ANOTHER FICTION: Dimulai dari Sebuah Mimpi, Awal Hubungan Rafael dan Mikha









Genre: Romance













[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Rafael merokok lagi. Aku heran apa bagusnya merokok itu. Selama aku terpekur ke arahnya, dia akhirnya sadar juga. Dia menatapku. Nyengir seperti biasanya. Rafael lalu mengajakku duduk. Aku terpaksa duduk. Jujur, aku kurang tahan dengan asap rokok. Asap dari rokok Rafael itu mengebul ke mana-mana. Aku terbatuk-batuk sedikit, yang agak-agak kutahan.

"El, apa enaknya sih ngerokok?" tanyaku retoris, menutup hidung. 

Rafael menyorongkan sekotak rokok. "Ambil satu, Bi. Rasain sendirilah. Mumpung nggak ada penjaga lu." 

Rafael tertawa. Penjaga di sini maksudnya Mama. Mama, Timo, dan Mbok Yuni tengah ke pasar seperti pagi-pagi yang biasanya. Ini dalam masa liburan sekolah. Timo sangat bersyukur bisa naik ke kelas tiga. 

"Kapan lu mulai berangkat ke Aussie?" tanya Rafael. Rokok dimatikannya. Dia tidak merokok lagi. Itu sebuah pertanda bahwa Rafael ingin memulai sebuah obrolan serius denganku. 

"Du-dua-tiga minggu lagi kayaknya." 

"Kok kayaknya?" Rafael terkekeh. "Lu dari dulu nggak pernah berubah. Yang pasti, dong. Tegas gitu. Udah punya pacar juga."

"Ko-korelasinya di-di mana?" Aku mengernyitkan dahi saking bingungnya. 

"Yah, ada-lah. Kalau udah punya pacar, ada yang nyemangatin, ada yang support. Harusnya keberadaan seorang pacar dalam hidup lu, bisa bikin lu jadi orang yang tegas, yang nggak mencla-mencle lagi."

Aduh, kata-kata terakhir itu sangat menusuk kalbu. Aku bagaikan ditampar di kedua pipi. Rafael memang jago membunuh lewat kata-kata. 

"Terus, lu kan bakal pergi ke Aussie, nih. Bakal LDR, dong. Udah siap? Apa lu udah nanyain Becky juga? Dia siap, nggak?"

Aku tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Sudah sejak awal Juni, aku gagal melulu menyampaikan uneg-uneg ke Becky. Aku takut Becky selingkuh dari aku selama aku di Melbourne. Sering kudengar di artikel-artikel remaja, kecil kemungkinan pasangan bisa bertahan selama hubungan jarak jauh. 

Tawa Rafael makin keras. "Gue udah duga. Lu nggak usah omongin ke gue. Gue udah tau jawabannya, kok. Bi, lu mau tahu sesuatu, nggak?"

"A-apa?"

"Lu beneren cinta sama Becky?"

Aku hanya mengangguk. 

"Gue suka ngerasa, lu itu nggak cocok sama Becky?"

"Ka-karena dia yang ka-kayak model gitu? Ma-makanya lu bilang Becky kurang cocok buat gue yang nerd?"

"Itu salah satunya. Tapi, bukan itu alasan utama gue. Nggak enak juga nyampeinnya. Tapi, seberapa dekat lu sama Becky? Seberapa kenal lu sama dia, Bi?"

"En-entahlah." Aku menggeleng. Aku sama sekali tak tersinggung. Itu bukan karena dia saudara kembarku. Tapi aku merasakan bahwa ada yang tak beres dengan Becky. Sejak ujian nasional di bulan Mei, Becky sudah tahu aku bakal melanjutkan kuliah ke Melbourne. Aku berharap ada sedikit perhatian berlebih dari Becky. Itu seperti bertanya kapan berangkat, bagaimana persiapanku, bagaimana kita berhubungan setelah aku berangkat ke Melbourne, dan sekelumit pertanyaan rumit lainnya. Namun, Becky tidak terlalu banyak bertanya. 

"Ju-jur, El, gu-gue takut diduain Becky selama gue di Aussie. Apa gue batalin aja ke sana?"

Rafael terkekeh. "Wah, jangan gila lu, ah. Papa udah keluar duit banyak banget. Mending jalanin dulu aja. Kalo misalnya ketakutan lu terbukti,--" Rafael mengangkat kedua tangan. "--mungkin lu nggak jodoh sama Becky. Jujur juga, Bi, gue kurang sreg sama hubungan lu dan Becky itu. Eh, tapi bukan karena gue naksir sama Becky, yah. Gue nggak ada rasa ke Becky juga."

Aku menelan air liur. Ini bagaikan sebuah perjudian. Aku tidak begitu suka dengan segala sesuatu yang sifatnya spekulatif. Tapi, daripada aku diomeli Papa, lebih baik aku ambil jalan berjudi. Mungkin aku bakal diduakan, mungkin juga itu murni ketakutanku saja. 

"Oh iya, El," Aku coba mengalihkan topik. "Se-selamat, yah, udah keterima di Atmajaya. Walau lu sempat tinggal kelas sampe harus diungsikan ke sekolah lain, bisa juga lu keterima di kampus elit macam Atmajaya."

Rafael terbahak. Dia bangkit berdiri. Dipukulnya bahuku  "Bisa juga lu, Bi, bercanda. Tapi, makasih, Bi."

"L-l-lu mau ke mana? Mau nge-game lagi?"

Rafael mengangguk. "Lu mau ikut? Ayo, bareng gue main di warnet. Cupu lu, ah. Main di komputer rumah mulu."

