Seminggu Nuel Lubis Sarapan Pagi dengan Bubur









Hari senin
Karena ada SMS penting yang harus dibalas, aku terpaksa keluar rumah di jam-jam seperti ini. Pagi sekali. Jam enam sepuluh aku sudah melanglang buana di luar komplek dengan sepeda Wim Cycle. Semuanya kulakukan demi menemukan satu konter pulsa yang sudah buka. Dulu ada satu tempat yang berjualan pulsa di jam sepagi begini. Saat kudatangi barusan, tempatnya masih tutup. Aku kesal, aku lapar. Di seberang jalan, ada yang berjualan bubur bayi sehat. DEP SEDEP-kah? Akhir-akhir ini penganan tersebut cukup populer di masyarakat. Yang beli kebanyakan orang dewasa, yang tak ada sangkut pautnya dengan bayi. Mungkin cukup DEP SEDEP. Kapan-kapan aku harus mencobai bubur bayi sehat itu. Sekarang ini aku harus berpuas diri dengan sepiring nasi uduk. 
















Hari selasa
Aku lagi malas untuk makan bubur kacang hijau di tempat. Belum lagi aku harus buru-buru pergi juga. Tengah ditunggui teman juga. Bungkus saja, ah. Makannya nanti. Aku bisa memakannya dengan cara seperti makan es mambo. Atau, nanti pinjam piring dan sendok dari seseorang.





















 Hari rabu
"Bang, buburnya saja, nggak usah pake ayam sama yang lainnya." Mendadak aku jadi teringat seseorang saat tengah memesan semangkok bubur ayam. Bukan semangkok, sih, tapi se-styrofoam. Haha. Oh iya, aku belum pernah memesan bubur ayam yang seperti temanku itu celetukkan. Kalau bubur polos, sih, aku sering memakannya saat masih kanak-kanak dulu. Bubur polos yang dilumeri kecap manis dan sebutir telur rebus. DEP SEDEP! Masa kecil yang sangat bahagia!



















Hari kamis
Beli-tidak-beli-tidak. Aku sangat bimbang antara memesan bubur ayam itu atau tidak. Masalahnya aku sudah sarapan pagi dengan kue donat kacang. Tak terlalu mengenyangkan perut, memang. Apalagi aku tengah menjalani diet juga. Haruskah aku memesan bubur ayam, yang lalu bisa merusak program diet dan membobol dompetku? Tapi, air liur ini semakin menetes-netes saja. Perutku juga mendadak bergemelutuk lagi pertanda aku mulai lapar lagi. Beli tidak, yah? 




















Hari jumat
Akhir-akhir ini makin menjamur tukang bubur ayam di daerahku. Hampir di setiap ruas jalan ada tukang bubur ayam. Aku jadi bingung sendiri untuk memesan semangkok dari tukang bubur ayam yang mana. Pokoknya aku harus sarapan pagi dengan bubur ayam. Kemarin, kan, terpaksa kubatalkan (karena aku lebih memprioritaskan program diet aku).




















Hari sabtu
Hari ini pun aku kembali sarapan dengan bubur ayam. Pakai sate telur puyuh dan sate usus pula. DEP SEDEP! Mahal sedikit, tapi tak apa. Bubur ayam yang seperti inilah yang menjadi favoritku. Bubur ayam yang komplet. Ada suwiran ayam, kacang, seledri, cairan bumbunya yang bikin ketagihan, ditambah lagi, tiga sate (usus, ati ampela, telur puyuh). Nikmat mana yang harus kudustakan, ya Allah?!



















Hari minggu
Sehabis mengikuti ibadah minggu di GKI Kota Moderen, aku sempatkan diri untuk mampir dulu di Rumah Makan Cahaya Timur. Konon, di sana, tiap pagi mereka menjual menu sarapan pagi ketupat sayur dan bubur kacang hijau. Nah, yang menjadi daya tarik aku itu sebetulnya bubur kacang hijaunya (atau yang akrab disebut sebagai burjo). Ternyata memang sangat DEP SEDEP, sesuai dengan yang digosipkan. Harganya Rp 8000. Cukup mahal, namun sebanding dengan porsi dan rasanya.








Comments