi, menurutku, udah bagus, kok." pujiku dengan maksud berusaha mengambil hati Becky. Anggap saja ini sebagai permohonan maafku ke Becky.

"Makasih." jawab Becky singkat. Kelihatannya amarah Becky jauh lebih besar daripada dugaanku.

"Mikha sendiri mau apa kemari?" tanya Mas Joko.

"Cuma mau ngeliat-liat aja." ujarku sembari melhat ke seisi ruangan. Dari ruangan ini, kelihatannya Mas Joko makin terkenal saja. Lukisan-lukisan yang dipajang juga makin banyak. Walau kutahu, mungkin tak hanya lukisan Mas Joko saja yang dipajang. Pasti ada lukisan yang lainnya, yang dilukis orang lain.

"Oh, Mas kira Mikha mau belajar melukis kayak Becky. Dulu kan Mikha pernah Mas ajari melukis juga. Masih ingat kan?"

Aku mengangguk. Iya, dulu aku pernah sempat belajar melukis. Tapi, belajar melukis ala anak-anak. Jangan samakan lukisan anak-anak dengan lukisan orang dewasa. Itu beda jauh. Lagipula, itu terjadi lama sekali. Entah masih kusimpan atau tidak, lukisan-lukisan hasil belajarku dengan Mas Joko.












[BECKY]
Mau apa perempuan pelacur ini kemari? Aku kira perempuan tukang tikung itu tidak bakal pernah tempat ini. Kalau aku sih, Om Jack ini salah satu saudara jauh Papa. Dia juga salah satu seniman yang dimodali Papa. Ada lumayan banyak seniman yang mendapatkan sokongan dana dari Papa. Begitulah sedikit asal usul aku mengenal Om Jack.

"Becky? Lu di sini juga? Kenal Mas Joko juga?" Nama asli Om Jack itu Kristoforus Joko Prayitno. Dia pelukis yang cukup kondang--yang sudah lama dikenal dengan nama pena Mas Joko. Aku penasaran kenapa si tukang tikung ini kenal Om Joko ini dari mana. Aku kira tukang tikung tidak punya hobi lain selain menyerobot pacar orang.

"Emang lu pikir lu doang yang suka seni?" Semenjak SD, aku memang sudah suka kesenian. Guru-guru SD sering memuji keindahan suaraku. Aku bahkan pernah disarankan untuk masuk dapur rekaman, namun kutolak. Alasanku:  aku lebih memprioritaskan pendidikan, selain aku merasa lebih nyaman bernyanyi untuk kelompok yang lebih kecil. Tapi, seingatku, aku pernah masuk studio rekaman saat SMP. Aku pernah terlibat dalam sebuah band remaja yang beberapa kali tampil off air di beberapa panggung.

"Ya, maaf, Ky." kata si tukang tikung yang terlihat tulus. Namun, aku masih jengah dengan ulahnya tersebut. Kenapa setega itu menikung? Aku kira persahabatanku dengan dia itu bakal seindah kupu-kupu yang beterbangan di taman berbunga.

Mikha, kataku dalam hati. Kalau kamu mau kumaafkan, mau tidak kamu meninggalkan Abi? Apa kamu tidak tahu betapa berartinya Abi untuk aku?  Betapa aku masih ingat bagaimana dia menyatakan cinta padaku saat SMA. Aku terkesan dengan cara seorang laki-laki pemalu yang membela-belakan diri datang padaku di ruang musik hanya untuk menyatakan surat berisi puisi kepadaku. Sampai sekarang, Mikha, puisi itu masih kusimpan.

"Kalian sudah saling kenal?" tanya Om Joko.

Mau kujawab, si tukang tikung ini teman kuliah, eh dia sudah mencerocos duluan. Apa pembawaan seorang tukang tikung begitu?

"Kamu ada masalah sama Mikha? Om lihat kamu sedikit sentimen sama Mikha?"

Pertanyaan Om itu salah alamat. Jangan tanyakan padaku. Tanyakan pertanyaan itu ke Mikha, Om.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.


Comments