Seminggu Nuel Lubis Makan Siomay Melulu
















Hari senin
Inilah saatnya aku  mencoba sambal bawang dari Dapur Uti Wien ke semangkok siomay yang aku baru saja beli dari tukang siomay barusan. Seberapa DEP SEDEP-kah sambalnya kalau dicocorkan ke siomay. Dan, ternyata sambalnya sangat luar biasa. Sambalnya membuat rasa siomay ini jadi berlipat-lipat ganda. Terimakasih, Dapur Uti Wien! 

Hari selasa
Wah, sudah lama sekali aku tak makan siomay dengan sebutir telur rebus di dalamnya. Untungnya aku menemukan tukang siomay yang keren ini. Selain ada telur rebus, di dalam pancinya, ternyata ada pangsit juga. Ada telur, pangsit, serta siomay-nya yang besar-besar, tak ada kelezatan di mana pun yang bisa menyamai kelezatan siomay yang tengah kucicipi ini. Siomay ini mengingatkanku dengan siomay yang pernah kumakan, yang dijual di daerah Ciledug.

Hari rabu
Oh, jadi ini yang namanya dimsum?! Aku baru kali pertama ini mencicipi dimsum soalnya. Ternyata DEP SEDEP juga rasanya. Rasa yang sebanding dengan harganya, yang aku harus mengeluarkan kocek hingga Rp 13.000. Mendadak aku teringat dengan pengalaman saat kuliah dulu, yang mana saat aku mengunjungi Ambassador Plaza, aku bertemu siomay dengan harga per potongnya itu Rp 20.000. Aku paham kenapa orang rela keluar uang banyak demi sebuah rasa. 

Hari kamis
Aku memang jarang sekali membeli siomay yang isinya beragam. Maksudku, ada daging siomay, tahu putih/rebus, kol, kentang, hingga telur dan pangsit. Biasanya isi sepiring siomay aku lebih sering seragam. Dan, aku sangat menyukai sepiring siomay yang seluruhnya berisi daging siomay. Apalagi, jika daging siomay-nya tak dipotong-potong dulu, wow!

Hari jumat
Sekarang aku memakan siomay tanpa daging siomay dan tahu putih/rebus. Hanya ada kentang, kol, dan tahu goreng. Ternyata masih tetap enak, kok. Dulu aku ingat aku sangat fanatik dengan kol dalam sepiring siomay. Aku bahkan pernah memesan siomay dengan isi seluruhnya itu kol yang hanya dilumuri kecap manis. Masih tetap DEP SEDEP, kok.

Hari sabtu
Aku tengah ditinggal pergi. Tak ada siapa-siapa selain aku. Inilah makan siang aku: sepiring siomay--yang juga sarapan pagi aku. Saking laparnya, aku memesan yang porsinya seharga Rp 20.000 (yang dapat dua puluh buah). Isinya tahu putih semua. Mari makan!

Hari minggu
Wah, aku pasti penggila siomay. Sudah semingguan ini mulut ini sering mengunyah siomay. Itu juga sepertinya masih ingin lagi dan lagi. I'm very addicted to shumay. Shumay, I love you so much forever and ever. Don't leave me alone, Shumay. Haha. Sebegitunya aku dengan kuliner bernama siomay, yang katanya berasal dari RRC ini.



* Butuh sambal bawang yang langsung jadi, ke Dapur Uti Wien saja >>  081223008031 !



Comments