ANOTHER FICTION: Apakah Ini Lamaran?

 .








Genre: Romance





Pernikahan FX Ponidi dan Devi Antoinette.








[GABRIEL KUSTANDI HUTAGALUNG]
Sebetulnya aku paling malas untuk menghadiri acara pernikahan. Mau aku lajang, mau aku sudah tidak melajang lagi, tetap saja malas. Baik itu pemberkatannya, atau itu sekadar resepsi, aku kurang suka. Aku lebih menyukai untuk memberikan ucapan saja kepada kedua mempelai.

Undangan terakhir yang aku datangi itu berasal dari pernikahan seorang saudara sepupu aku. Ada kakak sepupu aku yang menikah. Dia ini anak dari adik Mama. Karena antara keluargaku dengan keluarga Kak Marissa itu telah terjalin suatu hubungan yang sangat akrab, apalagi Kak Marissa juga amat baik padaku saat aku masih SD, ada sebuah keterpaksaan yang memaksaku menghadiri sebuah pernikahan. Itulah kali pertama aku melihat langsung sebuah acara pernikahan yang menurutku itu membosankan. Sampai sekarang, aku belum bisa merasakan di mana letak sebuah kesakralan sebuah acara pernikahan. Lagu mars pernikahan sudah didengungkan pun, aku masih tak kunjung bisa merasakan.

Kadang aku merasa mungkin saja karena aku menghadirinya hanya sebagai penonton saja. Mungkin itu bakal berbeda cerita jika aku yang menjadi mempelai atau pendetanya. Alhasil, aku hanya bisa merasakan kebosanan saja--yang membuatku ingin mengantuk. Selain itu, aku bingung saja kenapa banyak yang bergosip dalam sebuah acara pernikahan. Apa setiap acara pernikahan, harus seperti itu? Orang-orang berduyun-duyun, menyalami kedua mempelai, makan-makan, dan mengobrolkan apa saja hingga lepas kontrol. Apa seperti itu?

Aku memiliki dasar yang kuat kenapa mengeluarkan argumentasi seperti itu. Di acara pernikahan Kak Marisa, aku bertemu seorang ibu. Mungkin ibu ini merupakan kenalan Bu De Iin. Sebab banyak sekali yang hadir,  namun sedikit yang kukenal. Aku pun hanya bisa terbengong-bengong dan menahan kantuk. Berbeda dengan Rafael yang lebih banyak bicara, aku hanya sedikit sekali membuka mulut. Bahkan itu termasuk si ibu berbadan gemuk itu mengajakku berbicara hingga obrolannya menjadi begitu rasis. Si ibu gendut itu begitu melecehkan mempelai prianya yang berwajah Oriental. Mau kutampar saja, namun dia lebih tua dariku. Kejadian itu akhirnya membekas di dalam sanubariku, yang perlahan demi perlahan, mungkin karena itulah yang membuatku sering menghindari acara-acara pernikahan, walau katanya, ada doorprize.

Namun, kali ini berbeda. Mau tak mau, aku harus menghadiri acara pernikahan. Penyebabnya itu karena Mikha. Mikha yang memintaku untuk menemaninya ke sebuah acara pernikahan. Ada teman SMA-nya yang menikah muda (katanya menikah karena married by accident). Lalu, Mikha enggan datang sendirian saja. Pastinya teman-teman datang sambil membawa pasangan. Karena aku tak mau dianggap sebagai pacar yang tak bertanggung jawab, belum lagi takut nanti Mikha menganggapku menyelingkuhinya, aku terpaksa melanggar sumpahku sendiri untuk tidak menginjakan kaki di acara pernikahan.

Yang menikah itu namanya Catherine Wilbur. Kata Mikha, dia lumayan akrab dengan temannya yang berdarah Belanda tersebut. Sayang sekali, jika Mikha tak bisa menghadiri. Mau Mikha juga, dia bisa datang bersama aku sebagai pacarnya. Mikha bilang dirinya pernah berjanji akan membawa pasangan jika Catherine menikah kelak. Itu janji yang Mikha dan Catherine buat saat tengah mengobrol ngalor ngidul di saat jam istirahat.

"Catherine ini nyentrik juga orangnya, Bi." Mikha masih melanjutkan ceritanya sembari memakan makanannya. Isi piringnya itu nasi, ayam kecap, dan puyunghai.

"Nyentrik gimana?" tanyaku yang tengah menghabiskan beberapa potong buah-buahan.

"Salah satunya, dalam keluarganya, mereka suka pakai bahasa Inggris di rumahnya. Sampai pembantunya pun jadi ikut-ikutan menggunakan bahasa Inggris." celoteh Mikha dengan mulut penuh makanan.

"Itu sih nggak aneh. Biasa aja buatku." kataku terkekeh-kekeh, sembari mencegah jangan sampai tersedak.

Mikha cemberut. "Iya deh, tahu aku, yang udah sering tinggal di luar negeri."