Boleh juga tawaran Rafael. Selama ini, aku ingin sekali merasakan main di warnet. Aku biasa main Counter Strike atau Gunbound di komputer pribadi aku--yang sesekali harus bergiliran pakai dengan Rafael. Aku sekonyong-konyong berdiri. Kuikuti Rafael. Rafael memboncengi aku dengan motor Satria-nya.













[RAFAEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Hari ini hari keberangkatan Gabriel ke Australia. Besok senin, aku sudah mulai masuk kuliah. Tapi, aku belum mengikuti perkuliahannya. Hari senin itu, itu baru ospek saja. Tiga hari untuk ospek kampus. Empat hari untuk ospek fakultas. Minggu depan yang cukup padat. Itulah kenapa aku sempat enggan ikut ke bandara. Aku mau menghabiskan sisa-sisa liburan sebelum peperangan selanjutnya dari keesokan seninnya sampai hari sabtu.

Aku bangun dengan cukup tergopoh-gopoh. Kukucek kedua mata. Dengan gontai aku berjalan ke arah lemari baju. Aku mengambil satu celana jins gembel, kaus oblong yang bertuliskan 'Am I Cool? I Don't Think So', dan sepasang pakaian dalam. Berbeda dengan Gabriel, aku amat nyaman mengenakan boxer. Gabriel memang tipe konservatif. Dia kurang gaul, menurutku.

Suasana pagi mulai agak ramai. Teriakan-teriakan Mama terdengar hingga telingaku. Beberapa kali aku mendengar Mama memarahi Mbok Yuni. Ya ampun, Ma, biasa saja. Gabriel hanya pindah ke Australia. Dia sudah berjanji bakal pulang winter break nanti. Lagipula Mama masih tetap berkomunikasi dengannya. Selain Gabriel yang sudah berjanji akan sering menelepon, ada internet juga. Meskipun aku ragu Mama bakal sering buka internet demi Gabriel. Mama sedikit gaptek yang kuamati. Aku jadi tertawa sendiri dengan analisa aku.

"Baru bangun, Bang?" tanya Timo yang sudah rapi. Timo mengenakan kaus hijau bergambar patung Merlion. Untuk bawahannya, Timo mengenakan celana jins biru muda.

Aku mengangguk. "Di dalam, Bang Abi lagi mandi, Mo?"

"Iya, Bang." jawab Timo nyengir. "Akhirnya lu mau ikut juga, Bang. Kan, abis ini teman berantem lu udah gak bakal di rumah lagi. Rumah jadi damai, deh."

"Apaan sih, lu, Mo? Nggak jelas banget." Aku tertawa.

Papa yang terus menerus mendesakku untuk ikut serta. Bahkan, dia sempat mengancam akan mengurangi uang sakuku. Rencana beliau untuk membelikanku mobil sebagai alat transportasiku ke kampus bisa dibatalkan. Wah, itu sangat berbahaya. Walau, sebetulnya aku jadi mau karena dorongan hati nuraniku. Rasanya tak etis jika aku tak ikut melepas kepergian seorang Gabriel Kustandi Hutagalung.

Oh iya, omong-omong, apa arti mimpi tadi? Siapa gadis berwajah Oriental itu? Kenapa bisa aku memimpikan gadis tersebut? Bertemu saja belum pernah, apalagi mengenalnya. Aku terkekeh sendirian. Dan, Timo jadi menjahiliku.  

Kembali ke gadis tersebut, dia gadis yang lumayan cantik. Aku suka wajah ketimurannya. Gadis itu tak terlalu tinggi, namun cukup cantik untuk aku. Tutur katanya sangat lumayan bagus. Dia juga memiliki kepribadian yang amat menarik hati. Kalau tak salah, dia bilang namanya itu Mikha. Atau, Maria, yah? Mungkin bisa juga Marina atau Martina. Pokoknya, inisial namanya itu M.














[MIKHA]
"Mikha, Mikha," Terasa sekali seperti ada yang menggoncang-goncangkan badanku. Kubuka sedikit mata. Ternyata Mama. 

"Apa sih, Ma? Aku masih ngantuk." Aku mengucek-ucek kedua mataku.

"Bangun, dong, Sayang. Hari ini kan hari pertama kamu jadi mahasiswa. Katanya, kamu minta dibangunin jam empat pagi. Oh iya, bekal buat ospek udah Mama siapin juga. Ayo, sekarang mandi. Nanti kamu telat."

Aku menatap jam dinding bergambar Mini Tikus yang berada di kamar. Jam dinding ini sangat istimewa. Sebab, ini kado terakhir dari Popo Aming sebelum dia meninggal dunia. Kulihat jam itu sembari membatin, Po, hari ini Mikha mau berangkat kuliah. Sayang Popo udah nggak ada. Padahal, bukannya Popo pengin banget lihat Mikha jadi mahasiswi.

"Ayo, Mikha, langsung mandi," pinta Mama. "Papa kamu juga udah rapi. Tuh, kamu dengar bunyi mesin mobilnya. Berisik banget subuh-subuh."

"Iya, Ma." 

Memang tak salah Mama membangunkanku. Pertama, aku yang minta dibangunkan. Kedua, jam sudah menunjukan pukul empat enam. Aku langsung tergesa-gesa  mengambil pakaian yang sudah kusiapkan malamnya. Tampaknya aku cukup terbuai dengan mimpiku. Aku bermimpi, di Atmajaya nanti, kelihatannya ada seorang laki-laki yang akan menyatakan cinta padaku. Itu mimpi yang sangat menyenangkan sekali. Akhirnya aku bisa melepaskan status lajangku.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.


Comments