ANOTHER FICTION: Déjà vu untuk Mikha (2)








Genre: Romance















[MIKHA]
Sekonyong-konyong Diana beringsut ke arahku. Pak Tjandra belum kunjung datang. Ia berbisik padaku, "Mikha, gue mau nanya sama lu, boleh nggak?"

"Tanya apa, Di?" tanyaku cengar-cengir.

"Lu kan sama Abi udah lumayan lama. Tentunya udah  saling kenal, dong. Menurut lu, Abi itu gimana orangnya?"

Aku bingung menjawabnya. Memang benar aku  dan Abi sudah lama saling mengenal. Tapi, jujur saja, menurutku, Abi itu misterius. Dia lebih misterius daripada kakak kembarnya, Rafael. Kadang Abi suka aneh juga, menurutku. Walaupun demikian, aku tetap mencintai Abi di tengah kekurangsempurnaan aku dalam mengenal Abi. 

Aku menggeleng. "Gue nggak tahu, Di. Gue bingung jawabnya gimana juga. Jujur aja nih, gue nggak gitu kenal dia."

Diana sepertinya terperanjat mendengar jawabanku. "Ya Tuhan, serius lu? Gue kira lu udah tahu banyak. Tapi, emang apa sih yang bikin lu se-kesengsem itu sama Abi, Kha?"

"Apa, yah?" Aku memutar kepala, memainkan pulpen Faster ini. "Mungkin karena kemisteriusan Abi kali, yah. Makin dia misterius, makin gue pengin kenal dia lebih lanjut."

Diana terkekeh. "Kayak lagi baca teenlit gue, Kha,"

"Yeee....."

















[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Temanku, Michael, yang sesama angkatan 2008, mendekatiku. Kuduga, Michael ingin menyalin tugas Hukum Adat dari Ibu Zulfa. Aku sudah bersiap memberikan tugas kuliahku kepada Michael yang berambut ikal. 

"Apa sih, Bi?" ucap Michael. "Yang mau nyontek siapa? Gue cuma mau nanya sesuatu sama lu."

"Gue kira, Kel," Aku nyengir. "Emang mau tanya apa?"

"Soal cewek lu. Emang lu sama dia, udah pacaran berapa lama?"

"Gue nggak pernah ngitungin. Mungkin setahunan lebih, Kel."

"Hah?" Michael langsung berdiri. "Bi, jangan bercanda. Gue serius nanya."

"Sama, gue serius juga. Emang kenapa lu nanya gitu?"

"Yah, soalnya lu kayaknya mesra banget sama Mikha. Kayak udah pacaran lebih dari sepuluh tahun. Makanya, gue pikir lu kenal dekat banget sama Mikha."

"Oh, gitu," Aku tertawa, namun tak terlalu keras agar tak menarik perhatian seisi kelas. 

"Terus, menurut lu, Mikha itu kayak gimana? Apa, sih, yang bikin lu suka sama Mikha--ampe ke mana-mana berdua mulu?" Michael nyengir balik. 

"Apa, yah?" Aku memutar memutar kedua bola mata. "Dia itu lucu, rada bawel, terus pintar juga. Tapi, buat gue pribadi, ada sesuatu yang gue suka dari dalam diri Mikha. Sesuatu itulah yang membuat gue jadi memahami apa itu sesungguhnya soulmate. Nggak cuma itu, Mikha juga membuat gue makin mempercayai  inner beauty itu nyata."

Michael sama sekali tak tertawa. Aku kira dia bakal mengejekku. Dia malah mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh, gitu, Bi."

















[MIKHA]
Aku kangen kamu, El. Mendadak aku teringat kamu, El. Salahkah aku jika diriku masih teringat dengan mantan kekasih, apalagi si mantan itu sudah meninggal?

Kejadian tadi siang yang membuatku teringat Rafael. Persis di depan markas Mahupala, aku melihat  beberapa anak Mahupala. Kebanyakan mereka anak baru. Hanya dua-tiga orang yang kukenal. Ambil contoh, Douglas dan Marco. Kata Radit, mereka mau bersiap-siap ke Gunung Gede untuk pembinaan anggota baru Mahupala. Lalu, satu orang dari mereka itu.....

.....El, aku kangen kamu. Orang itu, mahasiswa baru itu, laki-laki itu sungguh mengingatkanku dengan kamu. Ransel yang dipakainya pun sama. Sama-sama berwarna hijau army. Ada guratan tulisan Mandarin yang berarti 'tetap semangat'. Di depan ransel, banyak kantung. Kurang lebih, ransel yang sering digunakan Rafael itu sama seperti yang digunakan laki-laki tersebut. Yang mengagetkanku, nama si mahasiswa baru tersebut. Dia mengaku bernama Rafael. Nama lengkapnya Rafael Moses.