Begitu mulutku bebas dari makanan, aku bisa puas untuk tertawa lebar. Itulah yang kusuka dari Mikha. Dia memiliki selera humor yang tak biasanya dari kebanyakan perempuan. Humor yang cerdas. Pun Mikha tak terlalu mudah tersinggung. Luar biasa pacarku yang amat cantik ini.





Mbak Woro, istri Mas Dani, seorang karyawan sekretariat fakultas Hukum Atmajaya.







[MIKHA]
"Ehem, ehem," Aku iseng saja menggodai Abi. Abi terkekeh-kekeh dalam merespon suara dehamanku tersebut. Sekali-dua kali dia mengedipkan mata. Yang seperti itulah yang membuatku merasa hubunganku dan Abi amat dekat. Pikiran kami berdua seperti menjadi satu saja. Dia bisa tahu kode-kode yang kulontarkan. Aku pun sama, bisa tahu segala kode dari Abi.

Abi beringsut padaku. Dia nyengir, lalu mengacungkan buket bunga mawar itu padaku. Bisiknya, "Katanya belum siap buat nikah!?"

"Emang belum siap, Bi. Tapi, pas ngelihat kamu yang terima buket bunga itu, tahu nggak kamu? Jantungku jadi berdebar-debar banget. Aku kayak lagi kamu sodorin cincin aja." jawabku, yang langsung merenggut buket bunga itu dari Abi.

Abi sigap mengambil buket bunga itu dari aku. "Oh, berarti kalau sekarang aku ajak ke Catatan Sipil, kamu mau nih?"

"Gak gitu juga." Aku sok merajuk. Padahal sebetulnya, aku mau-mau saja untuk dibawa ke Catatan Sipil. Bagaimanapun, dilamar merupakan salah satu impian manis setiap perempuan.

"Maunya apa, sih?" ujar Abi yang sekonyong-konyong wajahnya begitu dekat sekali dengan wajahku. Aku makin berdebar-debar. Apa sebentar lagi bibur aku dan bibirnya akan saling bersentuhan?

Giliran aku yang terkekeh. "Ah, udah, ah. Langsung pulang aja. Aku mau lanjutin belajar buat UTS. Udah jam sembilan lewat lima belas, nih." alibiku sambil melirik jam tangan berwarna kuning keemasan. Jam ini bukan berasal dari emas sungguhan; ini hanya barang imitasi.

"Dasar!" Abi terkekeh. Ia langsung bergegas masuk ke dalam Jazz kepunyaanku yang amat bersejarah. Aku tak pernah lupa kejadian tersebut. Itu saat Jazz ini ditarik oleh Innova Abi. Aku suka tertawa sendiri tiap mengingatnya. Bagiku, kejadian saat itu seperti sebuah bunyi lonceng dari Tuhan bahwa memang Abi orangnya.

Begitu aku masuk dan duduk persis di sampingnya, Abi langsung menoleh ke arahku. Sontak ia menyodorkan buket bunga mawar merah itu padaku. Mataku dan matanya saling bertabrakan. Kami lumayan bersitatap. Ya Tuhan, mau terjadi momen apakah ini? Bi, kumohon jangan sekarang, lain kali saja. Aku belum benar-benar mempersiapkannya. 

"Mikha, kamu tahu, kan, mitosnya?" kata Abi dengan suara yang cukup lembut dan menenangkan. "Katanya, kalau kita menerima buket bunga, cepat atau lambat kita akan menikah. Aku memang belum tahu kapan saatnya itu akan tiba. Tapi, kalau misalnya minggu depan aku harus segera menikah, aku maunya sama kamu. I love you so much, Ni Made Ayu Mikha Aurelia!" 

Astaga, ini namanya apa? Kamu tengah melamarku sekarang? Akan tetapi, aku belum melihat kamu memasangkan cincin di jari manisku. Kamu hanya menyorongkan buket bunga mawar merah kepadaku. Yang seperti ini, apakah sudah bisa disebut sebagai sebuah lamaran? 

Bibirku sangat kelu. Aku sulit bernapas hingga tak bisa berkata-kata. Bi, kalau mau melamarku, bukankah sebaiknya kamu membawaku langsung ke pantai? Dari gedung resepsi ini ke Ancol tak terlalu jauh. Meskipun aku ingin sekali kamu lamar di pelabuhan Tanjung Priok. Jangan tanyakan kenapa, itu hanya sebuah mimpiku saat kanak-kanak. Sejak kecil, aku merasa dilamar di sebuah pelabuhan yang penuh kapal tongkang, itu akan menjadi sangat romantis sekali.


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri.

Kedua gambar ilustrasi berasal dari akun media sosial dua orang teman. Sengaja kujadikan sebagai gambar ilustrasi dalam rangka menantang diriku sendiri agar bisa menuliskan sebuah kisah fiksi hanya dengan melihat dua gambar ilustrasi itu. Ternyata aku bisa juga. Segala emosi yang kudapatkan setelah melihat kedua gambar itu langsung kutuangkan ke dalam bentuk cerita fiksi. Ide ini kudapatkan sejak melihat status Facebook seorang penulis. Thank to him! 😊

Comments