ANOTHER FICTION: Melting Pot itu Bernama Jak-Japan Matsuri







Genre: Romance







Saat Mikha (dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh"), Sakura Lontoh (dari "Amoreureka"), Ruth Melisa (dari "Cualacino"), Grace Nasution (dari "Ai Shin'Yu"), dan Naomi Kawaguchi (dari "Kamisama no Cempe Kanefe") berada dalam satu lokasi.















 [MIKHA]

Jakarta, September 2014

Jadi, ini yang namanya Jak-Japan Matsuri? Saat aku kuliah dulu, aku sering dengar acara yang satu ini. Bagus juga acaranya. Terlihat acara ini dipersiapkan dengan baik sekali. Mulai dari penataan tiap booth, biaya masuk, hingga setiap pihak yang terlibat. Bagaikan sudah diatur, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling aku, banyak juga warga ekspatriat dari Jepang. Untung saja, aku fasih juga berbahasa Jepang. Seorang perempuan bernama Naomi Kawaguchi barusan bertanya padaku dalam bahasa Jepang, apakah ini kunjungan pertama aku. Kujawab, "Hajimete ikitte." Aku dan Naomi terlibat obrolan singkat, yang aku baru tahu, Naomi ini ternyata seorang pengacara, satu impianku terdahulu yang harus pupus demi Popo Aming, namun sama sekali tak kusesali. Naomi juga bercerita padaku bahwa dirinya akan menikah. Kalau tak salah, nama calon suami Naomi itu Obed Rajagukguk.

Mengingat kejadian barusan, aku sekonyong-konyong tertawa. Rafael yang kugendong ini pun ikut tertawa. Pasti Rafael bisa merasakan sukacita dari mamanya. Aku menjawir pipi anakku yang berusia dua tahun. Oh iya, Papa kamu ke mana? Katanya hanya sebentar, ini sudah hampir dua jam, kataku dalam hati sambil melihat jam di ponsel cerdasku. 

Aku lalu kembali terus mengedarkan pandangan ke berbagai arah.  Aku bisa mengunjungi Jak-Japan Matsuri ini karena peranan Hidetoshi Aosato, teman Abi selama di Australia. Perusahaan di mana Hide bekerja tersebut ikut ambil bagian dalam acara yang katanya simbol hubungan Indonesia dan Jepang ini. Karena itulah, Abi bisa mendapatkan tiket gratis. Acara ini dimanfaatkan anak-anak The Change untuk mengadakan reuni. Ah, paling dia tengah bercengkerama bersama teman-temannya tersebut.

Mataku melihat kembali brosur yang kuterima dari seorang perempuan yang mengenakan kostum pelayan. Tertulis dalam brosur tersebut, beberapa nama pengisi acaranya. Ada nama JKT48. Sontak aku teringat kejadian saat itu di Bekasi Square. Kalau aku tak salah ingat, lagu "Heavy Rotation" itu dinyanyikan oleh JKT48, yah. Aku baru mengetahuinya beberapa minggu setelah aku sibuk mencari tahu mengenai lagu "Heavy Rotation" yang liriknya itu amat menyentuhku (Itu mengingatkanku dengan Fael). Siapa saja yang berada dalam girlband tersebut, aku tidak tahu secara pasti. Yang terakhir kulihat saat itu, ada dua puluh delapan orang, yang kebanyakan masih bersekolah. Yang ini pun, aku punya firasat, masih tetap sama sepertinya. Mereka masih didominasi oleh remaja perempuan yang sangat energetik dalam menari dan menyanyi.

Pandanganku sekonyong-konyong teralih dan terhenti di salah seorang perempuan berambut pendek. Aneh perempuan itu. Kenapa perempuan itu menangis? Acara seperti ini seharusnya membuat dia tersenyum lebar. Tapi, perempuan itu lumayan cantik. Dia lebih tinggi dari aku; juga berkulit putih dan terawat. Tampaknya perempuan itu sangat memperhatikan gayanya berbusana. Dia mengenakan kaus putih yang bertuliskan 'TOKYO' yang berukuran besar. Ada simbol hati juga di kaus tersebut. Kaus yang cantik, begitu pula dengan kardigan merah muda yang melapisinya. Bawahannya, dia mengenakan legging coklat muda. Dandanan masa kini yang sangat enak dipandang. 

Ku coba beringsut lebih dekat. Aku hanya penasaran kenapa dia menangis. Begitu kusapa, dia merespon. 

"Kamu kenapa?"

"Gak apa-apa, Kak,--" Apakah aku terlihat semuda itu? Aku senang sekali masih dipanggil Kakak. "--cuma masalah biasa. Sepele, kok."

"Oh, iya, namanya siapa? Nama Kakak Mikha." Aku mengajaknya berjabat tangan. Dia membalas ajakanku tersebut.

"Saya Sakura, Kak." Dia mulai tersenyum. Sepertinya tak sia-sia aku mengajak Rafael ke acara ini. Kamu sungguh penyelamat, Sayang. "Ini anak Kakak, yah?"