Kejadian tadi siang itu maksudnya apa? Kenapa aku harus bertemu dengan orang yang bernama sama--yang mengenakan ransel hampir mirip? Saat itu pula, Rafael, mantanku, tengah bersiap hiking ke Gunung Gede juga. Sama-sama untuk pembinaan. Di tahun itu kan, aku dan Rafael sama-sama mahasiswa baru.

Déjà vu lagi. Apa maksud dari segala déjà vu ini? Semenjak Rafael meninggal, kenapa aku terus menerus diserang oleh satu kata dalam bahasa Perancis tersebut? Tuhan, aku sudah jenuh Engkau ingatkan melulu diriku dengan Rafael. Rafael sudah lama meninggal. Aku sudah bersama Gabriel, yang menurutku, lebih baik dari Rafael (apalagi yang bersangkutan itu memang adik kembar Rafael). Aku juga tak terlalu ingin terikat dengan masa lalu. Lagipula, menurutku pula, orang mati punya ceritanya sendiri; punya hidupnya sendiri. Aku tidak ingin lagi hidup aku terus menerus bersinggungan dengan dunia orang mati.

Rafael, maafkan aku jika berpikiran seperti itu. Aku hanya ingin menjadi Mikha yang seutuhnya. Aku suka tertawa sendiri setiap mengingat kejadian di foodcourt Supermall Karawaci itu. Diana sampai berseloroh, aku sudah kembali. Karena itulah, kadang aku suka bertanya, memangnya aku seperti apa sebelum bertemu Abi. Begitulah, Rafael. Maafkan aku, yah, Sayang.

Aku masih membuka dompet biru muda ini. Dompet ini pemberian dari Rafael untuk ulang tahunku. Di salah satu kantung dompet, ada foto Rafael. Aku iseng memotret Rafael diam-diam yang tengah asyik bermain ding dong di Plaza Semanggi. Ini foto terbaik Rafael di tahun itu. Makanya aku cetak foto ini. Di foto ini, Rafael terlihat keren sekaligus lucu. Serius sekali Rafael dengan motor mainan itu, seolah-olah itu motor Ducati betulan saja. Aku terbahak.

















[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Aku menatap foto Rafael yang terpajang di salah satu rak. Yang kulihat, foto Rafael saat memenangi turnamen basket antar SMA. Mataku ini silih berganti melihat foto Rafael dan kamera SLR. Aku tersenyum, mau menangis pula.

El, terimakasih untuk kado sweet seventeen ini. Aku tahu dari Papa, ide kamera ini dari Rafael. Uangnya memang sebagian dari Papa, namun ada uang dari kamu juga--yang hasil kerja part-time kamu sebagai operator warnet. Kamu juga yang memaksa Papa untuk mengirimkan langsung ke Melbourne. Padahal kalau mau sabar, kalau kamu tidak meninggal dunia, aku lebih suka menerima kamera ini dari tanganmu langsung.

Oh iya, El, Mikha cantik, yah. Kamu benar tentang Mikha. Mikha memang perempuan yang paling tepat untuk aku. Kami punya banyak kesamaan. Aku dan Mikha itu sama-sama suka baca buku (khususnya buku-buku yang berat), penyuka lagu-lagu mellow, dan Disney lover. Aku dan Mikha sama-sama hobi membicarakan apapun. Baru kali pertama ini, aku berjumpa dengan perempuan yang sangat mengerti tiap alur pikiranku. Aku tak segan lagi dalam menyuarakan suara hatiku saat tengah bersama Mikha. Mikha sangat luar biasa.

El, ini beberapa foto Mikha yang kupotret. Aku beberapa kali mengambil gambar Mikha dengan bukaan atau diafragma yang berbeda-beda. Apapun teknik yang kuambil, bagaimanapun efek yang coba kuambil, hasilnya tetap sama, Mikha selalu tampil menawan. Inikah yang namanya cantik dari setiap sisi dan sudut, El?

Kamu bahagia, yah, di sana, El. Maafkan aku karena tak bisa menjadi saudara kembar yang baik. Kita berdua terlalu sering bertengkar. Hubungan kita tak harmonis. Aku lebih sering menyakitimu. Aku gagal menjadi adik kembar yang baik. Aku gagal pula menjadi cerminan dari kamu, El.

El, aku janji aku akan terus membahagiakan dan membanggakan Mikha. Aku tidak akan pernah membuat Mikha menangis.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.

Comments