Selama Seminggu Nuel Lubis Membaca Novel
















Hari senin
Semenjak Papi memberikannya padaku, aku belum membaca sepenuhnya novel berbahasa Batak. Alasannya: aku tak mengerti apa yang tertulis di "Manigat Sihol" tersebut. Walau Batak merupakan bahasa leluhurku, aku belum begitu menguasainya. Aduh, malunya aku!

Hari selasa
Sembari menunggu ojek online datang, aku iseng membaca novel aku sendiri. Rasanya sangat puas sekali saat aku berhasil menyelesaikan "Kamisama no Cempe Kanefe". Lebih puas--dan membanggakan lagi, aku bisa menerbitkannya. Aku senang sekali melihat ISBN di kaver belakangnya. 

Hari rabu
Maafkan aku, Teman. Aku membeli "CLBK: Cinta, Luka, Bersemi Kembali" ini memang di tahun 2015 yang lalu. Namun, novel temanku yang bertubuh tambun itu baru selesai kubaca sekarang ini. Novelnya ringan. Khas teenlit. Sepertinya aku mengerti kenapa novel seperti ini disebutnya teenlit. Itu seperti dunia remaja juga, kan. Yang ringan, yang tanpa beban. Hmmm.

Hari kamis
Sembari menikmati sarapan pagi, aku membaca "L'amour C'est Toi" karya Fataya Azzahra ini. Judulnya berbahasa Perancis, namun sangat bernuansa Indonesia. Ceritanya unik. Sebelum jadian, kedua tokoh utamanya itu sebelumnya berpacaran dengan orang lain. Yang perempuan, dia harus putus cinta karena pasangannya itu selingkuh. Sementara yang laki-lakinya itu putus cinta karena LDR. Sakit hati ketemu sakit hati, ceritanya. Ibarat negatif bertemu negatif, lalu menjadi positif. Nice story

Hari jumat
Lagi dan lagi aku menemukan novel yang unik. "In Paris Where I Meet You" itu sungguh novel yang tak biasanya. Yang menuliskannya itu orang Indonesia, namun dirinya sangat paham akan kultur dan bahasa Perancis sekaligus Korea. Novelnya sangat luar biasa. Berani mengangkat isu-isu sensitif. Novel ini malah membuatku berpikir ulang mengenai cinta, pernikahan, dan perceraian. Juga, kadang aku merasa perceraian seringkali terjadi karena kecerobohan salah satu pihak. Yah, itu seperti tersirat dalam novel tersebut.

Hari sabtu
Haha. Ada yang seperti inikah? Maksudku, novelnya jadi sekumal ini karena tanpa sengaja ketumpahan makanan dan minuman. "The Chocolate Heart" sungguh novel yang berat. Ini novel romance yang tak mudah dicerna. Percintaan khas kaum dewasa muda. Pendekatan Luc yang malu-malu terhadap Summer yang bertingkah bagaikan tuan putri. Padahal, keduanya saling menyukai, loh. Boleh aku bilang, yang seperti ini sering terjadi di mana-mana. 

Hari minggu
Di tengah waktu senggangku, juga sembari menunggu mataku lelah, aku membaca kembali serial Goosebumps yang satu ini. Judulnya: "Kamar Hantu". Novelnya bercerita tentang Matt Amsterdam yang harus mengalami kejadian-kejadian aneh karena kengototannya untuk pindah kamar. Yah, Matt memang tak bisa disalahkan, sih. Memiliki dua saudara kandung seperti Greg dan Pam, itu memang menyebalkan!







Comments