"Iya, namanya Rafael. Usianya dua tahun."

"Lucu banget, Kak. Imut gini." kata perempuan yang mengaku bernama Sakura sambil sibuk bermain-main sedikit dengan Rafael.















[RUTH MELISA]
Entah apa yang membuatku tersenyum. Apa karena acara Jak-Japan Matsuri ini? Atau karena ada Felix, salah satu kru dari Pierrot yang datang ke Indonesia demi kepentingan pembuatan animasi Nono tersebut? Sedari tadi, aku terus menerus memperhatikan Felix. Jantungku masih berdebar-debar pula. 

Aku dan teman-teman dari majalah Nono diajak oleh teman-teman Pierrot. Kebetulan Pierrot memang memiliki agenda dalam Jak-Japan Matsuri kali ini. Mereka sengaja membuka stan untuk makin memperkenalkan produk-produk Pierrot. Satu-satunya produk yang kutahu itu adalah Bleach. Komik yang bercerita mengenai shinigami itu kubaca karena dia--laki-laki yang membuatku menyimpan mawar itu bertahun-tahun. Dia adalah Steven.

Sekonyong-konyong aku  bergidik sendiri. Jantungku berdebar-debar. Dari kejauhan yang akan mendekat juga, muncul seorang laki-laki yang mengingatkanku dengan Steven. Laki-laki ini tinggi dan kurus--yang seperti seorang pengguna obat-obatan terlarang. Dari dandanannya, laki-laki ini anak band. Dan, dia tengah bersama seorang yang kukenal. Dia yang bernama depan sama denganku. Siapa lagi kalau bukan, Ruth Yuriana, yang menurutku, seorang gadis yang cukup lugu. Aku sering beranggapan Ruth Yuriana belum tahu apa-apa mengenai hidup.

Ruth lalu melambai-lambai ke arahku. Aku ijin pamit dari rekan-rekan untuk menghampiri perempuan yang katanya mahasiswi Komunikasi di salah satu universitas swasta di Jakarta. Bingungnya aku, kenapa Felix mengikutiku. Pemuda blasteran Menado-Jepang ini berdalih ingin menemaniku karena khawatir, selain karena ingin mengenalku lebih jauh lagi. Aku jadi tersipu malu, yang makin memerah karena siulan dari rekan-rekanku.

"Kak Ruth," sapa Ruth Yuriana tersenyum. 

"Kamu ngapain di sini, Ruth?" tanyaku yang balas tersenyum juga. Aku kadang suka iri dengan Ruth yang satu ini. Menurutku, dia amat mudah sekali menciptakan sebuah senyuman.

"Aku lagi kopdar di sini. Tapi yang baru kutemui cuma Joe ini. Oh iya, Joe, kenalin, ini Kak Ruth,--" Ruth melirik sekilas laki-laki jangkis tersebut. Apakah Joe ini pacarnya? Tapi sebelumnya, menurut pengakuan Noel, Ruth masih lajang, belum punya pacar. 

Aku berjabat tangan dengan Joe, yang menurut Ruth, Joe berkuliah yang tak jauh dari Gelora Bung Karno ini. Felix ikut berjabat tangan dengan Joe.

"Oh iya, Kak, ini pacar Kakak?" tanya Ruth Yuriana yang sepertinya senang sekali jika kuberitahukan bahwa Felix itu pacarku. Kenyataannya, dia hanya rekan kerja yang sudah mengembalikan senyumanku. Aku harap secepatnya Felix menyatakan cinta padaku. Aku merasa Felix juga memiliki perasaan sama denganku.

"Bukan, kok--" Aku setengah panik. Sekonyong-konyong Felix ikut menyumbang suara. "--kami hanya teman, yah, Ruth. Rekan kerja."

Ruth Yuriana terkekeh-kekeh. Perempuan polos ini beringsut lebih dekat kepadaku dan berbisik, "Kak Ruth naksir dia, kan?"

Aku tersipu malu lagi. Saat aku mau membalas, Joe setengah berteriak. Yang kulihat, ternyata Joe menyapa seorang perempuan berambut pendek dengan wajah yang sedikit maskulin, namun masih terlihat aura keperempuannya. 

"Eh, Grace, ngapain lu di sini?" ujar Joe yang terdengar agak ketus di telingaku. Mungkin ada dendam pribadi antara Joe dan perempun yang bernama Grace ini.

Si Grace lebih mendekat lagi, dan berkata, "Lagi main aja ke sini. Kan lu tahu, gue paling suka datang ke acara-acara kayak gini. Lu sendiri ngapain? Terus, ini siapa lagi? Gebetan atau pacar, nih? Be-te-we, lu udah akur sama Elia, belum?"

Tuh, kan, mereka tengah ada masalah. Dugaanku tepat. Semoga saja tidak ada keributan di Jak-Japan Matsuri. Aku paling tidak suka dengan pertengkaran.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.

Comments