Aku & Majalah Bobo
















Krabbel itu Coreng. Boemsi itu Upik. Tsjoek-Tsjoek itu Tut-Tut. Tante Pieta Secuur itu Bibi Titi Teliti. Oom Slokop itu Paman Gembul. Tante Dieur Dicht itu Bibi Tutup Pintu. 

Lalu, masih ada lagi. Simmie Suiker dan Rong-Rong, tahu, kan? Itu Bona (gajah berwarna merah muda) dan Rong-Rong (kucing). Pukkie dan Wanda itu Oki dan Nirmala. Oom Stuntel, Hintje, dan Slap; yang merupakan Paman Kikuk, Husin, dan anjingnya, Asta. Douwe Dabbert itu Pak Janggut.

Well, ternyata majalah Bobo itu majalah asing juga. Buatan komikus Inggris, yang didatangkan ke Indonesia melalui Belanda. Lisensi majalah Bobo yang eksis di Indonesia itu diambil dari Belanda, yang kemudian diterjemahkan, dan perlahan-lahan, mulai dikerjakan sendiri. 

Menurut @potretlawas , majalah Bobo masih dijual di Belanda. Oplahnya sekitar 30.000-an kopi. Hanya saja, pembacanya lebih diarahkan ke anak usia 3-6 tahun. Isinya lebih disesuaikan untuk anak-anak usia tersebut. Di dalamnya ada lembar mewarnai, puzzle, pengenalan huruf, dll. Ini situs Bobo versi Belanda: www.bobo.nl.















Aku sendiri sangat merasakan sesuatu ke majalah Bobo. Selain majalah ini yang pernah menghiasi masa kecil aku, aku pernah coba mengirimkan naskah cerita ke sana saat aku masih kelas 2-3 SD. Karena sudah lampau sekali, naskahnya--yang kuketik dengan WordStar--tak ada lagi bukti fisiknya. Omong-omong, aku membuat cerita bertema kerajaan, yang begitu selesai, aku mengirimkannya melalui Papi. Tak dimuat, sih, namun sangat membekas di hatiku. Mengirimkannya saja sudah senang banget, apalagi kalau dimuat. Haha.

Terakhir aku melihat majalah Bobo itu di tahun 2016. Harganya sudah di atas Rp 10.000. Waduh, padahal di era 90-an, harganya sempat Rp 3500, loh.








Comments